Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak memaafkan adalah cara untuk menghukum orang yang telah menyakiti kita.
Seolah-olah, "Kalau aku tidak memaafkanmu, biarlah kamu yang merasakan akibatnya."
Padahal, sering kali yang paling tersiksa justru diri sendiri.
Hati menjadi sempit, pikiran dipenuhi beban, perut terasa sesak, tidur pun tak lagi nyenyak. Orang yang kita benci mungkin sudah melanjutkan hidupnya, sementara kita masih terpenjara oleh luka yang sama.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan adalah membebaskan hati dari belenggu yang selama ini mengikatnya.
Dalam hidup, rasa sakit memang tidak selalu bisa dihindari. Namun terus memelihara kesengsaraan adalah pilihan.
Allah Maha Mengetahui setiap luka yang kita simpan. Jika Allah saja menutup begitu banyak aib dan memberi begitu banyak kesempatan kepada hamba-Nya, bukankah kita juga perlu belajar melapangkan hati?
Lepaskan. Ikhlaskan. Bukan karena mereka pantas dimaafkan, tetapi karena hatimu pantas merasakan ketenangan.
Sebab, hati yang dipenuhi dendam sulit menjadi tempat turunnya ketenangan dari Allah.
0 comments :
Post a Comment