This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, September 12, 2020

PEREMPUAN ULAMA DI ATAS PANGGUNG SEJARAH

Saya selalu merasa indah untuk menyanyikan puisi-puisi yang memesona, gubahan Raja Penyair Arab terkemuka : Ahmad Syauqi, ini.

هَذَا رَسُولُ اللهِ لَمْ يَنْقُصْ حُقُوقَ المُؤْمِنَاتِ

الْعِلْمُ كَانَ شَرِيعَةً لِنِسَآئِهِ المُتُفَقِّهَاتِ

رُضْنَ التِّجَارَةَ وَالسِّيَا سَةَ وَالشُّؤُونَ الأُخْرَيَاتِ

وَلَقَدْ عَلَتْ بِبَنَاتِهِ لُجَجُ العُلُومِ الزَّاخِرَاتِ

كَانَتْ سُكَيْنَةُ تَمْلَأُ الدُّنْـ يَا وَتَهْزَأُ بِالرُّوَاةِ

رَوَتِ الحَدِيثَ وَفَسَّرَتْ آيَ الْكِتَابِ البَيِّنَاتِ

وَحَضَارَةُ الإِسْلَامِ تَنْـ طِقُ عَنْ مَكَانِ المُسْلِمَاتِ

بَغْدَاد دَارُ العَالِمَا تِ وَمَنْزِلُ المُتَأَدِّبَاتِ

وَدِمَشْقُ تَحْتَ أُمَيَّة أُمُّ الجَوَارِي النَّابِغَاتِ

وَرِيَاضُ أَنْدَلُسْ نَمَيْـ نَ الهَاتِفَاتِ الشَّاعِرَاتِ


Lihatlah

Utusan Tuhan ini

Ia tak pernah mencatut hak-hak perempuan beriman

Ilmu pengetahuan menjadi jalan hidup keluarganya

Mereka menjadi pengusaha,

Ahli hukum,

Aktivis politik, kebudayaan dan sastra


Berkat putri-putri Nabi

Gelombang pengetahuan menjulang ke puncak langit


Lihatlah, Sukainah

Namanya menebar harum di seluruh pojok bumi

Ia mengajarkan kata-kata Nabi

Dan menafsirkan kitab suci


Lihatlah

Buku-buku dan kaligrafi yang indah

Bercerita tentang ruang

Perempuan-perempuan Islam yang gagah


Baghdad

adalah rumah perempuan-perempuan cerdas

Padepokan perempuan-perempuan elok

Yang mengaji huruf-huruf suci dan menulis sastra

Damaskus zaman Umayyah

adalah sang ibu bagi gadis-gadis cendekia

Tempat pertemuan seribu perempuan piawai.


Taman-taman Andalusia

merekah bunga warna-warni

Perempuan-perempuan cantik bernyanyi riang

Dan gadis-gadis anggun membaca puisi


Puisi-puisi di atas menggambarkan fenomena dan realitas perempuan Islam di atas panggung sejarah Islam awal. Pusat-pusat peradaban Islam, paling tidak di tiga kota metropolitan, pusat peradaban dunia saat itu: Damaskus (Siria), Baghdad (Irak) dan Andalusia (Spanyol) memperlihatkan aktifitas, peran dan posisi kaum perempuan dalam ruang publik, politik, ekonomi dan budaya.

Fakta-fakta sejarah dalam peradaban awal Islam ini menunjukkan dengan pasti betapa banyak perempuan yang menjadi ulama, cendikia dan intelektual, dengan beragam keahlian dan dengan kapasitas intelektual yang relatif sama dengan bahkan sebagian mengungguli ulama laki-laki. Fakta ini juga dengan sendirinya telah menggugat anggapan banyak orang bahwa akal, intelektualitas, kecerdasan dan moralitas perempuan lebih rendah dari akal, intelektualitas dan moralitas laki-laki.

Islam hadir untuk sebuah cita-cita kemanusiaan universal : membebaskan penindasan, diskriminasi dan kebodohan menuju perwujudan kehidupan yang setara, berkeadilan dan berilmu pengetahuan bagi semua manusia : laki-laki dan perempuan.


