Kisah Malin Kundang bukan sekadar tentamg seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Di balik cerita itu, ada pelajaran yang juga layak kita renugkan: jangan sampai hati terlalu bergantung kepada makhluk, sekalipun itu adalah anak yang paling kita cintai. Karena ketika sandaran utama bukan lagi kepada Allah, rasa kecewa bisa berubah menjadi luka yang melahirkan amarah.
Seorang anak memang wajib berbakti kepada orang tuanya. Namun, sebagai orang tua, kita juga diuji untuk menjaga kesabaran, menahan amarah, dan merawat lisan agar tidak berubah menjadi doa yang mencelakakan orang yang kita cintai. Andai kesabaran tetap dijaga, tentu kutukan itu tak akan pernah terucap.
Setiap kita memiliki ujian yang berbeda. Ada yang diuji sebagai anak agar tetap berbakti, ada pula yamg diuji sebagai orang tua agar tetap sabar. Maka, jangan biarkan emosi menguasai hati, karena lisan sering kali hanya mengucapkan apa yang dipenuhi oleh hati.
Mari belajar menggantungkan harapan hanya kepada Allah, menjaga hati dari kecewa yang berlebihan, dan menjaga lisan dari kata-kata yang kelak kita sesali.
Sebab, hati yang bersandar kepada Allah akan lebih mudah memaafkan, dan lisan yang dijaga akan lebih banyak melahirkan doa daripada murka.
Ingat perjalanan Imam Besar Masjidil Haram.
Menabur tanah: Saat kecil, Syekh Sudais pernah menaburkan pasir ke makanan tamu yang disiapkan ibunya.
Marah berbuah doa: Sang ibu marah lalu mendoakannya, "Idzhab, ja'alaka imaaman lilharamain" (Pergi kamu, biar kamu jadi imam di dua tanah suci).
Kabul: Doa tersebut menjadi kenyataan saat ia dewasa memimpin salat di Makkah.
0 comments :
Post a Comment