Allah, Ya Dzal Jalali wal Ikram
Lilin tak pernah memilih siapa yang boleh menikmati cahayanya.
Ia hanya menyala, memberi terang, tanpa banyak bertanya. Namun ironisnya, orang yang paling dekat justru sering menjadi orang pertama yang melihatnya perlahan habis.
Begitulah hidup.
Ada orang tua yang diam-diam menghabiskan tenaganya demi keluarga.
Ada pasangan yang terus mengalah, meski hatinya tak selalu baik-baik saja.
Ada sahabat yang tetap hadir ketika yang lain memilih pergi.
Kita begitu terbiasa menikmati “cahaya” mereka, sampai lupa bahwa ada sesuatu yang sedang mereka korbankan.
Kita menikmati perhatian, tapi lupa bertanya apakah mereka juga sedang lelah.
Kita menerima pengorbanan, tapi jarang menyadari berapa banyak yang telah mereka relakan.
Dan sering kali, manusia baru memahami betapa berharganya sebuah cahaya setelah ia benar-benar padam.
Maka, sebelum terlambat, belajarlah menghargai orang-orang yang selama ini menjadi penerang dalam hidup kita.
Jangan hanya datang ketika membutuhkan cahayanya.
Sesekali, tanyakan juga: “Kamu baik-baik saja?”
Sebab bisa jadi, di balik senyumnya yang tetap menyala, ada seseorang yang sedang perlahan kehabisan dirinya.
Semoga Allah menjaga dan membalas setiap kebaikan orang-orang yang diam-diam berkorban untuk kita.
Jangan tunggu gelap untuk menyadari arti sebuah cahaya.
Lilin tidak memilih siapa yang menikmati cahayanya. Ia hanya menjalankan kodratnya untuk menerangi. Namun cahaya yang bijaksana juga tahu kapan menjaga nyalanya, karena lilin yang padam tidak lagi mampu menerangi siapa pun."
Saat membaca ini, siapa orang pertama yang langsung terlintas di pikiranmu?

0 comments :
Post a Comment