Tuesday, September 1, 2026

HATI-HATI!, SANTRI YANG BELUM MENEMUKAN POTENSINYA, SERING MENCARI EKSISTENSI DENGAN CARA YANG SALAH

Remaja itu hubbuz zhuhur wa itsbatudz dzat

حُبُّ الظُّهُورِ وَإِثْبَاتِ الذَّاتِ

 

Keinginan untuk tampil, diakui, dan membuktikan keberadaan dirinya.

 

Remaja sedang berada pada fase ketika ia mulai bertanya:

"Siapa saya?"

"Apa kelebihan saya?"

"Apakah saya dihargai?"

"Apa yang membuat saya berbeda dari yang lain?"

 

Karena itu, keinginan untuk tampil bukan selalu masalah.

Yang menjadi masalah adalah ketika kebutuhan untuk tampil tidak menemukan saluran yang sehat.

 

Dalam kehidupan asrama

Santri yang belum menemukan minat, bakat, atau peran positifnya bisa mencari cara sendiri untuk membuktikan dirinya.

 

.Bentuk Pencarian Eksistensi yang Salah

Kebutuhan yang Belum TerpenuhiDisalurkan Secara Salah
Ingin diakuiMenjadi paling berani melanggar aturan
Ingin dikenalMembuat keributan
Ingin pengaruhMenguasai/mengatur teman
Ingin dianggap hebatMenunjukkan keberanian berlebihan
Ingin punya kelompokIkut-ikutan perilaku negatif teman
Ingin perhatianSering mencari masalah


Ingin menunjukkan kemampuan tetapi belum tahu tempat menyalurkannya.

 

Maka kadang “kenakalan” yang terlihat di permukaan adalah cara yang keliru untuk mengatakan:

“Saya ingin dilihat. Saya ingin diakui. Saya ingin punya tempat.”


Di sinilah peran musyrif menjadi penting

Jangan hanya mengatakan:

“Kamu jangan cari perhatian!”

 

Tetapi bantu santri menemukan cara yang benar untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan.

 

Dari mencari eksistensi berubah menjadi kontribusi.

Dari ingin dikenal berubah menjadi bermanfaat.

Dari ingin terlihat hebat berubah menjadi pribadi yang berprestasi.

Dari ingin memimpin teman berubah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab.

 

Maka, musyrif jangan hanya melihat perilakunya.

 

Ketika ada santri yang sering membuat masalah, jangan berhenti pada pertanyaan:

“Apa kesalahannya?”

 

Tetapi lanjutkan dengan pertanyaan:

“Apa yang sebenarnya sedang ia cari?”

“Kebutuhan apa yang belum terpenuhi?”

“Potensi apa yang belum tersalurkan?”

“Di mana ia bisa menunjukkan kemampuan secara positif?”

 

Karena bisa jadi masalah perilakunya bukan karena santri tidak memiliki potensi, tetapi karena potensinya belum menemukan tempat.

 

Prinsip penting untuk musyrif

Jangan hanya mematikan perilaku negatif santri. Berikan panggung bagi potensi positifnya.

Kebutuhan SantriJika Salah SaluranJika Disalurkan dengan Benar
Ingin memimpinMengatur temanDiberi amanah kepemimpinan
Ingin dikenalMembuat keributanDiberi ruang tampil
Ingin dianggap hebatMelanggar aturanDiberi tantangan/prestasi
Suka berbicaraBanyak menggangguMenjadi MC/tutor sebaya
Energi tinggiMengganggu temanOlahraga/kegiatan fisik
Suka bergaulMembentuk geng negatifMenjadi penggerak kegiatan
Suka berkreasiUsilSeni, desain, konten edukatif

  

Kalau kita tidak memberi santri panggung untuk menunjukkan potensi, jangan heran jika ia mencari panggung melalui pelanggaran.

 

Maka di pengasuhan perbanyak ruang pengembangan bakat dan minat.

Pengasuhan perlu memperbanyak ruang aktualisasi, bukan hanya memperbanyak aturan.

 

Jangan biarkan santri mencari panggung melalui pelanggaran karena kita tidak menyediakan panggung melalui prestasi.

 

Karena itu, tidak cukup hanya bertanya: ‘Bagaimana menghentikan perilaku santri?’ Tanyakan juga: ‘Di mana kita bisa memberi ruang agar ia bisa menunjukkan dirinya dengan cara yang benar?’

0 comments :

Post a Comment