Banyak orang tua memberikan perhatian besar pada persiapan hari pernikahan putra/putrinya. Pelaminan harus indah, undangan harus elegan, seragam harus serasi, makanan harus premium, dan seluruh rangkaian acara harus berjalan sempurna. Namun, ada satu hal yang justru sering luput dipersiapkan yaitu : bekal ilmu untuk menjalani kehidupan setelah akad.
Menikah dan Berumahtangga
Menikah hanya butuh kedua mempelai, wali nikah dan ijab qobul. Adalah opsional untuk acara-acara yang menyertainya, baik sebelum maupun hari H.
Berumahtangga adalah ibadah terpanjang setelah menikah, seperti kita akan melakukan perjalanan panjang fan jauh pasti banyak bekal dan ilmu penting yang harus dioersiapkan dan diketahui.
Yanmg paling dibutuhkan calon pengantin bukan hanya pesta yang meriah, melainkan pemahaman tentang psikologi pernikahan, fiqih pernikahan, hukum perkawinan, psikologi perempuan, kesehatan reproduksi, parenting, visi dan peran, kecerdasan finansial, kedewasaan saat konflik, batasan dengan keluarga, hingga kemampuan menghadapi fase-fase awal rumah tangga yang penuh ujian.
Pengalaman saya, masa 1–5 tahun pertama pernikahan sering menjadi fase paling rentan. Di masa inilah dua pribadi belajar menyatukan ego, kebiasaan, cara berpikir, dan harapan. Tanpa bekal ilmu dan kesiapan mental, konflik kecil pun bisa berkembang menjadi masalah besar.
Ironisnya, masih banyak yang menjadikan kesiapan menikah hanya diukur dengan dua pertanyaan sederhana.
1. "Kamu cinta sama dia?"
"Iya."
2. "Sudah kerja?"
"Sudah."
"Kalau begitu, nikah saja.".
Cara berpikir seperti ini patut menjadi renungan. Sebab, cinta memang menjadi awal yang indah, tetapi tidak cukup untuk menjaga sebuah rumah tangga tetap kokoh. Pernikahan membutuhkan ilmu, kesabaran, tanggung jawab, dan komitmen yang terus dirawat setiap hari.
Investasi terbaik adalah memilih pasangan hidup. Semua investasi dihidupmu bisa saja tutup, bisa di cut loss, kecuali satu pasangan yang baik. Kalau salah entry di market ruginya cuma di angka. Tapi kalau salah entry di hidup, itu floating loss nya seumur hidup.
Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga membangun ibadah yang panjang menuju ridha Allah. Karena itu, jangan hanya mempersiapkan hari bahagia yamg satu hari, tetapi persiapkan juga kemampuan untuk mempertahankan kebahagiaan itu. Sebab, rumah tangga yang sakinah tidak lahir dari megahnya resepsi, melainkan dari hati yang dibimbing ilmu dan dikuatkan iman.
Sakinah adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian hati apapun kondisinya, baik itu sedang diatas angin, maupun sedang dalam kondisi di bawah. Sakinah juga ketenangan batin: Perasaan aman dan bebas dari rasa takut atau gelisah, merujuk pada Al-Qur'an, salah satunya dalam Surat Ar-Rum ayat 21.
Semoga Allah memudahkan mendampingi putra putri kita setiap langkah menuju pernikahan yang penuh keberkahan dalam ikatan suci Mitsaqqan Ghalidza, menjadikan ilmu sebagai fondasi, iman sebagai penguat, dan kasih sayang sebagai perekat hingga akhir hayat, Sakinah, Mawaddah, Warahmah dan Berkah Aamiin.
0 comments :
Post a Comment