Pernahkah kita merasa semakin sulit mendapatkan sesuatu, justru semakin besar keinginan untuk memilikinya? Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai scarcity effect atau efek kelangkaan. Ini adalah bias kognitif yang membuat seseorang menilai suatu barang, layanan, atau peluang lebih berharga hanya karena jumlahnya terbatas. Bukan karena kualitasnya pasti lebih baik, melainkan karena otak kita menganggap sesuatu yang langka pasti bernilai tinggi.
Efek ini juga memicu rasa takut kehilangan kesempatan atau Fear of Missing Out (FOMO). Bahkan, bisa dikatakan tidak ada komoditas yang lebih mahal daripada FOMO. Saat rasa takut tertinggal menguasai pikiran, logika perlahan memudar. Kita menjadi terburu-buru mengambil keputusan tanpa sempat mempertimbangkan apakah harga yang dibayar benar-benar sepadan dengan manfaat yang diperoleh.
Contohnya dapat kita lihat pada tiket kereta api. Semakin sulit tiket didapatkan, semakin sedikit orang yang mempertanyakan harganya. Fokus mereka bergeser dari "apakah harganya masuk akal?" menjadi "yang penting dapat tiket." Padahal, belum tentu masalahnya terletak pada tingginya permintaan. Bisa saja solusinya adalah menambah jumlah gerbong sehingga kapasitas meningkat dan harga tiket menjadi lebih terjangkau.
Menariknya, jika diperhatikan, rangkaian gerbong kereta barang / paket, sering kali lebih panjang daripada rangkaian gerbong kereta penumpang. Gambaran sederhana ini menunjukkan bahwa kelangkaan tidak selalu terjadi karena sumber daya benar-benar terbatas. Dalam banyak situasi, kelangkaan bisa muncul karena kapasitas yang belum ditambah atau pasokan yang memang dibiarkan tetap terbatas. Ketika pasokan sedikit sementara permintaan tinggi, persepsi nilai pun ikut melonjak.
0 comments :
Post a Comment