Nama-nama perempuan ulama/intelektual/cendikia, perjalanan hidup dan karya-karya mereka terekam dengan baik dalam banyak buku dan tgerukir indah dalam kaligrafi. Ibnu Hajar, seorang ahli hadits terkemuka dalam bukunya : “Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah”, menyebut 500 perempuan ahli hadits dan menulis jejak langkah mereka. Nama-nama mereka juga ditulis ahli sejumlah ulama : Imam Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi dl-Dimasyq, muhaddits faqih besar dalam “Tahzib al-Asma wa al-Rijal”. Khalid al-Baghdadi (1779-1827 M), seorang sufi besar menulis ratusan perempuan ulama dan cendikia dalam bukunya yang sangat terkenal : “Tarikh Baghdad”. Juga Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad (784-845 M), seorang sejarawan awaal terkemuka menulis mencatat nama-nama dan sejarah hidup mereka dalam karyanya yang termasyhur “Al-Thabaqat”. Demikian juga Imam al-Sakhawi, seorang sejarawan, ahli hadits, tafsir dan sastra, dalam bukunya “al-Dhaw al-Lami’ li Ahli al-Qarn al-Tasi’” dan lain-lain.

Ignaz Goldziher, intelektual, peneliti dan orientalis masyhur menyebut paling tidak 15 % ulama ahli hadits adlh perempuan.  Harap dicatat bahwa dalam konteks Islam awal, makna “ilmu pengetahuan”, tidak terbatas hanya menunjuk pada ilmu pengetahuan keagamaan atau “al-Ulum al-Diniyyah”, melainkan semua disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran, fisika, matematika, astronomi, sastra, sosiologi, filsafat, dan ilmu2 humaniora lainnya. Sepanjang ilmu itu berguna bagi masyarakat, maka adalah ilmu agama.

Jumlah ulama perempuan yg lebih sedikit dari ulama laki-laki bukanlah sesuatu yg essensial. Satu atau dua orang perempuan ulama saja sebenarnya sdh cukup utk membuktikan bhw perempuan memiliki potensi dan kwalitas intelektual dan moral yg tidak selalu lebih rendah atau lebih lemah dr kaum laki-laki. Dlm banyak fakta, ulama berjenis kelamin perempuan justeru lebih unggul dan lebih terhormat daripada ulama berjenis kelamin laki-laki. Jadi relatif saja. Hal itu merupakan konstruksi social, kebudayaan dan politik.

Soalnya terletak kepada apakah kita, masyarakat, budaya, tradisi, politik, instrumen2 hukum, pandangan keagamaan dan kebijakan lain memberi ruang dan akses yg sama untuk laki-laki dan perempuan. Para perempuan ulama tersebut dlm sejarahnya tlh mengambil perannya sbg tokoh agama, tokoh intelektual dan ilmu pengetahuan, tokoh politik dan tokoh dgn moralitas yg terpuji. Aktifitas mrk tdk hanya dalam ruang domestik (rumah) melainkan jg dlm ruang publik politik dalam arti yg lebih luas. Mereka bekerjasama dgn ulama laki-laki membangun peradaban Islam. Adalah menarik bhw kehadiran tubuh mrk di ruang publik bersama kaum laki2 tidak pernah dipersoalkan. Dr. Asma al-Murabit, direktur Pusat Studi Islam dan Gender, Maroko, menulis dgn indah : "Kuliah keilmuan Islam diikuti oleh mahasiswa laki-laki dan perempuan. Kami tidak menemukan, dalam generasi Islam awal, para cendikia yang tidak belajar kpd perempuan, kecuali bbrp saja. Pendidikan diberikan untuk laki-laki dan perempuan secara sama, dan tidak ada pemisah ruang antara laki-laki dan perempuan. Pada masa ini jarang sekali seorang ulama laki-laki yg tidak belajar kpd perempuan ulama”.

