This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, August 18, 2026

Hati-hati Kata-katamu berpengaruh sampai ke Gen

Sabda baginda Rasulullah ﷺ :
————— وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ .
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari]

Ucapan dan Kalimat seseorang akan mempengaruhi perasannya -hormonnya,-akan mempengaruhi fisiknya,- akan mempengaruhi imannya-, akan mempengaruhi imannya, akan mempengaruhi qolbunya, jika ucapannya baik maka gen nya pun akan baik, demikian juga jika buruk ucapannya buruk maka gennya pun akan buruk

Banyak yang lupa bahwa manusia terdiri dari air dan air akan merespon dalam bentuk kristal, apapun yang diucapkan, ke air tersebut, maka kristal tersebut akan berubah

Jadi hati-hati dengan kata dan kalimat karena urusannya sampai ke gen.

Hati- hati dengan lisanmu dan apa yang kamu bathin, karena dengan ucapan Kobiltu saya terima nikahnya ... menjadikannya syah nya suami istri ... dengan syahadat menjadikanmu muslim ... dan apa yang di benakmu dan perkataanmu menjadi sebuah do'a dimana Alllah akan merespon dan mengembalikan do'a-doamu itu ... mari berhati-hati dalam menyusun kalimat,

DARK TRIAD

Dalam psikologi, dark triad (triad gelap) adalah istilah yang menggambarkan tiga sifat kepribadian manusia yang berbeda namun saling berkaitan, yaitu narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati. 


Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh peneliti Delroy L. Paulhus dan Kevin M. Williams pada tahun 2002. Ketiga sifat ini disebut "gelap" karena berpusat pada diri sendiri, manipulatif, dan minim empati. 


Tiga Komponen Utama Dark Triad


Narsisme:

  • Rasa bangga dan cinta diri yang berlebihan.
  • Haus akan pujian dan merasa paling unggul.
  • Menganggap diri memiliki hak istimewa di atas orang lain


Machiavellianisme:

  • Sikap sinis terhadap sesama.
  • Sangat manipulatif dan menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi.
  • Pintar menyusun strategi licik tanpa memedulikan etika



Psikopati:

  • Minim atau tidak punya empati sama sekali.
  • Sering bertindak impulsif dan mengabaikan aturan sosial.
  • Tidak memiliki rasa bersalah atas kerugian yang ditimbulkan pada orang lain



Dampak dan Karakteristik Sosial


Manipulasi Interpersonal: Orang dengan sifat ini terlihat menawan, ramah, atau humoris di awal, tetapi itu dilakukan hanya untuk memperdaya orang lain.


Merugikan Hubungan: Sering memicu konflik, penindasan (bullying), atau masalah dalam lingkungan kerja, keluarga, maupun pertemanan


GANGGUAN MENTAL NARCISSISTIC PERSONALITY DISORDER (NPD)


NPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh kebutuhan berlebihan akan pujian, kurangnya empati, dan pola hubungan yang tidak sehat.


ciri-ciri umum:


1.Merasa paling penting dan berhak mendapatkan perlakuan istimewa

2.Kurang empati dan sulit memahami perasaan orang lain

3.Manipulatif dan sering memanfaatkan orang lain

4.Sangat butuh pujian dan validasi terus menerus

5.Mudah marah saat tidak mendapatkan keinginannya

6.Sulit menerima kritik dan selalu menyalahkan orang lain



Gangguan mental seperti ini memiliki dampak pada diri terhadap orang disekitarnya, yaitu :


1. Merasa tidak dihargai dan selalu salah

2. Kehilangan kepercyaan diri dan merasa tidak berharga

3. Hubungan menjadi toksik, penuh drama dan tekanan emosional

4. Stres, cemas, hingga depresi

5. Sulit keluar dari hubungan karena manipulasi emosional


Memahami NPD adalah langkah awal untuk melindungi diri dan mencari bantuan yang tepat.



MACHIAVELLIANISME


Machiavellianisme adalah sifat kepribadian dalam psikologi yang ditandai oleh perilaku manipulatif, licik, egois, tidak beretika, dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan atau kekuasaan. Istilah ini bagian dari konsep "Triad Gelap" (Dark Triad) bersama narsisisme dan psikopati.


