This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, August 17, 2026

TERIAKAN ITU MEMATIKAN ROH

Di kepulauan Solomon, sebuah negara di tengah Melanesia, salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan ini, kebiasaanya adalah "meneriaki pohon".

Penduduk yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik. Kebiasaan itu adalah "meneriaki pohon". Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan, apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat. Pohon yang kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak, atau benda tajam lainnya.

Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati.

Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.

Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu, perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu, dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau diperhatikan, apa yang dilakukan oleh penduduk Solomon ini sungguhlah aneh. Namun, kita bisa belajar satu hal dari mereka.

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu singkat, makhluk hidup itu akan mati.

Nah. Sekarang, yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? orang dikeliling anda atau siapapun?
Ayo cepat !
Dasar lelet !
Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ?
Jangan main-main disini !
Berisik !

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Suami/istri seperti kamu nggak tahu diri!
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa!
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget sih!? Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :
Goblok, soal mudah begitu aja nggak bisa ! Kapan kamu jadi pinter?! 

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :
Eh tahu nggak ?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel !
Ada banyak yang bisa gantiin kamu !
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini.

Mereka mengajari kita sesuatu yang penting. Bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita, perlahan -lahan dna pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan anda.

Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya. Benar?

Kisah Lainnya: Kisah Sales Batu Intan

Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter.
Mudah menjelaskannya.

Pada realitanya, meskipun secara fisik, dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak!

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai. Kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang, jika tetap ingin roh pada orang yang anda sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan - teriakan.

Saatnya sekarang kita ciptakan kehidupan yang damai, tanpa teriak. Berhentilah berteriak. Teriakan itu mematikan roh

Untuk Anak-Anakku

Bismillahirrahmaanirahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirobbil alamin, washolatu wassalamu 'ala asrofil ambiya iwal mursalin wa'ala alihi wasohbihi aj ma'in. Amma ba'du.
Segala puji bagi Allah Sang Penguasa alam semesta. Semoga salawat serta keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia. Berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.

Untuk anak-anakku kaka, teteh dan Adek ustadzah. Abi dan Umi bangga dan sangat menyayangimu nak.

Abi dan Umi selalu bahagia seraya memanjatkan syukur Alhamdulillahirabbil 'Alamin, melihat kalian tumbuh dewasa. Melihat kalian sholeh sholehah, sing balageur nya kaka, teteh, dan Adek ustadzah...

Anak-anakku Rahimakumullahu, ketika engkau lahir, itu adalah saat dimana pertama kalinya Abi dan Umi mendengar tangis kebahagiaan. Tangisan yang memecahkan heningnya dunia, tangisan yang akan selalu kami rindukan, tangisan yang menumbuhkan harapan. Tangisan itu adalah tangisanmu, anakku. Saat kami memelukmu untuk pertama kalinya, engkau putih bagaikan kertas. Hanya ucapan rasa syukur Alhamdulillahirabbil'alamiin dan senyuman beriring linangan air mata bahagia yang dapat kami berikan ketika itu kepadamu. Kami terpaku memandang matamu yang bulat. Abi dan Umi tersenyum bahagia melihatmu telah hadir di dunia ini, anakku. Ketika itu kami berjanji, nak, janji tentang suatu kebahagiaan yang menentramkan bagimu. Engkau kebahagiaan yang dititip oleh Allah pada kami, engkau cahaya dan bunga yang memberikan kedamaian yang amat sangat kepada kami. Abi dan Umi sangat menyayangimu, anak-anakku.