Ulama Besar Laki-laki Murid Perempuan Ulama

Sejarah orang-orang besar adalah sejarah perempuan-perempuan. Mereka dilahirkan dan dididik oleh seorang perempuan. Sebagian para perempuan itu adalah ulama. Keulamaan perempuan dan peran mereka sebagai guru para ulama laki-laki telah hadir sejak awal sejarah Islam. Sebagian mereka menjadi guru para sahabat laki-laki. Antara lain :


Aisyah bint Abu Bakar. Ia disebut sebagai “A’lam al-Nas wa Afqah al-Nas wa Ahsan al-Nas Ra’yan fi al-‘Ammah” (orang paling pandai, paling faqih dan paling baik di antara semua orang). Al-Dzahabi dalam “Siyar A’lam al-Nubala” (riwayat hidup ulama-ulama cerdas) mengatakan: “tidak kurang dari 160 sahabat laki-laki mengaji pada Siti Aisyah”. Sebagian ahli hadits lain menyebut :

Murid-murid Aisyah ada 299 orang: 67 perempuan dan 232 laki-laki.

Umm Salamah binti Abi Umayyah mengajar 101 orang : 23 perempuan dan 78 laki-laki.

Hafshah binti Umar : 20 murid: 3 perempuan dan 17 laki-laki.

Hujaimiyah al-Washabiyyah : 22 murid laki-laki.

Ramlah bint Abi Sufyan : 21 murid : 3 perempuan dan 18 laki-laki.

Fatimah binti Qais : 11 murid laki-laki. (Baca : Muhammad al-Habasy, Al-Mar’ah Baina al-Syari’ah wa al-Hayah, hlm. 16)

Ibn Arabi, adalah sufi terbesar, (al-Syekh al-Akbar) sepanjang zaman. Kebesarannya diperokeh dari kaum perempuan. Ia banyak menimba ilmu dari mereka. Pandangan-pandangannya tentang teori "Wahdah al-Wujud" memeroleh inspirasi dari perempuan. Paling tidak ada tiga orang perempuan ulama yang menjadi guru Ibn Arabi. Pertama, Fakhr al-Nisa. Perempuan ini adalah sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Ibnu Arabi mengatakan :

“Aku datang menemuinya untuk mendengarkan tutur katanya, karena riwayat hadits dia kelas tinggi. Ketika pertama kali aku mendengarnya aku menulis surat kepadanya :

حالى وحالك فى الرواية واحد ما القصد الا العلم و استعماله "Keadaanku dan keadaanmu dalam soal riwayat adalah sama. Tujuanku ke sini hanyalah untuk menambah ilmu dan mengamalkannya". Kpd perempuan ulama ini, Ibn Arabi  mengaji kitab hadits “Sunan al-Tirmidzîy”. Ibnu Arabi mengatakan : "Aku mendengar/mengaji “Sunan Tirmidzi” kpd orang Makkah yg jadi Imam masyarakat di negeri yang aman damai”  Kedua, Qurrah al-Ain. Pertemuannya dgn perempuan ulama ini terjadi ketika Ibn Arabi tengah asyik tawaf. Katanya, “Hubunganku dgnya sangat dekat. Aku mengaji kpdnya. Aku memandang dia seorang perempuan yg sangat kaya pengetahuan ketuhanan”. Perempuan ketiga adlh Sayyidah Nizham. Ia biasa dipanggil “Ain al-Syams” (mata matahari), dan “Syaikhah al-Haramain” (Guru Besar Makkah dan Madinah). Ibn Arabi mengatakan : “Ia matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan. Wajahnya jelita, tutur katanya lembut, otaknya cemerlang, kata2nya bagai untaian kalung yg gemerlap cahaya penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun. Jika dia bicara semua yang ada menjadi bisu”. Ibnu Asakir, adalah murid dari banyak ulama, 80 lebih adlh perempuan. A.l. Syuhdah bin al-Abri, perempuan ulama, guru sejumlah ulama besar, seperti Ibn al-Jauzi dan Ibn Qudamah al-Hanbali. Keduanya ahli hadits terkemuka. Ummu Habibah al-Ashbihani, adlh guru dari al-Hafiz Ibn Mundzir. Fathimah bt ‘Ala al-Din al Samarqandi adlh faqihah jalilah, ahli fiqh besar, suami Syeikh Ala al-Kasani, penulis buku “Al-Badai’ al-Shanai’”

Perempuan-perempuan termarginalkan dari panggung Sejarah


Demikianlah beberapa saja ulama besar yang belajar dan berguru kepada para perempuan ulama. Sejarah ini terdokumentasi dengan baik di banyak karya biografi para sejarawan Islam terkemuka sebagaimana sudah di kemukakan. Teramat sulit bagi kita untuk mengingkari kenyataan itu.