Manipulatif: Sering memanfaatkan kelemahan atau informasi orang lain demi keuntungan pribadi.


Rendah Empati: Cenderung dingin secara emosional dan tidak peduli pada dampak perbuatannya terhadap orang lain.


Berorientasi Hasil: Menganggap tujuan menghalalkan segala cara, termasuk berbohong atau berkhianat.


Sinis: Memandang dunia serta orang lain sebagai pihak yang egois dan tidak bisa dipercaya.


PSIKOPATH


Psikopat adalah gangguan kepribadian di mana seseorang tidak punya empati, tidak punya rasa bersalah, dan sering menipu orang lain. Dalam dunia medis, kondisi ini dekat dengan gangguan kepribadian antisosial. Orang dengan sifat ini sering terlihat ramah di luar, tetapi dingin di dalam.


Ciri-Ciri Utama :


Suka berbohong dan pandai menipu

Tidak punya rasa penyesalan atau iba

Sangat percaya diri dan egois

Suka melanggar aturan atau norma

Dingin dan sulit terikat secara emosional


Penyebab :

Kelainan fungsi atau struktur pada bagian otak pengatur emosi

Faktor keturunan dari keluarga

Trauma atau pola asuh buruk di masa kecil l


PSIKOPAT


Psikopat adalah gangguan kepribadian di mana seseorang tidak punya empati, tidak punya rasa bersalah, dan sering menipu orang lain. Dalam dunia medis, kondisi ini dekat dengan gangguan kepribadian antisosial. Orang dengan sifat ini sering terlihat ramah di luar, tetapi dingin di dalam.


Ciri-Ciri Utama : 

Suka berbohong dan pandai menipu

Tidak punya rasa penyesalan atau iba

Sangat percaya diri dan egois

Suka melanggar aturan atau norma

Dingin dan sulit terikat secara emosional.


Penyebab ;

Kelainan fungsi atau struktur pada bagian otak pengatur emosi

Faktor keturunan dari keluarga

Trauma atau pola asuh buruk di masa kecil


Sosiopat adalah gangguan kepribadian antisosial yang membuat seseorang sulit berempati, tidak punya rasa bersalah, dan sering melanggar aturan atau norma sosial. Mereka cenderung bersikap egois, impulsif, dan manipulatif demi keuntungan pribadi.


Ciri-Ciri Sosiopat


Tidak punya rasa penyesalan saat menyakiti orang lain.

Sangat manipulatif dan sering berbohong.

Emosi labil dan mudah marah.

Bertindak impulsif tanpa memikirkan akibatnya.

Sulit mempertahankan hubungan dekat atau pekerjaan. 


Perbedaan Sosiopat dan Psikopat


Sosiopat: Cenderung emosional, mudah marah, bertindak impulsif, dan sulit berinteraksi sosial sehingga kerap mengasingkan diri.


Psikopat: Cenderung tenang, dingin, sangat terencana, serta bisa tampak sangat menawan atau karismatik untuk menipu orang lain


Monday, August 17, 2026

TERIAKAN ITU MEMATIKAN ROH

Di kepulauan Solomon, sebuah negara di tengah Melanesia, salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan ini, kebiasaanya adalah "meneriaki pohon".

Penduduk yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik. Kebiasaan itu adalah "meneriaki pohon". Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan, apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat. Pohon yang kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak, atau benda tajam lainnya.

Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati.

Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.

Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu, perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu, dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau diperhatikan, apa yang dilakukan oleh penduduk Solomon ini sungguhlah aneh. Namun, kita bisa belajar satu hal dari mereka.

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu singkat, makhluk hidup itu akan mati.

Nah. Sekarang, yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? orang dikeliling anda atau siapapun?
Ayo cepat !
Dasar lelet !
Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ?
Jangan main-main disini !
Berisik !

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Suami/istri seperti kamu nggak tahu diri!
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa!
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget sih!? Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :
Goblok, soal mudah begitu aja nggak bisa ! Kapan kamu jadi pinter?! 

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :
Eh tahu nggak ?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel !
Ada banyak yang bisa gantiin kamu !
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini.

