Tidak Semua Perdebatan Layak Diperjuangkan. Ada yang Hanya Menguras Energi.
Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan memilih mana yang layak diperjuangkan. Tidak semua orang siap menerima kebenaran, dan tidak setiap perbedaan harus diselesaikan dengan perdebatan.
Ada beberapa tipe orang yang sering kali membuat diskusi berubah menjadi ajang menguras tenaga.
1. Orang yang bermental korban (Playing Victim)
Orang ini pokoknya tidak mau kalah, karena merasa si-PALING. Yang lain harus ngalah karena dia sudah "PALING", sipaling minta dijaga perasaanya.
2. Close Minded, orang yang pikirannya ketutup, cenderung denial, jadi tidak bisa diajak berdebat, berpikir atau beradu argumen dengan sehat.
3. SDM rendah, tidak bisa diukur dari dengan pendidikan yang sudah dicapai di jenjang pendidikan. Tapi lebih ke self improvement yang rendah. Ini lebih ke rendahnya skill, karakter, manner, atitude, wawasan adab dan mindset/ pola pikir.
Walaupun faktor pendidikan dan ekonomi hanya salah satu faktor pembentuk SDM rendah, tapi bukan definisi SDM rendah. Tapi banyak juga yang ga punya previlege pendidikan dan ekonomi yang baik, karena tempaan hidupnya justru yang melahirkan empati, punya atitude, keinginan belajar, manner, pembawaan diri, kerendahan hati, semangat hidup yang lebih bagus.
5. Merasa Senior. Debat dengan mereka yang menganggap dirinya lebih benar karena mereka lebih tua, lebih dewasa. Pokoknya orang tua tidak pernah salah, mendebat orang yang lebih tua dianggap durhaka, dicap kurang ajar, yang kata andalannya "tau apa kamu, saya lebih tua dari kamu", "kamu itu junior disini, jangan belagu, jangan ngelunjak ya?!!, "bisa apa kamu?!!, "harus hormat dong sama senior" "kamu lahirnya duluan saya". Merasa " I have a power" Merasa lebih senior, merasa hidup lebih lama, merasa hidup harus berhenti di masanya dia, padahal hidup sudah mengalami kemajuan.
6. Debat dengan orang NPD Narsisistik Personality Disorder
Dalam beberapa kasus, mereka sulit menerima kritik, selalu ingin dipuji, dan merasa dirinya paling benar. Berdiskusi dengan pola seperti ini sering kali tidak menghasilkan titik temu.
BAGAIMANA TREATMENT NYA?
1. Punya kesadaran akan keterbatasan diri dan punya kemauan buat belajar dan berubah jadi lebih baik.
2. Mulai belajar dari etika dan attitude dasar-belajar tau kapan harus diam dan bicara, tida menyela omongan orang, gestur tubuh yang sopan, table manner, dsb.
3. Belajar terus, khususnya soal pengetahuan umum. rajin-rajinlah membaca, biasakan membaca sampai selesai, biasakan mendengar sampai selesai, dan sambil diolah di kepala.
4. Merubah mindset (ini yang paling PR, apalagi kalau udah keburu tua), jangan selalu punya mental kurang, mental korban, dan mental adu nasib. kita belajar bersyukur buat keadaan kita, tudak iri sama rejeki orang lain, dan tetap semangat mrnjalani hidup. rendah hati itu harus, tapi jangan rendah diri. melatih diri untuk punya rasa cukup. percaya diri tapi jangan juga jadi sok pinter. stop sebut diri kita ini miskin atau susah. ucapan adalah doa dan manifestasi kita, jadi ucapkanlah yang baik.
5. Belajar menghargai perbedaan pendapat. dunia bukan hanya berputar untuk kita. belajar jangan jadi sumbu pendek.
6. Demua informasi yang kita dengar perlu kita cek ulang. jangan biasakan menelan info mentah-mentah. latih otak untuk berpikir dan menalar. jangan gampang percaya kalo hanya mendengar dari satu sisi atau satu sumber.
7. Pilih lingkungan bergaul yang sehat dan berpotensi membuat kita maju.
8. Seimbangkan kepintaran intelektual, emosional, dan spiritual kita.
9. Jangan anti kritik dan teguran. latih diri untuk ngga mudah tersinggung.
10. Konsumsi hal-hal yang baik-makanan, bacaan, musik, tontonan, hiburan, dan obrolan. saring supaya apa yang masuk ke diri kita ini yang baik bukan yang buruk.

0 comments :
Post a Comment