Sayang sekali, sejarah kaum muslimin sesudah itu, memasukkan kembali kaum perempuan ke dalam kerangkeng-kerangkeng rumahnya. Kaum perempuan didomestikasi. Potensi intelektualnya ditekan. Aktivitas intelektual dibatasi. Jika pun diberi ruang untuk belajar, maka hanya sebatas bisa membaca dan menulis. Pengajaran kepada mereka dibatasi untuk bisa belajar salat, puasa, zakat, haji, haid, nifas dan isu-isu reproduksi lainnya. Kerja-kerja sosial-politik-kebudayaan mereka dipasung. Mereka dilarang menduduki posisi pengambil kebijakan publik, politik. Perempuan tidak boleh menjadi hakim pengadilan, pemimpin Daerah apalagi Kepala Negara/Pemerintahan. Bukan sekedar sampai di sini, mereka bahkan dilarang keluar dari rumahnya, kecuali disertai keluarganya. Karena dalam pandangan publik keberadaan perempuan di ruang publik, bisa bikin petaka sosial.


Tak pekak, perempuan-perempuan Islam pada gilirannya tenggelam dalam timbunan pergumulan sejarah. Mereka dilupakan dan dipinggirkan (al-muhammasyat) dari dialektika social-kebudayaan-politik. Sistem sosial patriarkhis kembali menguasai domain pikiran publik, begitu dominan. Konon itu dilakukan atas nama kasih sayang, perlindungan dan penghormatan terhadap perempuan. Dengan kata lain, sikap dan tindakan tersebut dilakukan agar mereka tidak menjadi sumber "fitnah" (kekacauan sosial atau mengganggu ketertiban masyarakat). Mereka berdalih dengan hadits Nabi Saw : "Aku tidak meninggalkan suatu "fitnah" yang lebih membayakan laki-laki selain perempuan". Ini dimaknai bahwa perempuan harus dikurung di dalam rumahnya agar tidak membikin kehancuran kaum laki-laki. Bukannya bermakna "kalian harus menghormati kaum perempuan, jangan mengganggu mereka, jangan merendahkan mereka, jangan melecehkan mereka. Karena jika kalian melakukannya, kalian akan merugi dan menjadi nista".

Dr. Muhammad al-Habasy, sarjana Suriah, dalam bukunya : “Al-Mar’ah Baina al-Syari’ah wa al-Hayah” mengatakan bahwa peminggiran kaum perempuan itu didasarkan pada argument prinsip “Sadd al-Dzari’ah” (menutup pintu kerusakan). Keikutsertaan atau keterlibatan kaum perempuan dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, baik sebagai pelajar maupun guru, dan aktifitas mereka di ruang publik, dipandang bisa atau berpotensi menimbulkan “fitnah” dan “inhiraf” (penyimpangan) moral.


Kata "Fitnah" yang secara genuin bermakna cobaan atau ujian diri, berubah menjadi bermakna menggoda. Ya menggoda hati laki-laki. Bahkan berkembang menjadi "kekacauan sosial". Nah dua kata sakti itu : "Fitnah" dan "Sadd Fzari'ah" yang membelenggu aktualisasi diri kaum perempuan. Jargonnya : “Demi melindungi” dan “Menjaga Kesucian Moral”. Dunia sepertinya telah kehilangan cara bagaimana “Melindungi tanpa Membatasi”. Tindakan selanjutnya adalah “membuat aturan-aturan yang membatasi gerak tubuh perempuan di ruang-ruang social, budaya dan politik” secara Terstruktur, Sistemik dan Massif (TSM). Pandangan ini muncul menyusul kehancuran peradaban kaum muslimin akibat serbuan tentara Mongol ke wilayah-wilayah kekuasaan Islam, tahun 1256 M. Kehancuran di wilayah kekuasan Islam ini diikuti oleh kehancuran peradaban Islam di Andalusia tahun 1492 M. Akan tetapi sejumlah peneliti berpendapat bahwa peminggiran kaum perempuan dari ruang publik dan dalam dunia ilmu pengetahuan secara khusus, sesungguhnya lebih disebabkan oleh kebijakan negara untuk pembekuan aktivitas intelektual dan kebebasan berpikir serta hilangnya kritisisme terhadap kekuasaan. Proses sejarah peradaban Islam berlangsung stagnan, beku. Yang terjadi adalah pengulang-ulangan yang terus menerus, dan peniruan. Kritik-kritik atas pikiran terlarang dan dipandang kriminal. Marjinalisasi dan subordinasi menjadi massif dan terstruktur. Keadaan ini berlangsung selama berabad-abad, sekitar 7 abad.