Mereka mengajari kita sesuatu yang penting. Bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita, perlahan -lahan dna pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan anda.

Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya. Benar?

Kisah Lainnya: Kisah Sales Batu Intan

Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter.
Mudah menjelaskannya.

Pada realitanya, meskipun secara fisik, dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak!

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai. Kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang, jika tetap ingin roh pada orang yang anda sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan - teriakan.

Saatnya sekarang kita ciptakan kehidupan yang damai, tanpa teriak. Berhentilah berteriak. Teriakan itu mematikan roh

Untuk Anak-Anakku

Bismillahirrahmaanirahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirobbil alamin, washolatu wassalamu 'ala asrofil ambiya iwal mursalin wa'ala alihi wasohbihi aj ma'in. Amma ba'du.
Segala puji bagi Allah Sang Penguasa alam semesta. Semoga salawat serta keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia. Berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.

Untuk anak-anakku kaka, teteh dan Adek ustadzah. Abi dan Umi bangga dan sangat menyayangimu nak.

Abi dan Umi selalu bahagia seraya memanjatkan syukur Alhamdulillahirabbil 'Alamin, melihat kalian tumbuh dewasa. Melihat kalian sholeh sholehah, sing balageur nya kaka, teteh, dan Adek ustadzah...

Anak-anakku Rahimakumullahu, ketika engkau lahir, itu adalah saat dimana pertama kalinya Abi dan Umi mendengar tangis kebahagiaan. Tangisan yang memecahkan heningnya dunia, tangisan yang akan selalu kami rindukan, tangisan yang menumbuhkan harapan. Tangisan itu adalah tangisanmu, anakku. Saat kami memelukmu untuk pertama kalinya, engkau putih bagaikan kertas. Hanya ucapan rasa syukur Alhamdulillahirabbil'alamiin dan senyuman beriring linangan air mata bahagia yang dapat kami berikan ketika itu kepadamu. Kami terpaku memandang matamu yang bulat. Abi dan Umi tersenyum bahagia melihatmu telah hadir di dunia ini, anakku. Ketika itu kami berjanji, nak, janji tentang suatu kebahagiaan yang menentramkan bagimu. Engkau kebahagiaan yang dititip oleh Allah pada kami, engkau cahaya dan bunga yang memberikan kedamaian yang amat sangat kepada kami. Abi dan Umi sangat menyayangimu, anak-anakku.

Saat engkau masih kecil dulu, anakku, kami berdoa dan mengusap ubun-ubunmu, kami menyuapkan makanan padamu, kami menggantikan bajumu, kami pula yang membersihkan kotoranmu. Sekarang, engkau telah dewasa, anakku. Engkau telah mampu melakukan semua itu tanpa bantuan Abi dan Umi lagi. Dan nanti, seiring bertambahnya umurmu, ketika kami tidak lagi sanggup menopang badan ini dengan kaki kami sendiri, nak. Ketika Abi dan Umi tak lagi dapat mencarikan makan untukmu. Ketika kami juga sudah tak mampu menggendongmu seperti dulu. Oleh karna itu, disaat kami sudah tak sanggup lagi menopang tubuh ini, disaat Abi dan Umi sudah tak lagi mampu berdiri dan berjalan. Jangan engkau hiraukan, nak. Pergilah anak-anakku, besarkan dirimu, jadilah seseorang yang berguna. Jadilah seorang pribadi yang menawan, anakku. Kami, Abi dan Umi, hanya ingin melihatmu tumbuh menjadi seorang insan yang sholeh, sholehah dan menawan.

Saat ini engkau telah lebih kuat, kini engkau telah lebih mengerti arti hidup nak. Dunia telah mengajarimu tentang banyak hal. Kecerdasanmu tentu jauh lebih hebat dibanding ketika kami masih membelai-belai hangat kepalamu dulu. Sekalipun mungkin Abi dan Umi terlalu bodoh untuk memahami apa yang telah engkau dapatkan di dunia ini, jangan pernah malu memiliki kami, nak. Sayangilah kami walaupun tak sebesar kasih sayang yang pernah kami curahkan untukmu. Cintailah Abi dan Umi ini, sekalipun itu tak sebesar cinta yang kami berikan dalam setiap tidurmu. Ceritakan kepada kami apa yang telah engkau lihat diluar sana seolah itu adalah cerita yang jauh lebih hebat dibanding cerita saat pertama kali engkau dapat berjalan dulu.

