Bismillahirrahmanirrahim
Menikah adalah ibadah paling lama, selamanya, oleh karena itu niatkan menikah karena ingin beribadah kepada Allah SWT, ga asal cepat atau asal dapat, atau sudah telat. Dalam pasang surut pernikahan tidak selamanya happy terus, kita ga tau ujian apa yang akan kita hadapi.
Yang sudah direncanakan matang saja belum tentu berjalan mulus, apalagi yang tanpa perencanaan. Setidaknya perencanaan terutama diri pribadi, membuat kita bisa mengatur, mempersiapkan, menghadapi ujian. Sisanya Allah yang mengatur. Kita jadi punya GPS yang membawa kita ke koordinat awal (tujuan awal) jika kita melenceng dari track tujuan.
Tetaplah berbaik sangka pada Allah, serahkanlah semuanya pada Allah. Percayalah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita di waktu yang tepat. Sebab, seindah-indahnya rencana yang telah kita rancang, rencana Allah adalah yang terbaik untuk kita jalankan.
Kalian belajarlah ilmu fiqih berkeluarga. Mengetahui hak dan kewajiban masing-masing, belajar dari literasi syari.
Kunci sebuah hubungan adalah komunikasi, komitmen, dan menyatukan visi misi, karena hal tersebut menjadi kunci dari hubungan yang awet.
Ketika kalian menikah tidak serta merta komunikasi berjalan dengan lancar, butuh proses penyesuaian-penyesuaian dan proses, dan itu bisa diawali sejak sebelum menikah.
Hal-hal berikut ini adalah yang sangat penting untuk diomongkan, mendingan pahit di depan daripada pahit setelah kejadian, bicarakan sebelum kalian memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini jangan tanyakan sekaligus, tapi sampaikan satu persatu di beberapa kesempatan, agar pasangan kita tidak pusing atau bingung dengan banyaknya berondongan pertanyaan.
1. KEUANGAN
Percayalah, menikah itu membuka pintu rezeki, rezeki Allah yang mengatur, benar, dan membicarakan hal ini bukan lantas kamubdi cap matre, tapi keuangan adalah penting dibicarakan, karena harus punya perencanaan matang.
Tapi jika masalah keuangan ini dianggap tabu atau takut menyinggung perasaan pasangan, dan takut dibilang matre. Ini bukan tentang matre atau tidak, ini adalah tentang level Money Quotient pasanganmu.
Yang kalian bicarakan apa saja ?
1. Siapa yang akan mengelola keuangan, suami atau istri?
2. Apakah kalian masing2 punya utang?, maukah ber azam setelah menikah kalian menghindari riba?
3. Keberatan ga kalau tiap bulan kalian kasih ke ortu atau saudara yang membutuhkan?
4. Jika kalian punya penghasilan masing-masing, apakah mau di gabung? Atau dipisah pengelolaannya?
5. Prioritas pengeluaran apa saja?
6. Kalau masing2 sudah punya rumah, mau menempati rumah siapa?
7. Kalau belum punya rumah, mau belum atau sewa / kontrak rumah?
8. Gimana kalau punya rumah dengan cara mencicil pemilikan rumah secara Syariah tanpa riba?
9. Pengeluaran wajib tiap bulan apa saja?
10. Uang yang kalian punya nantinya diapain saja? Di tabung, investasi syariah?, sedekah 2,5 %, zakat, infaq, donasi.
10. Suami bertanggungjawab menafkahi keluarganya. Nafkah bukan cuma lahir, nafkah bathin juga.
2. HIDUP SETELAH MENIKAH
Ini penting untuk kesehatan rumahtangga
Mau hidup di mana, rumah mertua?, kontrak, atau cicil syariah sendiri?
Abi sarankan untuk Kontrak atau Cicil Rumah syariah sendiri, walaupun kecil atau sederhana dulu, tapi percayalah, lebih tentram kalian berdua mengelola keluarga sendiri, tanpa campur tangan orang tua, mertua atau orang lain.
3. KARIR
Setelah menikah nanti karir juga harus kalian bicarakan.
1. Setelah menikah nanti yang bekerja Suami saja atau Istri jadi Ibu Rumah Tangga
2. Kalau istri ikut bekerja, pas punya anak nanti tetap bekerja atau resign?
3. Apa mimpi kalian 5 tahun ke depan?
4. Apa yang kalian lakukan dengan karir? Apakah menikah nanti karir jadi masalah? LDR misalnya?
5. Kalau Istri bekerja dari rumah misalkan menjalankan Online Shop, konten kreator atau Remote Working, dengan tanpa melupakan kewajiban sebagai istri, ibu dari anak-anak, dan ibu rumah tangga, apakah boleh?
6. Kemungkinan kuliah lagi bagaimana?
4. KESEHATAN
Pernah punya gejala atau sakit apa? Ini pertanyaan sensitif tapi krusial dan penting. Kalian perlu tahu, pasanganmu pernah sakit apa?, sebahaya apa itu?, kemudian jika sudah menikah nanti kalian berdua mengatasinya bagaimana jika penyakit itu muncul lagi?
5. PUNYA ANAK DAN MEMBESARKAN ANAK
1. Kalau mau menunda punya anak berapa lama?
2. Bagaimana kalau pihak istri mengandung hingga melahirkan?
3. Kalau kalian berdua bekerja, yang urus anak nanti siapa?
2. Pihak istri nanti yang pasti akan mengurus semua di rumah, bagaimana peran suami berkerjasama dalam hal ini nanti, apakah mau membantu pekerjaan istri sepulang kerja? Seperti mencuci?, menimang bayi?, memandikan?, menggantikan popok ketika pup?