PENTINGNYA MENSEGERAKAN MEMBANTU

 َلا تَحْتَقِرْ اِنْتِظَارَ اَرْبَابِ الْحَوَائِجِ وَوُقُوفَهُمْ بِبَابِكَ. وَمَتَى كَانَ لِاَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ اِلَيْكَ حَاجَةٌ فَلَا تَشْتَغِلْ عَنْ قَضَائِهَا بِنَوَافِلِ اْلعِبَادَاتِ فَإِنَّ قَضَاءَ حَوَائِجِ الْمُسْلِمِينَ اَفْضَلُ مِنْ نَوَافِلِ اْلعِبَادَاتِ 

"Jangan kau acuhkan/remehkan orang-orang yang menungggu di depan rumahmu karena memerlukan bantuanmu. Jika ada seseorang meminta bantuanmu, tak sepatutnya kau menyibukkan diri dengan mengerjakan ibadah-ibadah tambahan (sunnah). Memenuhi hajat hidup seseorang lebih utama daripada mengerjakan ibadah sunnah." (Imam al-Ghazali).

SAYYIDAH AISYAH YANG GAGAH

Sebuah pertanyaan menarik diajukan Abu Abdullah al Husein bin Ahmad bin Sa’dan, seorang menteri pada dinasti Buwaihi (373-375 H) : “Apakah ada perempuan yang menjadi laki-laki ?”. Abu Hayyan al Tauhidi, seorang filosof, sufi, sastrawan, menjawab : “Abu Sa’id al Sairafi menceritakan kepadaku bahwa Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar pernah disebut sebagai laki-laki Arab (Rujulah al Arab)”. (Kata ini tentu saja tidak sama dengan “mutarajjilah” (perempuan yang berperilaku laki-laki), melainkan perempuan yang mempunyai kecerdasan dan keberanian seperti umumnya laki-laki. Atau lebih tepatnya memiliki karakter “maskulinitas”. “Sayangnya”, kata Abu Sa’id, “orang asing (non Arab) kemudian "menenggelamkan" predikat ini dari sirkuit sejarah. Sehingga tidak banyak orang mengenal Aisyah disebut kaumnya dengan predikat demikian. Demi Tuhan, dia benar-benar begitu. Saya pernah mendengar orang mengatakan : “Kalau saja ayahnya punya anak laki-laki seperti dia (Aisyah) niscaya dia tidak akan bisa berbuat apa-apa di hadapannya (Aisyah)”.

Sang menteri bertanya lagi : “Apakah anda punya informasi tentang pandangan-pandangannya?”. “Sangat banyak. Dia bicara banyak tentang hukum-hukum agama. Pendapat-pendapatnya sangat diperhatikan dan ditransmisikan", jawab Abu Hayyan.

Diriwayatkan bahwa Aisyah pernah menyampaikan tentang al Akhlaq al Karimah (budi perkerti luhur). Katanya : “Ada 10 akhlak karimah :

1. jujur dalam ucapan,

2. terbuka terhadap orang lain,

3. menjaga amanat (kepercayaan),

4. Menjaga Silaturrahim,

5. Berbuat dan menyampaikan kebaikan,

6. memperhatikan tetangga,

7. menyayangi teman,

8. membayar layak para pekerja,

9. menjamu tamu dan paling penting adalah

10. memiliki rasa malu (untuk berbuat buruk).


(Abu Hayan al Tauhidi, al Imta’ wa al Muanasah, III/199-200).

TUHAN YANG MENJAMIN RIZKIMU

Ada sebuah kisah. Konon ada seorang yang tengah mengalami kesulitan dalam urusan ekonomi. Telah lama sekali ia berada dalam kesusahan dan kepayahan karena hal itu. Lalu ia keluar dengan wajah tanpa gairah dan memasuki padang pasir. Di sana ia menemukan puing-puing istana yang sudah hancur. Semula istana itu tertimbun debu pasir, lalu angin kencang menerbangkannya sehingga tersingkap. Tiba-tiba ia menemukan di dalamnya sebuah prasasti di tembok berupa puisi-puisi yang indah :


لما رأيتك جالساً مستقبلاً ...