Abi dan Umi sadar bahwa kami bukanlah manusia yang sempurna, kami punya kekurangan, kami juga melakukan kesalahan, kami punya kelemahan. Maafkan Abi dan Umi yang dulu pernah memarahimu. Maafkan Abi dan Umi jika dulu pernah memukulmu. Maafkan semua kesalahan yang pernah kami lakukan padamu. Maafkan Abi dan Umi jika bernada bicara agak tinggi saat mengingatkan engkau agar tidak telat sholat, maafkan Abi dan Umi jika bernada bicara agak tinggi jika melihat dan merasa apa yang kamu lakukan kurang benar atau ataupun tidak benar, maafkan jika Abi atau Umi ini tak mampu untuk senantiasa memenuhi permintaanmu untuk membeli sepatu yang bagus, sepeda yang bagus, atau sepatu skateline seperti teman-temanmu punya, sehingga jika ingin sesuatu kalian harus nabung dulu, maafkan kami jika Umi hanya membuatkan roti atau es krim instan tepung pondan buatan umi sendiri, untuk dibagikan ke teman-temanmu saat engkau ulang tahun. Itu semua kami lakukan hanya karna demi kebaikanmu, anakku. Sekali lagi maafkan kami nak ...

Adalah kebahagiaan yang tak terkira saat kalian salim tangan dan mencium pipi kami setelah selesai sholat dan pulang mengaji, mengucap salam waktu keluar dan masuk rumah, Abi dan Umi senaaang sekali tiap mendengarkan kalian membaca Alquran. Terimakasih kaka Daffa nderes Qurannya, Terimakasih teteh waktu abi sakit, teteh  membacakan Quran disamping Abi, terimakasih juga untuk adek ustadzah yang dari TK kecil sudah hafal surah Al-Kursi, Subhanallah sungguh suatu kebahagiaan yang tak terkira ....., Abi dan Umi senang saat melihat kalian di dapur menggoreng telur, membuat nasi goreng, membantu menanak nasi di magic jar,

Kebahagiaan tak terkira, Alhamdulillah Adek bisa mondok di Gontor dengan tekad dan keinginan sendiri, hingga sampai jadi Ustadzah, dan mewakafkan diri ke Gontor. Raih Ridho Bapak Kayai, Bapak Wapim, serta para Asatidz, sehingga menjadi Munzirul Qoum, Rabbanaa anzilna munzalan mubaarakan. 

Anak-anakku, kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal, dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini... seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An'Am ayat 32: ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”...

Pesan dari Abi dan Umi, jalankan sholat 5 waktu, baca Alquran, jalankan sunnah tahajud dan dhuha, jagalah hati, pegang teguh iman, selalu ingat bahwa Allah selalu melihatmu, selalu ingat Allah dalam keadaan suka maupun duka, jemputlah janji Allah yang banyak dan tesebar dalam kitabNya, berfikir positif dan lakukanlah hal yang baik, jalin silaturahim, datangilah majelis taklim,  berkumpul dengan orang sholeh atau teman-teman yang baik,  rutinkan bersedekah, jangan lupa zakat, berhati-hatilah dalam melangkah, ukur tiga kali sebelum memotong sekali, hati-hati dalam berbicara, sertakanlah Allah dalam setiap langkah-langkahmu anak-anakku. 

 Jangan takkabur dan sombong, cita-cita boleh setinggi langit tetapi kaki kita harus tetap menginjak bumi. Ingat-ingat pesan Umi nak, Hirup mah kudu optimis. Dituntun ku santun. Diasuh ku lungguh. Dipiara ku rasa. Diasah ku kanyaah. Dijaga ku du'a kanu kawasa. Santun ka saluhureun. Hormat ka sasama. Someah ka semah. Akur jeung papada dulur. Hirup sauyunan...

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali ‘Imran [3]: 139).