Saat engkau masih kecil dulu, anakku, kami berdoa dan mengusap ubun-ubunmu, kami menyuapkan makanan padamu, kami menggantikan bajumu, kami pula yang membersihkan kotoranmu. Sekarang, engkau telah dewasa, anakku. Engkau telah mampu melakukan semua itu tanpa bantuan Abi dan Umi lagi. Dan nanti, seiring bertambahnya umurmu, ketika kami tidak lagi sanggup menopang badan ini dengan kaki kami sendiri, nak. Ketika Abi dan Umi tak lagi dapat mencarikan makan untukmu. Ketika kami juga sudah tak mampu menggendongmu seperti dulu. Oleh karna itu, disaat kami sudah tak sanggup lagi menopang tubuh ini, disaat Abi dan Umi sudah tak lagi mampu berdiri dan berjalan. Jangan engkau hiraukan, nak. Pergilah anak-anakku, besarkan dirimu, jadilah seseorang yang berguna. Jadilah seorang pribadi yang menawan, anakku. Kami, Abi dan Umi, hanya ingin melihatmu tumbuh menjadi seorang insan yang sholeh, sholehah dan menawan.

Saat ini engkau telah lebih kuat, kini engkau telah lebih mengerti arti hidup nak. Dunia telah mengajarimu tentang banyak hal. Kecerdasanmu tentu jauh lebih hebat dibanding ketika kami masih membelai-belai hangat kepalamu dulu. Sekalipun mungkin Abi dan Umi terlalu bodoh untuk memahami apa yang telah engkau dapatkan di dunia ini, jangan pernah malu memiliki kami, nak. Sayangilah kami walaupun tak sebesar kasih sayang yang pernah kami curahkan untukmu. Cintailah Abi dan Umi ini, sekalipun itu tak sebesar cinta yang kami berikan dalam setiap tidurmu. Ceritakan kepada kami apa yang telah engkau lihat diluar sana seolah itu adalah cerita yang jauh lebih hebat dibanding cerita saat pertama kali engkau dapat berjalan dulu.

Abi dan Umi sadar bahwa kami bukanlah manusia yang sempurna, kami punya kekurangan, kami juga melakukan kesalahan, kami punya kelemahan. Maafkan Abi dan Umi yang dulu pernah memarahimu. Maafkan Abi dan Umi jika dulu pernah memukulmu. Maafkan semua kesalahan yang pernah kami lakukan padamu. Maafkan Abi dan Umi jika bernada bicara agak tinggi saat mengingatkan engkau agar tidak telat sholat, maafkan Abi dan Umi jika bernada bicara agak tinggi jika melihat dan merasa apa yang kamu lakukan kurang benar atau ataupun tidak benar, maafkan jika Abi atau Umi ini tak mampu untuk senantiasa memenuhi permintaanmu untuk membeli sepatu yang bagus, sepeda yang bagus, atau sepatu skateline seperti teman-temanmu punya, sehingga jika ingin sesuatu kalian harus nabung dulu, maafkan kami jika Umi hanya membuatkan roti atau es krim instan tepung pondan buatan umi sendiri, untuk dibagikan ke teman-temanmu saat engkau ulang tahun. Itu semua kami lakukan hanya karna demi kebaikanmu, anakku. Sekali lagi maafkan kami nak ...

Adalah kebahagiaan yang tak terkira saat kalian salim tangan dan mencium pipi kami setelah selesai sholat dan pulang mengaji, mengucap salam waktu keluar dan masuk rumah, Abi dan Umi senaaang sekali tiap mendengarkan kalian membaca Alquran. Terimakasih kaka Daffa nderes Qurannya, Terimakasih teteh waktu abi sakit, teteh  membacakan Quran disamping Abi, terimakasih juga untuk adek ustadzah yang dari TK kecil sudah hafal surah Al-Kursi, Subhanallah sungguh suatu kebahagiaan yang tak terkira ....., Abi dan Umi senang saat melihat kalian di dapur menggoreng telur, membuat nasi goreng, membantu menanak nasi di magic jar,

Kebahagiaan tak terkira, Alhamdulillah Adek bisa mondok di Gontor dengan tekad dan keinginan sendiri, hingga sampai jadi Ustadzah, dan mewakafkan diri ke Gontor. Raih Ridho Bapak Kayai, Bapak Wapim, serta para Asatidz, sehingga menjadi Munzirul Qoum, Rabbanaa anzilna munzalan mubaarakan. 

Anak-anakku, kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal, dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini... seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An'Am ayat 32: ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”...