أيقنت أنك للهموم قرين


مالا يقدر لا يكون بحيلة ...

أبداً وما هو كائن سيكون


سيكون ما هو كائن في وقته ...

وأخو الجهالة متعب محزون


يجرى الحريص ولا ينال بحرصه ...

شيئاً ويحظى عاجز ومهين


فدع الهموم وتعر من أثوابها ..

أن كان عندك بالقضاء يقين


هون عليك وكن بربك واثقاً ...

فأخو الحقيقة شأنه التهوين


طرح الأذى عن نفسه في رزقه

لما تيقن أنه مضمون


Manakala aku melihatmu duduk menghadap kiblat

Aku yakin kau sedang ditemani kegelisahan


Apa (harta) yang sudah ditetapkan

Tak bisa direkayasa


Apa yang sudah ditetapkan ada,

Ia akan ada

Apa yang akan ada

niscaya ada pada saatnya

Teman kebodohan itu selalu melelahkan dan menderitakan


Ada orang yang semangat mencari Rizki

Tetapi ia tak memeroleh apapun

Ada orang yang tak berdaya dan tersisihkan

Tetapi ia memeroleh keberuntungan


Tinggalkan gelisah hatimu

Lepaskan bajunya

Jika kau yakin pada keputusan Tuhan


Tenangkan hatimu

Percayakanlah kepada Tuhanmu

Orang yang tahu hakikat

akan senantiasa tenang

Ia membuang segala duka

dalam urusan rizki

Ketika dia yakin bahwa Tuhan menjaminnya


Jangan cemaskan esok


Ini sudah pernah aku tulis, beberapa waktu lalu.

Seorang teman datang untuk curhat. Wajahnya tampak lesu seperti menyimpan gelisah. Matanya kosong. Lalu bercerita dengan suara lirih dan tersendat-sendat, tentang hari esok yang tak pasti, terutama rizkinya. Ada sejumlah orang di rumah yang saban hari menunggunya: isteri dan anak-anaknya.

Aku hanya bilang : keadaan psikologi cemas akan esok itu dialami banyak sekali orang di bumi ini, termasuk aku. Bukan hanya untuk alasan rizki, tetapi juga untuk alasan akan hilangnya kenikmatan hidup, ditinggal kekasih, sakit, pensiun, tua dan kematian. Ini adalah siklus hidup yang dijalani setiap manusia.

Jika aku mengalami situasi sepertimu, aku segera ingat puisi Imam al-Syafi'i. Beliau menulis :


سهرت أعين ونامت عيون

في أمور تكون أو لا تكون

فادرأ الهم ما استطعت عن النفس

فحملانك الهموم جنون

إن ربا كفاك بالأمس ما كان

سيكفيك في غد ما يكون


Sementara berpasang mata telah larut dalam mimpi,

matamu terus terjaga

Mencemaskan apa yang sedang

dan akan terjadi atau tak terjadi


Palingkan hatimu dari cemas sekuat kau bisa

yang menyergap dan mengguncang jiwamu


(Ingat) Kemarin Tuhan mencukupimu dengan apa yang sudah diberikan

(Yakinlah) Dia niscaya akan menjamin untuk esokmu apa yang akan diberikan-Nya esok.


Lalu ada pula kata-kata ini :


اذا لم تعرف عنوان رزقك فلا تخف. لأن رزقك يعرف عنوانك. فإذا لم تصل إليه. فهو حتما سيصل إليك


Jika engkau tidak tau dimana alamat rizkimu,

janganlah kawatir berlebihan, karena rizkimu tahu dimana alamatmu.

Jika engkau tidak sampai kepadanya, percayalah dia akan sampai kepadamu.


K.H.HUSEIN MUHAMMAD


SYAMAIL AL MUSTHAFA (KESEHARIAN NABI)

• Nabi sering duduk dalam posisi yang sama bersama orang-orang fakir dan mengambilkan untuk mereka makanan dengan tangannya sendiri

• Nabi tidak pernah bertindak kasar kepada siapapun dan memaafkan orang yang meminta maaf.