3. Bagaimana pendidikan internalnya, pola asuh anak-anak nantinya? Bagaimana peran ibu membetuk psikologis, emosi dan spiritual anak? Dan apa saja peran bapak dalam pendidikan internal keluarga?
4. Nanti disekolah dimana? Atau di pesantren mana? Ataukah home schooling?
5. Mau gantian jaga anak? Misal pagi ketika suami bekerja anak dengan istri sampai sore. Sementara Istri memasak anak diasuh suami, Maghrib asuh barengan, isya diasuh suami, sementara istri mengerjakan pekerjaan, me time.
Jika tidak sesuai ekapektasi, misalkan ada jadwal suami lembur sehingga tidak biaa mengasuh anak, sehingga membuat istri badmood. Maka sampaikan saja, dengan terbuka jangan main kode-kode, jika ada yang ga suka, langsung bicarakan saat itu juga, jangan nunggu besok, usahakan masalah selesai sebelum kalian tidur. Suami juga, komunikatif, responsif, turunkan tensi, tanggapi keluhan istri, urai dan selesaikan satu per satu. Kalian melihat level Emotional Quotient pasangan kalian.
6. KONTROL KONFLIK
1. Bicarakan kepada pasangan, bagaimana masing-masing kalian ketika menghadapi suatu masalah yang datang. Jangan sampai kalian dapati setelah menikah pasangan kalian yang suka kasar ketika menyelesaikan masalah, atau ga bisa kalau punya masalah inginnya lurus-lurus saja, atau lapor ke orang tua kalau punya masalah, atau lari ke teman tongkrongan?
2. Bicarkan bagaimana cara mengatasi ketika suami sedang marah? atau istri yang sedang marah?
3. Bagaimana kalian mengatasi situasi yamg sedang tegang atau genting?
4. Masing-masing kalian ketika muncul masalah apakah type diberi jeda untuk berfikir? Atau lebih suka diselesaikan langsung?
5. Maukah antara kalian saling mengerti, dan memahami satu dengan yang lainnya?
6. Maukah diantara kalian menerima kekurangan masing-masing?
Dengan tau bagaimana pasangan kalian mengontrol emosinya, dan kontrok emosi pasangan, itu menjadi point penting, untuk kelanggengan pernikahan kalian. Dan mengetahui level Physical Quotient pasanganmu.
7. URUSAN RUMAH TANGGA
Pembagian pekerjaan rumah tangga juga pemting, apalagi tidak ada yang membantu. Bicarakan siapa yang mencuci baju, seterika, mencuci peralatan makan, bersihkan rumah, menyapu, masak atau gofood? Misal kalau ga suka cuci piring ya masak atau yang pesan gofood. Kalau ga sempat cuci apakah bisa laundry?
Karena bisa bikin badmood jika tidak dibicarakan secara terbuka.
8. ME TIME
1. Setelah menikah, masihkah main / nongkrong / hangout sama teman-teman?
2. Butuh waktu buat diri sendiri ga? Kegiatan apa itu?
3. Sukanya ngapain kalau lagi me time? Aku harus ngapain biar bisa menghargai waktu privasi kamu?
Karena kalau ga diomongin suka kecele, ternyata masih suka nongkrong bareng temen atau ngemall bareng geng, padahal baru punya anak.
Being a parent is a full time job 24/7, ga peduli masih capek, ga bisa me time seenaknya. Kecuali kalau dalam asuhan babysitter atau punya asisten rumahtangga.
9. SPIRITUAL DALAM KELUARGA
Ke majelis taklim mana kalian akan menambah ilmu agama?, itu penting juga dibicarakan. Keluarga dengan fondasi agama (Spritual Quotient) diperlukan karena visi misi berkeluarga adalah sampai syurga.
10. PERBEDAAN NAFKAH ISTRI DAN UANG BELANJA ISTRI
Sudah menjadi kewajiban seorang suami yang harus memberi nafkah kepada istrinya berupa uang belanja dan nafkah khusus untuk istri atau uang jajan. Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam bersabda: “Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).” (HR. Muslim: 2137)
Dalam hadis ini disebutkan dua nafkah yang wajib diberikan seorang suami kepada istrinya, yaitu rizki (uang belanja) dan pakaian (nafkah istri). Namun, Islam juga tidak memberatkan kepada para lelaki untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Para suami memang wajib memberikan nafkah pada istrinya, namun tetap sesuai dengan kemampuannya.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maruf, Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS.al-Baqarah: 233)
Para istri juga harus memiliki sifat qanaah dengan cara bersyukur untuk setiap rizki yang diberikan suaminya dan mengaturnya sebaik mungkin, seperti yang dinasihatkan Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam saat Hindun binti Itbah mengadu pada Rasul tentang suaminya yang kikir. Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam bersabda: “Ambil-lah nafkah yang cukup untukmu dan anak- anakmu dengan cara yang wajar.” (HR.Bukhori: 4945)
Istri adalah Anak Orang yang telah engkau Ambil dan Wajib Dijaga. Orang tuanya telah mengikhlaskan dan memberi amanah kepadamu. Dia dibesarkan oleh orangtuanya dan setelah menikah Ia meninggalkan orang tuanya demi ikut denganmu, Bahkan setelah Engkau ambilpun Ia Wajib taat kepadamu. Istri adalah Amanah, yang saat AKAD dulu engkau telah mengucapkan Janji di hadapan semua orang untuk memuliakannya, mencintainya dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Maka janglah sekali engkau menyakitinya.
"Dari Nabi shallallahu ' alaihi wasallam bersabda : sebaik baiknya kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (istrinya)." (H.R Ibnu Majah No.1978)
0 comments :
Post a Comment