Pernah membaca sebuah kutipan yang sampai sekarang masih membekas. Kurang lebih isinya seperti ini:
"Kalau suatu hari kamu datang bersilaturahmi ke rumah seseorang, lalu mereka dengan tulus membukakan pintu untukmu, tetapi yang justru kamu perhatikan hanya debu di sofa atau piring kotor yang belum sempat dicuci, sebaiknya jangan datang lagi ke rumah itu. Bukan karena rumah mereka yang kotor, melainkan karena hatimu yang belum bersih."
Ada makna yang sangat dalam di baliknya.
Saat seseorang mempersilakan kita masuk ke rumahnya, sebenarnya ia sedang membuka ruang pribadinya. Di sana ada kepercayaan, ketulusan, dan penghormatan yang ia berikan kepada kita. Jangan sampai semua itu tertutupi hanya karena mata kita sibuk mencari kekurangan.
Sayangnya, sebagian orang lebih mudah melihat noda daripada ketulusan. Lebih cepat menghakimi daripada memahami. Padahal, setiap rumah menyimpan cerita, setiap keluarga memiliki ujian, dan tidak semua hal harus tampak sempurna di mata manusia.
Islam mengajarkan kita untuk menjaga adab, menghormati sesama, dan berbaik sangka. Sebab, hati yang dipenuhi prasangka akan selalu menemukan alasan untuk mengkritik. Sebaliknya, hati yang bersih akan lebih mudah menemukan alasan untuk bersyukur dan menghargai.
Hidup bukan tentang mencari manusia yang tanpa cela. Tidak ada rumah yang selalu rapi, sebagaimana tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Yang jauh lebih penting adalah belajar menghargai kebaikan orang lain, membalas kepercayaannya dengan adab, dan menjaga hati agar tidak sibuk mengukur kekurangan sesama.
Semoga Allah membersihkan hati kita, menjadikan lisan kita lembut, pandangan kita penuh husnuzan, dan langkah kita selalu membawa kebaikan di mana pun kita bertamu. Aamiin.
0 comments :
Post a Comment