Friday, August 14, 2026

INI FAKTA MARMER DI DUA MASJID SUCI MAKKAH DAN MADINAH

Marmer Thassos di Dua Masjid Suci

Masjid Nabawi (Madinah) dan Masjidil Haram (Mekah) dikenal memiliki lantai marmer putih yang menakjubkan dan tetap sejuk meski suhu padang pasir sangat panas. Menurut Arab News, sejak 1978 Kerajaan Saudi secara eksklusif mengimpor Thassos marble dari Yunani untuk dua masjid ini. Marmer Thassos memiliki warna putih murni dan pantulan cahaya tinggi, sehingga menyerap panas sangat rendah. Itulah sebabnya lantainya terasa dingin meski udara mencapai 50–55 °C. Berita resmi Saudi Gazette (2026) bahkan menyebut lebih dari 117.000 m² marmer Thassos dipasang di atap dan halaman Masjid Nabawi sebagai bagian dari sistem pendingin alami.


Keunikan Marmer Thassos

Thassos adalah pulau kecil di Yunani timur yang marmernya sangat istimewa. Studi internasional mencatat bahwa marmer Thassos adalah “heat-dissipating smart marble” karena kemurnian putihnya dan kandungan dolomit yang tinggi, sehingga dapat menyerap kelembapan dan suhu dingin di malam hari untuk dilepaskan saat siang. Uji laboratorium terbaru memperlihatkan marmer ini memantulkan sebagian besar radiasi matahari dan memiliki konduktivitas termal tinggi. Dengan tebal 5 cm (120×60 cm tiap keping), permukaan masjid dapat tetap teduh tanpa tambahan sistem pendingin buatan. Singkatnya, marmer Thassos membuat lantai masjid “ringan panas” secara alami.


Sejarah Penggunaan Marmer di Masjid Suci

Impor marmer Thassos mulai pertama kali dilakukan pada era Raja Khalid (1970-an) untuk mengganti lantai utama Masjidil Haram. Menurut Profesor Salma Hawsawi (King Saud Univ), pada 1978 Raja Khalid memerintahkan perluasan Masjidil Haram dan pemasangan lantai marmer tahan panas impor dari Yunani. Hawsawi mengonfirmasi marmer itu diangkut dalam blok besar ke Arab Saudi dan diproses di pabrik-pabrik milik Grup Bin Laden Saudi, kontraktor besar yang terlibat pembangunan masjid-masjid suci. Pada ekspansi berikutnya (1985–86), Raja Fahd juga memasang marmer putih serupa di halaman Ka’bah. Dengan kedua perintah raja tersebut, hampir setengah ‘gunung’ marmer Thassos dari Yunani sudah dipakai untuk Masjidil Haram.


Muhammad Kamal Ismail, Arsitek Dua Masjid

Arsitek Mesir mualaf, Dr. Muhammad Kamal Ismail (1908–2008), adalah sosok jenius di balik desain dua masjid suci ini. Selain menciptakan teknik tata ruangnya, ia pula yang mengusulkan penggunaan marmer tahan panas dari Thassos. Kamal Ismail dikenal menolak bayaran untuk proyek pembaruan Masjidil Haram dan Nabawi sebagai dedikasi ibadah. Detik Properti dan sumber tulisan Al-Najjar menceritakan bahwa Raja Fahd dan manajemen Bin Laden Company sempat menawarkan upah besar kepadanya, tetapi ia menolak. Ia menyerahkan cek kosong dan menegaskan, “mengapa saya terima uang (di dua masjid ini)? Bagaimana saya bisa menghadapi Allah pada hari kiamat?”. Sikapnya ini sering diangkat media Indonesia dan Timur Tengah sebagai contoh amal jariyah.


Pencarian Marmer Ulang 15 Tahun Kemudian

Sekitar 15 tahun setelah pemasangan marmer di Haram, pemerintah Saudi menghubungi Kamal Ismail untuk memasang marmer serupa di Masjid Nabawi. Kamal kemudian terbang kembali ke Yunani untuk mengurus pembelian marmer baru. Namun dia terkejut menemukan stok marmer Thassos yang sama hampir habis terjual kepada pihak lain. Meski begitu, Kamal tidak menyerah. Ia berbicara dengan sekretaris penjual marmer dan meminta bantuan melacak siapa pembeli sisa marmer tersebut. Setelah menunggu beberapa jam, sekretaris itu berhasil menemukan alamat pembeli marmer itu – dan ternyata pembeli tersebut adalah sebuah perusahaan di Arab Saudi.


