Al-Muayyad Mangkuyudan
Suatu hari kepala pengurus pondok (biasa disebut Lurah Pondok) merasa pusing bukan kepalang mengatasi santri-santri nakal yang kerap membikin ulah. Maka, sang lurah pun melaporkan masalah ini kepada Kiai Umar.
Mendapat laporan soal santri-santri yang nakal ini, Kiai Umar kemudian memanggil Lurah Pondok. “Kang, tolong catat nama santri-santri yang nakal ya? Diranking ya? Paling atas paling nakal. Urutannya, paling nakal, nakal sekali, nakal, agak nakal.” kata Kiai Umar
Mendapati perintah demikian, Lurah Pondok merasa senang bukan kepalang. Dalam bayangan Lurah Pondok, beban sebagai seorang kepala pengurus pesantren bisa sedikit berkurang. Setidaknya, tidak akan melihat lagi para santri nakal, pikirnya.
“Kapokmu kapan lee. Dikasih tahu pengurus pondok ngeyel saja. Sekarang namamu tak tulis pakai spidol besar-besar,” kata Lurah Pondok girang sekembalinya ke kantor pengurus pondok.
Dengan semangat Lurah Pondok menulis beberapa nama santri nakal. Setelah selesai mendaftar beberapa nama santri Nakal, ia langsung melapor. “Ini, Kiai,” katanya kepada Kiai Umar.
Lurah Pondok kemudian pamit dan menunggu keputusan Kiai Umar. Seminggu, dua minggu, tiga minggu. “Kok tidak apa-apa?” batin Lurah Pondok, heran.
Santri-santri nakal itu masih saja berkeliaran di pesantren. Jangankan diusir atau dikeluarkan dari pesantren, dipanggil ke Ndalem (rumah kiai) untuk menghadap Kiai Umar saja tidak.
Kisah inilah yang kemudian menginspirasi Lurah Pondok yang di kemudian hari menerapkan cara yang sama dalam menghadapi santri nakal di pesantren yang diasuhnya. Lurah Pondok ini adalah KH. Baidlowi Syamsuri pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Brabu, Purwodadi, Jawa Tengah.
Bukan hanya mendoakan, Kiai Baidlowi juga sering menggunakan cara yang sama dengan Kiai Umar: menjamu santri nakal makan di kediamannya untuk diajak bicara dan dinasehati baik-baik.
Cara yang sama juga dilakukan Kiai Ali Maksum (teman Kiai Umar), pendiri Pondok Pesantren Ali-Maksum Krapyak. Beliau sering mengajak santri-santrinya yang nakal untuk jalan-jalan naik sepeda onthel dan menyuruh mereka sering-sering main ke kediamannya. Bahkan si santri kadang dijamu layaknya tamu kehormatan.
Sumber: pecihitam.org
omahsantri.id
0 comments :
Post a Comment