Ada masa ketika kita terlalu sibuk mendengar dunia, sampai lupa bagaimana rasanya mendengar diri sendiri.
- Kita sibuk memenuhi harapan keluarga.
- Mengejar standar yang dibuat lingkungan.
- Mengikuti apa yang sedang ramai.
- Bahkan memilih sesuatu hanya karena ingin terlihat baik di mata orang lain.
Pelan-pelan, keputusan hidup pun berubah.
Bukan lagi tentang apa yang benar-benar kita inginkan, tetapi tentang bagaimana agar tidak dianggap salah.
Kita mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kita minta.
Mempertahankan sesuatu yang diam-diam sudah melelahkan.
Menjalani kehidupan yang tampak baik dari luar, tetapi terasa asing ketika kita sendiri yang menjalaninya.
Sampai suatu hari, Allah memberi kita ruang untuk berhenti.
- Tidak ada keramaian.
- Tidak ada tuntutan.
- Hanya kita dan hati yang selama ini mungkin terlalu sering diabaikan.
Lalu muncul satu pertanyaan yang sederhana, tetapi dalam:
"Ini sebenarnya hidup yang aku pilih, atau hidup yang terlalu lama aku ikuti?"
Mungkin tidak semua suara harus kita dengarkan.
Sebab ada kalanya, untuk menemukan arah, kita justru perlu berhenti sejenak dari suara dunia dan kembali mendengarkan hati—lalu bertanya kepada Allah, ke mana sebenarnya langkah ini harus diarahkan.
Tidak semua yang ramai harus diikuti. Tidak semua yang dipuji manusia adalah yang terbaik di hadapan Allah.
Ahad malam Senin.
0 comments :
Post a Comment