Penemuan Marmer di Gudang Saudi

Kamal Ismail segera kembali ke Arab Saudi dan langsung menuju kantor perusahaan tersebut. Menurut narasi Dr. Zaglool Al-Najjar (2019), sang direktur awalnya tidak ingat pembelian itu. Namun setelah menelusuri gudang stok, staf perusahaan menemukan bahwa seluruh marmer sisa tersebut masih utuh tersimpan dan belum pernah terpakai. Direktur itu mengonfirmasi bahwa jumlah marmer tersebut ternyata mencukupi kebutuhan lantai Masjid Nabawi. Fakta ini sesuai dengan penyataan Prof. Hawsawi yang mencatat bahwa marmer Thassos diolah oleh Grup Bin Laden Saudi. Jika perusahaan itu memang Bin Laden Group, maka kemungkinan besar merekalah yang membeli marmer puluhan tahun lalu.


Reaksi Emosional dan Cek Kosong

Mendapati kabar stok marmer masih ada, Kamal Ismail terharu hingga meneteskan air mata. Ia kemudian mengeluarkan sebuah cek kosong dan mempersilakan direktur perusahaan tersebut menuliskan harga marmer berapapun. Namun ketika direktur mengetahui marmer itu akan dipakai untuk Masjid Nabawi (Rasulullah SAW), ia pun menolak menerima bayaran sepeser pun. Ia berkata, “Saya tidak akan menerima satu rial pun. Allah Swt yang memerintahkan saya membeli marmer ini, mungkin memang ditakdirkan untuk Masjid Rasulullah”. Akhirnya semua marmer tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada Kamal Ismail untuk dipasang di Masjid Nabawi.


Marmer Thassos Baru untuk Masjid Nabawi

Berkat peristiwa itu, lantai baru Masjid Nabawi berhasil dilapisi marmer Thassos putih tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Kini lebih dari 117.000 m² marmer Thassos sudah menjadi bagian Masjid Nabawi (termasuk area atap dan halaman). Lantai ini terus dijaga kualitasnya melalui pemeliharaan rutin dan pembersihan khusus. Marmer tersebut terkenal sangat dingin bahkan saat siang terik, membuat jutaan jamaah yang beribadah merasakannya tetap sejuk. Dengan demikian, upaya berani Kamal Ismail memastikan masjid suci tetap nyaman bagi umat.


Verifikasi Fakta & Kesimpulan

Cerita tentang marmer Thassos dan arsitek Kamal Ismail kini banyak tersebar di media. Kabar ini didukung sumber-sumber terverifikasi terkait marmer Thassos, yaitu artikel Arab News dan Saudi Gazette yang menjelaskan penggunaan marmer tersebut. Sumber sejarah (Prof. Hawsawi) memaparkan kronologi impor marmer sejak 1978, dan Saudi Gazette baru-baru ini mencatat luasan 117.000 m² marmer di Masjid Nabawi. Sementara kisah detail “cek kosong” berasal dari narasi Dr. Al-Najjar (ilmuwan geologi) yang kemudian disebarkan di blog dan media Indonesia. Tidak ada publikasi resmi yang menyebut nama perusahaan Saudi tersebut secara eksplisit, tetapi fakta bahwa marmer diolah oleh Grup Bin Laden terbukti dari pernyataan akademik. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan: penggunaan marmer Thassos di Masjid Nabawi adalah kenyataan berlapis ilmu. Cerita mengharukan tentang Kamal Ismail dan marmer gratis berasal dari narasi berulang yang didukung oleh beberapa sumber (Arab News, Saudi Gazette) dan penelitian terkait, sehingga patut dianggap cukup meyakinkan meski elemen detailnya lebih bersifat anekdot.


Sumber: Fakta marmer Thassos dan kisah Muhammad Kamal Ismail diperoleh dari laporan Arab News dan Saudi Gazette, serta artikel sejarah dan jurnal komunitas (narasiliterasi, Detik, tulisan Dr. Zaglool Al-Najjar) yang mendokumentasikan narasi proyek perluasan Masjidil Haram dan Nabawi. Semua pernyataan penting dalam tulisan ini telah didukung bukti dokumenter.

0 comments :

Post a Comment