Pesan dari Abi dan Umi, jalankan sholat 5 waktu, baca Alquran, jalankan sunnah tahajud dan dhuha, jagalah hati, pegang teguh iman, selalu ingat bahwa Allah selalu melihatmu, selalu ingat Allah dalam keadaan suka maupun duka, jemputlah janji Allah yang banyak dan tesebar dalam kitabNya, berfikir positif dan lakukanlah hal yang baik, jalin silaturahim, datangilah majelis taklim,  berkumpul dengan orang sholeh atau teman-teman yang baik,  rutinkan bersedekah, jangan lupa zakat, berhati-hatilah dalam melangkah, ukur tiga kali sebelum memotong sekali, hati-hati dalam berbicara, sertakanlah Allah dalam setiap langkah-langkahmu anak-anakku. 

 Jangan takkabur dan sombong, cita-cita boleh setinggi langit tetapi kaki kita harus tetap menginjak bumi. Ingat-ingat pesan Umi nak, Hirup mah kudu optimis. Dituntun ku santun. Diasuh ku lungguh. Dipiara ku rasa. Diasah ku kanyaah. Dijaga ku du'a kanu kawasa. Santun ka saluhureun. Hormat ka sasama. Someah ka semah. Akur jeung papada dulur. Hirup sauyunan...

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali ‘Imran [3]: 139).

Ingat, jika sedang ada masalah apapun di hidup kalian, jangan lupa buka Alquran dan terapkan metode Garputala. Allah akan tunjukkan penyelesaiannya.

Anak-anakku, air mata kami ini takkan lagi dapat engkau artikan sebagai sebuah harapan akan kebahagiaanmu kelak. Kini, kami dapat melihat dan menatapmu dari jauh. Kau sudah besar sekarang nak, jadilah orang yang berguna bagi agama, keluarga, dan bagi orang lain, anak-anakku.

Kami tidak boleh berharap kepada selain Allah, Kini, Dalam kedewasaanmu, anakku, kami tak lagi dapat memarahimu, kami tak lagi dapat memukulmu, kami tak lagi dapat memberikan nasihat yang bijak padamu. Abi dan Umi hanya berusaha memberikan contoh kepadamu, Abi dan Umi tidak akan pernah menuntutmu untuk memberikan sebuah tempat tidur yang nyaman. Kami tidak akan meminta tempat bernaung padamu, anakku, karena ketika engkau telah berbahagia, ketika engkau telah merasakan ketentraman, maka itulah kebahagiaan hakiki yang juga akan kami rasakan, itulah ketentraman yang amat menenangkan bagi kami. Engkau tak perlu khawatir mengapa kami harus menangis, engkau tak perlu cemas melihat keadaan kami. Berbahagialah anakku, berbahagialah! Engkau pantas untuk mendapatkan itu.

Anakku-anakku yang tersayang, Abi dan Umi tidak tahu kapan ajal itu datang, tapi pasti datang. Kelak jika nanti Abi dan Umi meninggalkan dunia ini, mohon jangan engkau menangis ya nak. Lepaskanlah kami dengan hati yang ikhlas. Tersenyumlah, anakku, senyummu menenangkan kami. Tersenyumlah seperti yang pernah engkau berikan ketika engkau dilahirkan dulu. Jangan lupakan Abi dan Umi. Ingatlah nasihat-nasihat baik dan contoh yang baik yang selalu kami berikan kepadamu, jangan tiru contoh buruk dan hal bodoh yang kami lakukan, dan ingatlah ketika kami memarahimu dulu. Kelak, ketika Abi dan Umi takkan pernah dapat melihatmu lagi, ketika Abi dan Umi tak bisa mengawasimu lagi, ketika Abi dan Umi sudah tak bisa memegang tanganmu lagi, ketika Abi dan Umi juga tak dapat mencium keningmu lagi, jagalah dirimu sebaik mungkin, anakku. Engkau anak-anak Abi dan Umi, harus senantiasa tersenyum dalam kebahagiaan yang menentramkan.