Ingat, jika sedang ada masalah apapun di hidup kalian, jangan lupa buka Alquran dan terapkan metode Garputala. Allah akan tunjukkan penyelesaiannya.

Anak-anakku, air mata kami ini takkan lagi dapat engkau artikan sebagai sebuah harapan akan kebahagiaanmu kelak. Kini, kami dapat melihat dan menatapmu dari jauh. Kau sudah besar sekarang nak, jadilah orang yang berguna bagi agama, keluarga, dan bagi orang lain, anak-anakku.

Kami tidak boleh berharap kepada selain Allah, Kini, Dalam kedewasaanmu, anakku, kami tak lagi dapat memarahimu, kami tak lagi dapat memukulmu, kami tak lagi dapat memberikan nasihat yang bijak padamu. Abi dan Umi hanya berusaha memberikan contoh kepadamu, Abi dan Umi tidak akan pernah menuntutmu untuk memberikan sebuah tempat tidur yang nyaman. Kami tidak akan meminta tempat bernaung padamu, anakku, karena ketika engkau telah berbahagia, ketika engkau telah merasakan ketentraman, maka itulah kebahagiaan hakiki yang juga akan kami rasakan, itulah ketentraman yang amat menenangkan bagi kami. Engkau tak perlu khawatir mengapa kami harus menangis, engkau tak perlu cemas melihat keadaan kami. Berbahagialah anakku, berbahagialah! Engkau pantas untuk mendapatkan itu.

Anakku-anakku yang tersayang, Abi dan Umi tidak tahu kapan ajal itu datang, tapi pasti datang. Kelak jika nanti Abi dan Umi meninggalkan dunia ini, mohon jangan engkau menangis ya nak. Lepaskanlah kami dengan hati yang ikhlas. Tersenyumlah, anakku, senyummu menenangkan kami. Tersenyumlah seperti yang pernah engkau berikan ketika engkau dilahirkan dulu. Jangan lupakan Abi dan Umi. Ingatlah nasihat-nasihat baik dan contoh yang baik yang selalu kami berikan kepadamu, jangan tiru contoh buruk dan hal bodoh yang kami lakukan, dan ingatlah ketika kami memarahimu dulu. Kelak, ketika Abi dan Umi takkan pernah dapat melihatmu lagi, ketika Abi dan Umi tak bisa mengawasimu lagi, ketika Abi dan Umi sudah tak bisa memegang tanganmu lagi, ketika Abi dan Umi juga tak dapat mencium keningmu lagi, jagalah dirimu sebaik mungkin, anakku. Engkau anak-anak Abi dan Umi, harus senantiasa tersenyum dalam kebahagiaan yang menentramkan.

Ingat nak, Abi dan Umi ini hanya bertugas menjemput rizki, dan sama sekali tidak bisa memberi rizki. Jadi jangan khawatir, jika penjemput rizki pergi maka sesungguhnya pemberi rizki itu abadi yaitu Allah SWT.

Nak, sempatkankah waktu untuk mendoakan Abi dan Umi sehabis sholat, dan sempatkanlah waktu sejenak mendoakan kami disela-sela kesibukanmu, jika engkau mempunyai waktu, kelak datanglah ke pemakaman tempat Abi dan Umi tertidur untuk terakhir kalinya. Siramilah kami dengan doamu, berdo'alah kepada Allah untuk kami, anakku. 
Saat menulis ini, Abi dan Umi membayangkan anak cucu Abi dan Umi banyak yang hafal Al Quran dan setiap selesai dengan hafalannya selalu berdoa dan menghadiahkan kepada kami di alam kubur.

Sekali lagi, maafkan semua kesalahan yang pernah Abi dan Umi lakukan padamu, maafkan kami nak ... maafkan. Kami bangga mempunyai anak-anak sepertimu. Semua kesalahan yang pernah engkau lakukan pada Abi dan Umi telah lama kami maafkan. Engkau anak-anak Abi dan Umi, kami menyayangimu nak... kami menyayangimu....