• Nabi tidak pernah mencaci siapapun: “Aku tidak diutus untuk itu, melainkan untuk menyayangi siapapun” katanya.

• Nabi tidak pernah merendahkan dan menyakiti perempuan, isteri ataupun pembantunya

• Bila ada orang yang mencaci-maki orang lain, Nabi mengatakan: “tolong tinggalkan cara seperti itu”.

• Bila ada orang berbicara dengan suara tinggi, Nabi menahan diri dan sabar.

• Bila datang kepada hamba-sahayanya, laki-laki atau perempuan, beliau mengajaknya berdiri dan membantu keperluannya.

• Bila ada orang yang duduk menunggunya ketika sedang shalat, beliau mempersingkat shalatnya lalu menemuinya sambil mengatakan: apakah ada yang bisa aku bantu?

• Ketika mendengar cucunya menangis, beliau mempercepat shalatnya, lalu menemui dan menggendongnya

• Ketika beliau masuk dalam suatu majlis, beliau duduk di tempat mana saja yang kosong yang dilihatnya pertama kali

• Nabi mencuci pakaiannya sendiri, menjahit atau menambal yang sobek daripadanya, memperbaiki alas kakinya, melayani dirinya sendiri, memberi makan untanya, menggiling gandum dengan tangannya sendiri, makan bersama pelayan, memasak bersamanya dan membawa barang-barangnya sendiri ke pasar.

• Seorang hamba sahaya perempuan Madinah memegang tangan Nabi. Beliau menyambutnya dengan mengatakan ; “Apakah ada yang bisa aku bantu, wahai ibu si Fulan?. Aku akan membantu dan mengantarkanmu ke mana kamu mau. Dan beliau lalu mengantarkannya”.

• Imam al-Ghazali mengatakan : “Nabi sering tak punya uang. Jika ada uang lebih dari keperluan hari itu, dia akan mencari orang yang membutuhkannya. Jika tak menemukannya, dia tak kembali pulang, melainkan menunggu saja sampai menemukannya.

• Meskipun dia seorang pemimpin besar, rumahnya tak dijaga oleh siapapun

Mohammad Iqbal, filsuf dan penyair besar dari Pakistan, bersenandung:

“O, Tuhan,

Sinarilah dunia, yang terlalu lama dalam kegelapan

Dengan nama Muhammad yang cemerlang”

Salawat dan Salam tak terbatas untukmu,

O, Nabi yang agung, Nabi yang mulia

Nabi yang awal dan yang akhir


K.H. HUSEIN MUHAMMAD

@husein553

KUNCI KETENANGAN HIDUP

 الواجب على العاقل لزوم السلامة بترك التجسس عن عيوب الناس مع الاشتغال بإصلاح عيوب نفسه

فان من اشتغل بعيوبه عن عيوب غيره اراح بدنه ولم يتعب قلبه


Seorang yang berakal niscaya akan menjaga kehormatan diri dengan tidak mencari-cari kekurangan/kelemahan orang lain, seraya selalu sibuk memperbaiki kekurangan dirinya.

Orang yang sibuk memperbaiki kekurangan diri dan tidak mencari-cari kekurangan orang lain hidupnya akan tenang dan hatinya tidak lelah.

Sebaliknya orang yang sibuk mencari kelemahan orang lain, hatinya akan buta, tubuhnya lelah dan sulit meninggalkan kelemahan dirinya.

Orang yang jiwanya paling rapuh adalah dia yang menjelekkan orang lain dengan apa yang ada pada mereka sendiri. Dan yang lebih rapuh lagi dari itu adalah orang yang menjelekkan orang lain dengan apa yang ada pada dirinya sendiri.

Siapa yang menjelekkan akan dijelekkan.

TASAWUF PERJALANAN MENUJU PULANG

Baru saja aku bicara dalam "zominar" yang diselenggarakan oleh PP. Maarif NU. PBNU". Tema "Jalan Sufi menuju Insan Kamil". Aku menyampaikan ini :

Syeikh al-Islam Zakaria al-Anshari mendefinisikan tasawuf sebagai pengetahuan tentang cara-cara membersihkan jiwa, budi pekerti dan menghidupkan gerak lahiriyah untuk memperoleh kebahagiaan abadi.