Ingat nak, Abi dan Umi ini hanya bertugas menjemput rizki, dan sama sekali tidak bisa memberi rizki. Jadi jangan khawatir, jika penjemput rizki pergi maka sesungguhnya pemberi rizki itu abadi yaitu Allah SWT.

Nak, sempatkankah waktu untuk mendoakan Abi dan Umi sehabis sholat, dan sempatkanlah waktu sejenak mendoakan kami disela-sela kesibukanmu, jika engkau mempunyai waktu, kelak datanglah ke pemakaman tempat Abi dan Umi tertidur untuk terakhir kalinya. Siramilah kami dengan doamu, berdo'alah kepada Allah untuk kami, anakku. 
Saat menulis ini, Abi dan Umi membayangkan anak cucu Abi dan Umi banyak yang hafal Al Quran dan setiap selesai dengan hafalannya selalu berdoa dan menghadiahkan kepada kami di alam kubur.

Sekali lagi, maafkan semua kesalahan yang pernah Abi dan Umi lakukan padamu, maafkan kami nak ... maafkan. Kami bangga mempunyai anak-anak sepertimu. Semua kesalahan yang pernah engkau lakukan pada Abi dan Umi telah lama kami maafkan. Engkau anak-anak Abi dan Umi, kami menyayangimu nak... kami menyayangimu....

‘Allahumma anta Rabbii. Laa ilaha illa anta. Kholaqtanii, wa ana ‘abduka. Wa ana ‘ala ‘ahdika wawa’dika mastatho’tu. A’udzubika min syarri ma shona’tu. Abu’u laka bini’matika ‘alayya. Wa abu’u bidzanbii, faghfirli. Fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.

(Ya Allah, Engkaulah Rabbku. Tiada Ilah yang hak kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah Hamba-Mu, dan aku senantiasa memegang teguh janji-Mu sekuat tenagaku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kuperbuat. Aku mengakui anugerah nikmat-Mu bagi diriku dan aku juga mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.’”

Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama.
Artinya,
"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al Furqaan : 72)

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

dari Abi dan Umi ...

Saturday, August 15, 2026

DIRGAHAYU NEGERIKU

Dirgahayu Negeriku, jangan merasa sudah aman, jangan terlena, PR mu masih banyak, etika, moral, adab, hipokritism, tone deaf, emphaty, shadowy cabal, blue curtain code, panem et circences, new world order dan gibberish. 


Dirgahayu negeriku, Semakin menjauh dan harus segera kembali kepada nilai-nilai Pancasila & UUD 45. Membangun manusia yang bukan sekadar menghafalnya, tetapi menghadirkannya dalam sikap, keputusan, dan kehidupan sehari-hari.


Dirgahayu ke-81 Negeriku. 🇮🇩


2026

PANCASILA DI ALQURAN

Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga memuat nilai-nilai luhur yang selaras dengan ajaran Islam. Meski Pancasila bukan bagian dari Al-Qur'an, setiap silanya memiliki nilai yang sejalan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Islam.


Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa


Nilai ketauhidan menjadi fondasi utama dalam Islam. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Ikhlas ayat 1:


"Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa."


Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, syariat yang dibawa para nabi bisa berbeda sesuai kondisi umatnya. Namun, ada satu ajaran yang tidak pernah berubah, yaitu tauhid: mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.


Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


Islam mengajarkan keadilan tanpa memandang siapa pun. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135:


“Wahai orang-orang yang beriman. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”


Ayat ini mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh dipengaruhi kepentingan pribadi, hubungan keluarga, maupun status sosial.


Sila Ketiga: Persatuan Indonesia


Keberagaman adalah sunnatullah. Allah menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:


“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”


Indonesia dianugerahi beragam suku, budaya, dan bahasa. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan persaudaraan.


Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan


Musyawarah merupakan bagian dari ajaran Islam. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 38:


"Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya, dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."


Islam mengajarkan bahwa keputusan terbaik lahir dari musyawarah yang dilandasi kebijaksanaan, saling menghargai, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.


Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Keadilan adalah salah satu perintah utama dalam Islam. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 90:


"Sesungguhnya Allah menyuruh (manusia) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi (sedekah) kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (manusia), agar kamu dapat mengambil pelajaran."


Mewujudkan keadilan sosial bukan hanya tugas negara, tetapi juga tanggung jawab setiap individu. Ketika keadilan ditegakkan dan kebaikan terus ditebar, masyarakat yang damai dan penuh keberkahan akan lebih mudah terwujud.


Pancasila dan Islam memiliki titik temu pada nilai-nilai universal: tauhid, keadilan, persaudaraan, musyawarah, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi untuk membangun bangsa yang kuat sekaligus diridhai Allah. Semoga kita mampu mengamalkannya, bukan sekadar menghafalnya.

Friday, August 14, 2026

Pendidikan Anak, Jalan Sunyi Menuju Surga

Pesan dari Syekh Dr. Muhammad Ratib An-Nablusi untuk 0ara ibu muslimah.


Ada sebuah nasihat yang sering dikaitkan dengan keutamaan seorang perempuan dalam mendidik anak. Disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku orang pertama yang membuka pintu surga. Tiba-tiba seorang perempuan mendahuluiku dan ingin masuk surga sebelum aku. Aku bertanya kepadanya, siapa anda? Perempuan itu menjawab: Aku adalah seorang perempuan yang menahan diri (demi mengurus) anak-anak yatimku.


Islam menempatkan pendidikan anak sebagai amanah besar. Orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikan formal, tetapi juga membentuk akhlak, iman, kebiasaan, serta cara anak memandang kehidupan.


Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa salah satu pemberian terbaik orang tua kepada anak adalah adab dan akhlak yang baik. Sebab, harta bisa habis, jabatan bisa hilang, tetapi karakter yang dibentuk sejak kecil dapat menjadi bekal yang terus melekat dalam kehidupan seorang anak.


Mendidik anak memang tidak selalu terlihat sebagai amal besar. Tidak ada panggung, tidak selalu mendapat tepuk tangan. Kadang bentuknya hanya menemani belajar, mengajarkan doa, menegur dengan lembut, memberi contoh kejujuran, atau tetap sabar ketika anak melakukan kesalahan yang sama berulang kali.


Justru di situlah beratnya. Mendidik anak membutuhkan kesabaran yang panjang, keteladanan yang konsisten, dan hati yang terus belajar. Anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada sekadar mengingat apa yang mereka dengar.


Karena itu, mendidik anak dengan iman dan akhlak bukan sekadar urusan dunia. Ia adalah bagian dari tanggung jawab akhirat. Allah SWT mengingatkan, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).


Kasih sayang kepada anak bukan berarti selalu menuruti keinginannya. Kadang cinta justru hadir dalam bentuk batasan, nasihat, disiplin, dan ketegasan yang tetap dibalut kasih sayang.


Maka, jangan remehkan pekerjaan seorang ibu atau ayah yang setiap hari mendidik anak. Bisa jadi, doa yang diajarkan hari ini menjadi amal yang terus mengalir. Akhlak yang ditanamkan hari ini menjadi kebaikan yang tumbuh jauh setelah anak dewasa.


Sebab, membesarkan anak bukan hanya tentang membuat mereka sukses di dunia. Tugas yang lebih dalam adalah membantu mereka mengenal Allah, mencintai kebaikan, berakhlak mulia, dan memiliki bekal untuk kembali kepada-Nya.


Mendidik anak adalah amal yang sering sunyi dari pandangan manusia, tetapi semoga tidak pernah luput dari pandangan Allah.



