Mengetahui aib seseorang bukanlah perkara kecil. Entah kita mengetahuinya secara tidak sengaja, atau justru dengan usaha, tenaga, dan perhatian yang besar, tetap saja pengetahuan itu membawa tanggung jawab moral yang sangat berat.
Sebab, aib bukanlah sesuatu yang layak dijadikan bahan pembicaraan, apalagi dijadikan tontonan. Ketika kita tahu kelemahan, kekurangan, atau kesalahan orang lain, itu bukan berarti kita bebas untuk membukanya kepada siapa pun. Justru di situlah ujian akhlak kita dimulai: apakah kita mampu menjaga, menutup, dan tidak menyebarkannya?
Allah سبحانه وتعالى saja, dengan kasih sayang-Nya yang luas, menutupi banyak aib hamba-hamba-Nya. Padahal Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, lahir maupun batin, tampak maupun tersembunyi. Namun Allah tetap memberi kesempatan kepada manusia untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali kepada-Nya tanpa dipermalukan di hadapan makhluk lain.
Lalu, bagaimana mungkin seorang hamba yang penuh kekurangan justru sibuk membeberkan aib sesama manusia?
Di sinilah letak rendahnya akhlak ketika seseorang merasa dirinya lebih baik, lalu menggunjingkan keburukan orang lain. Padahal bisa jadi, aib yang dibicarakan itu lebih dulu menimpa dirinya dalam bentuk yang berbeda. Hari ini ia membuka rahasia orang lain, besok bisa jadi rahasianya sendiri yang dibuka oleh orang lain. Apa yang kita tanam, sering kali itulah yang kita tuai.
Menjaga aib orang lain bukan berarti membenarkan kesalahannya. Bukan pula berarti menutup-nutupi kebatilan jika memang perlu ditegakkan kebenaran dengan cara yang bijak. Tetapi antara menegakkan kebenaran dan menyebarkan aib, itu dua hal yang sangat berbeda. Kebenaran membawa perbaikan, sedangkan membuka aib sering kali hanya membawa malu, dendam, dan rusaknya hubungan.
Maka, ketika kita mengetahui keburukan seseorang, tanyakan pada diri sendiri: apakah membicarakannya akan memperbaiki keadaan, atau hanya menambah dosa? Apakah dengan menyebarkannya kita sedang membantu, atau justru menghancurkan kehormatan saudara sendiri?
Orang yang bijak tidak terpancing untuk menyebarkan keburukan orang lain. Ia memilih diam ketika diam lebih mulia. Ia memilih menasihati secara tersembunyi bila memang perlu. Ia paham bahwa menjaga kehormatan sesama manusia adalah bagian dari menjaga kehormatan diri sendiri.
Sungguh, manusia terlalu banyak kekurangan untuk merasa layak mempermalukan orang lain. Kalau Allah saja menutupi, mengapa kita begitu mudah membuka?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lebih sibuk memperbaiki aib sendiri daripada membicarakan aib orang lain. Karena sejatinya, orang yang paling selamat adalah orang yang mampu menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga kehormatan saudaranya.
Dan semoga kita selalu ingat: aib sesama manusia bukan untuk disebarkan, tetapi untuk dihindari, ditutupi, dan bila bisa, diperbaiki dengan cara yang paling baik.