‘Allahumma anta Rabbii. Laa ilaha illa anta. Kholaqtanii, wa ana ‘abduka. Wa ana ‘ala ‘ahdika wawa’dika mastatho’tu. A’udzubika min syarri ma shona’tu. Abu’u laka bini’matika ‘alayya. Wa abu’u bidzanbii, faghfirli. Fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.

(Ya Allah, Engkaulah Rabbku. Tiada Ilah yang hak kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah Hamba-Mu, dan aku senantiasa memegang teguh janji-Mu sekuat tenagaku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kuperbuat. Aku mengakui anugerah nikmat-Mu bagi diriku dan aku juga mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.’”

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama.
Artinya,
"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al Furqaan : 72)

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

dari Abi dan Umi ...

Saturday, August 15, 2026

DIRGAHAYU NEGERIKU

Dirgahayu Negeriku, jangan merasa sudah aman, jangan terlena, PR mu masih banyak, etika, moral, adab, hipokritism, tone deaf, emphaty, shadowy cabal, blue curtain code, panem et circences, new world order dan gibberish. 


Dirgahayu negeriku, Semakin menjauh dan harus segera kembali kepada nilai-nilai Pancasila & UUD 45. Membangun manusia yang bukan sekadar menghafalnya, tetapi menghadirkannya dalam sikap, keputusan, dan kehidupan sehari-hari.


Dirgahayu ke-81 Negeriku. 🇮🇩


2026

PANCASILA DI ALQURAN

Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga memuat nilai-nilai luhur yang selaras dengan ajaran Islam. Meski Pancasila bukan bagian dari Al-Qur'an, setiap silanya memiliki nilai yang sejalan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Islam.


Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa


Nilai ketauhidan menjadi fondasi utama dalam Islam. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Ikhlas ayat 1:


"Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa."


Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, syariat yang dibawa para nabi bisa berbeda sesuai kondisi umatnya. Namun, ada satu ajaran yang tidak pernah berubah, yaitu tauhid: mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.


Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


Islam mengajarkan keadilan tanpa memandang siapa pun. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135:


“Wahai orang-orang yang beriman. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”


Ayat ini mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh dipengaruhi kepentingan pribadi, hubungan keluarga, maupun status sosial.


Sila Ketiga: Persatuan Indonesia


Keberagaman adalah sunnatullah. Allah menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:


“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”


Indonesia dianugerahi beragam suku, budaya, dan bahasa. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan persaudaraan.


Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan


Musyawarah merupakan bagian dari ajaran Islam. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 38:


"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya, dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."


Islam mengajarkan bahwa keputusan terbaik lahir dari musyawarah yang dilandasi kebijaksanaan, saling menghargai, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.


Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Keadilan adalah salah satu perintah utama dalam Islam. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 90:


"Sesungguhnya Allah menyuruh (manusia) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi (sedekah) kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (manusia), agar kamu dapat mengambil pelajaran."


Mewujudkan keadilan sosial bukan hanya tugas negara, tetapi juga tanggung jawab setiap individu. Ketika keadilan ditegakkan dan kebaikan terus ditebar, masyarakat yang damai dan penuh keberkahan akan lebih mudah terwujud.


Pancasila dan Islam memiliki titik temu pada nilai-nilai universal: tauhid, keadilan, persaudaraan, musyawarah, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi untuk membangun bangsa yang kuat sekaligus diridhai Allah. Semoga kita mampu mengamalkannya, bukan sekadar menghafalnya.

Friday, August 14, 2026

Pendidikan Anak, Jalan Sunyi Menuju Surga

Pesan dari Syekh Dr. Muhammad Ratib An-Nablusi untuk 0ara ibu muslimah.


Ada sebuah nasihat yang sering dikaitkan dengan keutamaan seorang perempuan dalam mendidik anak. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku orang pertama yang membuka pintu surga. Tiba-tiba seorang perempuan mendahuluiku dan ingin masuk surga sebelum aku. Aku bertanya kepadanya, siapa anda? Perempuan itu menjawab: Aku adalah seorang perempuan yang menahan diri (demi mengurus) anak-anak yatimku.


Islam menempatkan pendidikan anak sebagai amanah besar. Orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikan formal, tetapi juga membentuk akhlak, iman, kebiasaan, serta cara anak memandang kehidupan.


Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa salah satu pemberian terbaik orang tua kepada anak adalah adab dan akhlak yang baik. Sebab, harta bisa habis, jabatan bisa hilang, tetapi karakter yang dibentuk sejak kecil dapat menjadi bekal yang terus melekat dalam kehidupan seorang anak.


Mendidik anak memang tidak selalu terlihat sebagai amal besar. Tidak ada panggung, tidak selalu mendapat tepuk tangan. Kadang bentuknya hanya menemani belajar, mengajarkan doa, menegur dengan lembut, memberi contoh kejujuran, atau tetap sabar ketika anak melakukan kesalahan yang sama berulang kali.


Justru di situlah beratnya. Mendidik anak membutuhkan kesabaran yang panjang, keteladanan yang konsisten, dan hati yang terus belajar. Anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada sekadar mengingat apa yang mereka dengar.


Karena itu, mendidik anak dengan iman dan akhlak bukan sekadar urusan dunia. Ia adalah bagian dari tanggung jawab akhirat. Allah SWT mengingatkan, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).


Kasih sayang kepada anak bukan berarti selalu menuruti keinginannya. Kadang cinta justru hadir dalam bentuk batasan, nasihat, disiplin, dan ketegasan yang tetap dibalut kasih sayang.


Maka, jangan remehkan pekerjaan seorang ibu atau ayah yang setiap hari mendidik anak. Bisa jadi, doa yang diajarkan hari ini menjadi amal yang terus mengalir. Akhlak yang ditanamkan hari ini menjadi kebaikan yang tumbuh jauh setelah anak dewasa.


Sebab, membesarkan anak bukan hanya tentang membuat mereka sukses di dunia. Tugas yang lebih dalam adalah membantu mereka mengenal Allah, mencintai kebaikan, berakhlak mulia, dan memiliki bekal untuk kembali kepada-Nya.


Mendidik anak adalah amal yang sering sunyi dari pandangan manusia, tetapi semoga tidak pernah luput dari pandangan Allah.



Berikut adalah redaksi hadis yang menceritakan peristiwa tersebut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُفْتَحُ لَهُ بَابُ الْجَنَّةِ، إِلَّا أَنِّي أَرَى امْرَأَةً تُبَادِرُنِي، فَأَقُولُ لَهَا: مَا لَكِ؟ وَمَنْ أَنْتِ؟ فَتَقُولُ: أَنَا امْرَأَةٌ قَعَدْتُ عَلَى أَيْتَامٍ لِي

Artinya:

"Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: 'Aku adalah orang pertama yang dibukakan pintu surga. Namun, aku melihat seorang perempuan yang hendak mendahuluiku (masuk surga). Aku lalu bertanya kepadanya: Ada apa denganmu? Siapa engkau? Perempuan itu menjawab: Aku adalah seorang perempuan yang menahan diri (demi mengurus) anak-anak yatimku.'" (HR. Abu Ya'la dan Al-Khara'ithi). [, 3]

Penjelasan dan Fakta Hadis

Siapa yang Bertanya?
Di dalam teks asli hadis riwayat Abu Ya'la ini, Nabi Muhammad SAW sendiri yang langsung bertanya kepada wanita tersebut saat di pintu surga ("Aku lalu bertanya kepadanya..."), bukan bertanya kepada Malaikat Jibril. [, 2]

Konteks Perempuan Tersebut:
Kata "qa'adtu 'ala aytamin lii" berarti wanita tersebut memilih untuk tidak menikah lagi (menjanda) setelah suaminya wafat. Ia mengorbankan masa mudanya dan fokus bekerja mencari nafkah serta mendidik anak-anak yatimnya hingga dewasa. []

Pemberian Terbaik Orang Tua:
Peristiwa ini sejalan dengan hadis Nabi lainnya tentang keutamaan mendidik anak. Rasulullah SAW bersabda: [1]

"Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik daripada adab (akhlak dan pengajaran) yang baik." (HR. At-Tirmidzi). [1]

Mengasuh dan mendidik anak, terutama saat harus berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal, memiliki derajat yang sangat mulia sampai-sampai jalannya menuju surga beriringan dekat sekali dengan Rasulullah SAW.