Berikut adalah redaksi hadis yang menceritakan peristiwa tersebut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُفْتَحُ لَهُ بَابُ الْجَنَّةِ، إِلَّا أَنِّي أَرَى امْرَأَةً تُبَادِرُنِي، فَأَقُولُ لَهَا: مَا لَكِ؟ وَمَنْ أَنْتِ؟ فَتَقُولُ: أَنَا امْرَأَةٌ قَعَدْتُ عَلَى أَيْتَامٍ لِي

Artinya:

"Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: 'Aku adalah orang pertama yang dibukakan pintu surga. Namun, aku melihat seorang perempuan yang hendak mendahuluiku (masuk surga). Aku lalu bertanya kepadanya: Ada apa denganmu? Siapa engkau? Perempuan itu menjawab: Aku adalah seorang perempuan yang menahan diri (demi mengurus) anak-anak yatimku.'" (HR. Abu Ya'la dan Al-Khara'ithi). [, 3]

Penjelasan dan Fakta Hadis

Siapa yang Bertanya?
Di dalam teks asli hadis riwayat Abu Ya'la ini, Nabi Muhammad SAW sendiri yang langsung bertanya kepada wanita tersebut saat di pintu surga ("Aku lalu bertanya kepadanya..."), bukan bertanya kepada Malaikat Jibril. [, 2]

Konteks Perempuan Tersebut:
Kata "qa'adtu 'ala aytamin lii" berarti wanita tersebut memilih untuk tidak menikah lagi (menjanda) setelah suaminya wafat. Ia mengorbankan masa mudanya dan fokus bekerja mencari nafkah serta mendidik anak-anak yatimnya hingga dewasa. []

Pemberian Terbaik Orang Tua:
Peristiwa ini sejalan dengan hadis Nabi lainnya tentang keutamaan mendidik anak. Rasulullah SAW bersabda: [1]

"Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik daripada adab (akhlak dan pengajaran) yang baik." (HR. At-Tirmidzi). [1]

Mengasuh dan mendidik anak, terutama saat harus berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal, memiliki derajat yang sangat mulia sampai-sampai jalannya menuju surga beriringan dekat sekali dengan Rasulullah SAW.

INI FAKTA MARMER DI DUA MASJID SUCI MAKKAH DAN MADINAH

Marmer Thassos di Dua Masjid Suci

Masjid Nabawi (Madinah) dan Masjidil Haram (Mekah) dikenal memiliki lantai marmer putih yang menakjubkan dan tetap sejuk meski suhu padang pasir sangat panas. Menurut Arab News, sejak 1978 Kerajaan Saudi secara eksklusif mengimpor Thassos marble dari Yunani untuk dua masjid ini. Marmer Thassos memiliki warna putih murni dan pantulan cahaya tinggi, sehingga menyerap panas sangat rendah. Itulah sebabnya lantainya terasa dingin meski udara mencapai 50–55 °C. Berita resmi Saudi Gazette (2026) bahkan menyebut lebih dari 117.000 m² marmer Thassos dipasang di atap dan halaman Masjid Nabawi sebagai bagian dari sistem pendingin alami.


Keunikan Marmer Thassos

Thassos adalah pulau kecil di Yunani timur yang marmernya sangat istimewa. Studi internasional mencatat bahwa marmer Thassos adalah “heat-dissipating smart marble” karena kemurnian putihnya dan kandungan dolomit yang tinggi, sehingga dapat menyerap kelembapan dan suhu dingin di malam hari untuk dilepaskan saat siang. Uji laboratorium terbaru memperlihatkan marmer ini memantulkan sebagian besar radiasi matahari dan memiliki konduktivitas termal tinggi. Dengan tebal 5 cm (120×60 cm tiap keping), permukaan masjid dapat tetap teduh tanpa tambahan sistem pendingin buatan. Singkatnya, marmer Thassos membuat lantai masjid “ringan panas” secara alami.


Sejarah Penggunaan Marmer di Masjid Suci

Impor marmer Thassos mulai pertama kali dilakukan pada era Raja Khalid (1970-an) untuk mengganti lantai utama Masjidil Haram. Menurut Profesor Salma Hawsawi (King Saud Univ), pada 1978 Raja Khalid memerintahkan perluasan Masjidil Haram dan pemasangan lantai marmer tahan panas impor dari Yunani. Hawsawi mengonfirmasi marmer itu diangkut dalam blok besar ke Arab Saudi dan diproses di pabrik-pabrik milik Grup Bin Laden Saudi, kontraktor besar yang terlibat pembangunan masjid-masjid suci. Pada ekspansi berikutnya (1985–86), Raja Fahd juga memasang marmer putih serupa di halaman Ka’bah. Dengan kedua perintah raja tersebut, hampir setengah ‘gunung’ marmer Thassos dari Yunani sudah dipakai untuk Masjidil Haram.