Tasawuf adalah pengetahuan tentang cara-cara menyusuri jalan menuju Tuhan, Sang Penguasa Semesta. Membersihkan hati dari segala sifat buruk dan menghiasinya dengan perilaku utama /terpuji. Langkah pertama : pengetahuan. Langkah ke dua mengamalkan pengetahuan itu, dan ketiga adalah memeroleh anugerah.

Mengapa perlu tasawuf? . Karena kita akan pulang.

Allah menyatakan :

انا لله وانا اليه راجعون

"Kita milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya".

"Bersiap-siaplah akan datangnya suatu hari, kalian dikembalikan kepada Allah, kemudian setiap jiwa ditunaikan/dibalas segala yang diusahakannya dan mereka tidak dizalimi".

يوم لا ينفع مال ولا بنون الا من اتى الله بقلب سليم

"Ingatlah suatu hari saat harta dan anak-anak tak lagi berharga, kecuali orang yang datang dengan membawa hati yang bersih dan tulus".

Tentang hidup ini mam Al-Ghazali mengingatkan :

"Renungkalah, O, pemimpin dunia. Dunia ini adalah persinggahan, bukan tempat menetap. Manusia adalah pengelana/pengembara. Persinggahan pertamanya adalah di dalam perut ibunya, dan akhir persinggahan adalah liang lahat. Tanah air manusia dan tempat menetapnya adalah ruang dan waktu sesudah itu. Setiap tahun yang dilewatinya bagaikan satu tahap perjalanan. Setiap bulan yang telah dilewatinya bagaikan istirahat sang musafir di perjalanan. Setiap pekan bagaikan bertemu sebuah desa. Setiap nafas yang berhembus bagaikan langkah-langkah kaki yang terus bergerak mendekati persinggahan terakhir". Dunia bagai rumah di jembatan sementara. Barangsiapa yang sibuk membangun dan akan habis. Dia akan lupa tempat tinggalnya yang abadi. Dialah orang yang bodoh, yang tidak berakal".

Siapa yang berakal? . Al-Ghazali menjawab : "Orang yang berpikir adalah dia yg hari2inya tidak disibukkan kecuali untuk mempersiapkan diri untuk pulang. Kembali ke asal.

Abu al-Atahiyah, zahid penyair terkenal (w.828 M) dalam puisinya mengatakan :

وما الدنيا وان كثرت وطابت بها اللذات إلا كسراب

يمر نعيمها بعد التذاذ ويمضى ذاهبا مر السحاب

"Segala yang dikejar manusia di dunia ini, meski begitu banyak dan enak,

adalah bagai fatamorgana.

Kenikmatan yang dirasakan itu akan lewat dan pergi bagai awan yang merangkak".

Al-Imam mengatakan :

"Ketahuilah, wahai manusia, bahwa kenyamanan/kenikmatan di dunia hanyalah beberapa hari saja. Lebih sering lelah, dan oleh karena itu sering kehilangan kesempatan untuk memeroleh kenyamanan kelak di akhirat yang adalah kehidupan abadi dan singgasana yang tiada akhir dan tak sirna. Maka seorang yang berakal akan bersabar menjalani hidup yang beberapa hari ini untuk meraih kenikmatan abadi".

Adalah sangat menarik apa yang dilakukan oleh Nabi :

Abdullah bin Mas'ud berkata: Rasulullah tidur di atas tikar kasar. Saat bangun tampak di punggungnya bekas cetakan tikar itu. Aku menawarkan kepada beliau, alas kasur yang lembut. Tetapi beliau menolak sambil mengatakan , apalah arti dunia ini. Aku (kita) di sini bagaikan pejalan, yang berteduh sesaat di bawah pohon, istirahat sebentar lalu meninggalkannya".

Abul Atahiyah:

Bila seseorang tidak bisa membebaskan dirinya dari ketergantungan kepada harta.

Maka harta itu akan menguasinya.

Hartaku adalah apa yang sudah aku gunakan

Harta yang ditinggalkan bukanlah milikku.

Jika kau punya harta, segeralah bagikan kepada yang berhak

Jika tidak, harta itu akan mencelakanmu


K.H. Huseun Muhammad

@husein553