Muhammad Kamal Ismail, Arsitek Dua Masjid

Arsitek Mesir mualaf, Dr. Muhammad Kamal Ismail (1908–2008), adalah sosok jenius di balik desain dua masjid suci ini. Selain menciptakan teknik tata ruangnya, ia pula yang mengusulkan penggunaan marmer tahan panas dari Thassos. Kamal Ismail dikenal menolak bayaran untuk proyek pembaruan Masjidil Haram dan Nabawi sebagai dedikasi ibadah. Detik Properti dan sumber tulisan Al-Najjar menceritakan bahwa Raja Fahd dan manajemen Bin Laden Company sempat menawarkan upah besar kepadanya, tetapi ia menolak. Ia menyerahkan cek kosong dan menegaskan, “mengapa saya terima uang (di dua masjid ini)? Bagaimana saya bisa menghadapi Allah pada hari kiamat?”. Sikapnya ini sering diangkat media Indonesia dan Timur Tengah sebagai contoh amal jariyah.


Pencarian Marmer Ulang 15 Tahun Kemudian

Sekitar 15 tahun setelah pemasangan marmer di Haram, pemerintah Saudi menghubungi Kamal Ismail untuk memasang marmer serupa di Masjid Nabawi. Kamal kemudian terbang kembali ke Yunani untuk mengurus pembelian marmer baru. Namun dia terkejut menemukan stok marmer Thassos yang sama hampir habis terjual kepada pihak lain. Meski begitu, Kamal tidak menyerah. Ia berbicara dengan sekretaris penjual marmer dan meminta bantuan melacak siapa pembeli sisa marmer tersebut. Setelah menunggu beberapa jam, sekretaris itu berhasil menemukan alamat pembeli marmer itu – dan ternyata pembeli tersebut adalah sebuah perusahaan di Arab Saudi.


Penemuan Marmer di Gudang Saudi

Kamal Ismail segera kembali ke Arab Saudi dan langsung menuju kantor perusahaan tersebut. Menurut narasi Dr. Zaglool Al-Najjar (2019), sang direktur awalnya tidak ingat pembelian itu. Namun setelah menelusuri gudang stok, staf perusahaan menemukan bahwa seluruh marmer sisa tersebut masih utuh tersimpan dan belum pernah terpakai. Direktur itu mengonfirmasi bahwa jumlah marmer tersebut ternyata mencukupi kebutuhan lantai Masjid Nabawi. Fakta ini sesuai dengan penyataan Prof. Hawsawi yang mencatat bahwa marmer Thassos diolah oleh Grup Bin Laden Saudi. Jika perusahaan itu memang Bin Laden Group, maka kemungkinan besar merekalah yang membeli marmer puluhan tahun lalu.


Reaksi Emosional dan Cek Kosong

Mendapati kabar stok marmer masih ada, Kamal Ismail terharu hingga meneteskan air mata. Ia kemudian mengeluarkan sebuah cek kosong dan mempersilakan direktur perusahaan tersebut menuliskan harga marmer berapapun. Namun ketika direktur mengetahui marmer itu akan dipakai untuk Masjid Nabawi (Rasulullah SAW), ia pun menolak menerima bayaran sepeser pun. Ia berkata, “Saya tidak akan menerima satu rial pun. Allah Swt yang memerintahkan saya membeli marmer ini, mungkin memang ditakdirkan untuk Masjid Rasulullah”. Akhirnya semua marmer tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada Kamal Ismail untuk dipasang di Masjid Nabawi.


Marmer Thassos Baru untuk Masjid Nabawi

Berkat peristiwa itu, lantai baru Masjid Nabawi berhasil dilapisi marmer Thassos putih tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Kini lebih dari 117.000 m² marmer Thassos sudah menjadi bagian Masjid Nabawi (termasuk area atap dan halaman). Lantai ini terus dijaga kualitasnya melalui pemeliharaan rutin dan pembersihan khusus. Marmer tersebut terkenal sangat dingin bahkan saat siang terik, membuat jutaan jamaah yang beribadah merasakannya tetap sejuk. Dengan demikian, upaya berani Kamal Ismail memastikan masjid suci tetap nyaman bagi umat.


Verifikasi Fakta & Kesimpulan

Cerita tentang marmer Thassos dan arsitek Kamal Ismail kini banyak tersebar di media. Kabar ini didukung sumber-sumber terverifikasi terkait marmer Thassos, yaitu artikel Arab News dan Saudi Gazette yang menjelaskan penggunaan marmer tersebut. Sumber sejarah (Prof. Hawsawi) memaparkan kronologi impor marmer sejak 1978, dan Saudi Gazette baru-baru ini mencatat luasan 117.000 m² marmer di Masjid Nabawi. Sementara kisah detail “cek kosong” berasal dari narasi Dr. Al-Najjar (ilmuwan geologi) yang kemudian disebarkan di blog dan media Indonesia. Tidak ada publikasi resmi yang menyebut nama perusahaan Saudi tersebut secara eksplisit, tetapi fakta bahwa marmer diolah oleh Grup Bin Laden terbukti dari pernyataan akademik. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan: penggunaan marmer Thassos di Masjid Nabawi adalah kenyataan berlapis ilmu. Cerita mengharukan tentang Kamal Ismail dan marmer gratis berasal dari narasi berulang yang didukung oleh beberapa sumber (Arab News, Saudi Gazette) dan penelitian terkait, sehingga patut dianggap cukup meyakinkan meski elemen detailnya lebih bersifat anekdot.


Sumber: Fakta marmer Thassos dan kisah Muhammad Kamal Ismail diperoleh dari laporan Arab News dan Saudi Gazette, serta artikel sejarah dan jurnal komunitas (narasiliterasi, Detik, tulisan Dr. Zaglool Al-Najjar) yang mendokumentasikan narasi proyek perluasan Masjidil Haram dan Nabawi. Semua pernyataan penting dalam tulisan ini telah didukung bukti dokumenter.

Thursday, August 13, 2026

ISTIDRAJ

Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ


“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah." (HR. Ahmad 4: 145).


Allah Ta'ala berfirman,


فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ


“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al An'am: 44)


Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, "Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”


Syaikh As Sa'di menyatakan, "Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.”


Disebutkan dalam surat Al Qalam kisah pemilik kebun berikut ini yang mengalami istidraj


إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (17) وَلَا يَسْتَثْنُونَ (18) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (19) فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (20) فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ (21) أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ (22) فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ (23) أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ (24) وَغَدَوْا عَلَى حَرْدٍ قَادِرِينَ (25) فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ (26) بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (27) قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ (28) قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ (29) فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ (30) قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ (31) عَسَى رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا رَاغِبُونَ (32) كَذَلِكَ الْعَذَابُ وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (33)


17. Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)-nya di pagi hari,

18. dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),

19. lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur,

20. maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.

21. lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:

22. "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.”

23. Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik.

24. "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.”

25. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya).

26. Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),

27. bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)

28. Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)

29. Mereka mengucapkan: "Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

30. Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela mencela.

31. Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.”

32. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.

33.Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui. (QS. Al Qalam: 17-33).


Syaikh As Sa'di rahimahullah menerangkan, "Kisah di atas menunjukkan bagaimanakah akhir keadaan orang-orang yang mendustakan kebaikan. Mereka telah diberi harta, anak, umur yang panjang serta berbagai nikmat yang mereka inginkan. Semua itu diberikan bukan karena mereka memang mulia. Namun diberikan sebagai bentuk istidraj tanpa mereka sadari.“


WaLLAAHUa'lam