This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, August 23, 2020

Ketika Gus Miek Menyaksikan Wafatnya KH Romli Tamim Rejoso Jombang

Hubungan Gus Miek dengan para kiai seringkali tak terduga. Waktu usianya masih belia sekalipun, Gus Miek sudah menjalin keakraban dengan para kiai besar yang masyhur dikenal waliyulloh. Salah satunya adalah KH Romli Tamim, Pengasuh Pesantren Darul Ulum Peterangan Rejoso Jombang.

Saat itu, Gus Miek berumur 9 tahun. Gus Miek semakin tampak penuh dengan keajaiban. Ada peristiwa yang diketahui khalayak ramai yakni berkaitan dengan wafatnya KH Romli Tamim Peterongan Jombang, seorang Mursyid Thoriqot Qodariyah dan dikenal luas sebagai ‘ulama besar.

Hari itu datang utusan keluarga Kiai Romli dari Peterongan kepada KH Djazuli di Ploso untuk menyampaikan kabar wafatnya Kiai Romli. Maka, Kiai Djazuli beserta keluarga bersiap-siap guna berangkat untuk melayat ke Peterongan. Sedangkan Gus Miek kala itu sedang bermain di halaman (ada sebagian cerita menyatakan Gus Miek enak-enakan tidur di kamar).

“Miek, semua mau ta’ziyah ke Kiai Romli Peterongan, kamu iku tidak,?” tanya Kiai Djazuli.

“Males Abah,” jawab Gus Miek sambil terus bermain-main.

Akhirnya seluruh keluarga berangkat menuju Peterongan kecuali Gus Miek yang sibuk bermain. Begitu tiba di Peterongan, rombongan Kiai Djazuli disambut oleh Nyai Romli dan keluarga.

“Alhamdulillah kyai bisa datang,” kata Nyai Romli.

“Nyuwun sewu, Amiek (panggilan Gus Miek) tidak ikut, tadi diajak tidak mau.”

“Lha, Gus Miek sudah seminggu di sini menunggu KH Romli sampai meninggal,” jawab Nyai Romli.

“Lha itu sedang bermain di halaman,” tambah Nyai Romli.

Setelah merasa cukup, KH Djazuli kemudian berpamitan dengan penuh rasa penasaran terhadap putranya. Sesampainya di Ploso, Kiai Djazuli memanggil Juwirin (santri yang ditugasi untuk menjaga Gus Miek).

“Selama aku pergi ke Peterongan, Amiek pergi kemana saja?” tanya KH Djazuli.

“Gus Miek tidak kemana-mana, Kyai. Sejak kyai pergi sampai sekarang, Gus Miek masih tidur di kamar,” jawab Juwairin.

“Kamu jujur saja, tidak perlu berbohong untuk membela Amiek,” kata KH Djazuli terlihat belum percaya.

“Benar Kyai, saya tidak bohong,” jawab Juwairin.

Wallahua’lam. Itulah sosok Gus Miek. Sosoknya sangat masyhur dengan berbagai perilakunya yang nyentrik dan mengundang misteri. Tapi banyak sekali orang yang menjadi taubat dan khusyu’ jalan hidupnya bersama Gus Miek, termasuk sosok Gus Dur juga sangat akrab dengan Gus Miek.

(Amrullah)

Sumber berita:https://ba ngkitmedia.com/ketika-gus-miek-menyaksikan-wafatnya-kh-romli-tamim-rejoso-jombang/


Kiai Ali Mansyur Penyusun Sholawat Badar

LIMA tahun sebelum pecah tragedi berdarah yang menggiris hati pada 30 September, seorang kiai usia paruh abad sedang resah di atas ranjangnya. Malam itu telah larut. Bintang Sirius di langit Banyuwangi, kian terang di ufuk timur. Namun tokoh kita ini, KH Raden Muhammad Ali Mansyur Basyaiban, tak jua tenang. Geliat tokoh komunis jadi pusat pikiran cucu KH Muhammad Shiddiq (Jember) ini. Bung Karno yang mengenalkan gagasan barunya tentang NASAKOM (Nasionalis, Sosialis, Komunis), ternyata malah dimanfaatkan partai palu arit guna melancarkan politik agresif mereka.

Selain merenungi komunisme, Kiai Ali juga ngungun sendiri atas mimpi yang ia alami beberapa hari sebelumnya. Dalam mimpi itu, ia didatangi serombongan orang berjubah putih dan hijau. Tak ingin dilamun resah, Kiai Ali menanyakan mimpinya itu pada Habib Hadi al-Haddar. Dari mulut Habib Hadi barulah diketahui bahwa rombongan yang mendatanginya adalah Ahlul Badr. Malam terus merambat menuju subuh. Kiai Ali pun beranjak dari ranjang. Lalu ia mengambil potlot dan mengguratkan beberapa buah syair di atas secarik kertas.

Peran besar Kiai Ali Mansyur ini diamini Gus Dur saat menjabat Ketua Umum PBNU di hadapan sidang Muktamar ke-28 NU di Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (26-11-1989), bahwa penggubah syair dan lagu Selawat Badr  adalah KH Muhammad Ali Mansyur Shiddiq Basyaiban, yang lalu diteruskan dengan menganugerahkan “Bintang NU” kepada beliau. Pernyataan serupa kembali ditegaskan Gus Dur selaku Presiden Republik Indonesia dalam sambutannya pada Muktamar ke-30 NU di PP Lirboyo, Kediri (21-11-1999).

Pernyataan Gus Dur di atas sontak menghapus polemik seputar pencipta Selawat Badr yang setidaknya bersangkutan dengan tiga oknum: ulama Hanafiyah, al-Busyiri, dan KH Ahmad Siddiq (mantan Rois ‘Am PBNU).

Jelas sangat kurang tepat jika Selawat Badr dikatakan sebagai karya ulama Hanafiyah, sebab tidak ada data, fakta dan alasan yang jelas. Sama halnya bila dikatakan karya KH Ahmad Shiddiq. Sebab dalam buku Biografi KH Ahmad Shiddiq, tidak disebutkan peranannya sebagai pencipta syair selawat ini. Justru keluarga besar Shiddiqiyah malah menegaskan KH Ali Mansyur sebagai penggubah syair Selawat Badr.

Kurang tepat pula jika Selawat Badr adalah buah karya al-Busyiri, sastrawan dari Timur Tengah yang dikenal sebagai penulis Qasidah Burdah. Gus Dur, ketika ditanya alasannya oleh Kiai Syakir Ali dari Maibit Rengel, Tuban (putra KH M. Ali Mansyur), berkata bahwa al-Busyiri bukan tipe orang yang suka bertawasul. Sementara syair Selawat Badr memuat doa tawasul. Ditinjau dari makna kandungannya, selawat ini berciri-khas Indonesia, bukan Arab. Dari segi balaghahnya, selawat ini ber-balaghah Jawa.

Pandangan Gus Dur itu dikuatkan oleh Gus Ishom (alm) dari Tebuireng, yang paham betul soal sastra Arab, bahwa syair Selawat Badr digubah oleh orang Jawa, bukannya bikinan orang Arab atau Timur Tengah. Sebab, ciri-ciri syair ala Timur Tengah biasanya berbelit-belit, sulit dipahami artinya dan jarang ada kata atau kalimat yang diulang. Sementara ciri ini tidak ditemukan dalam syair Selawat Badr.

Bukti terkuat yang tak bisa dibantah adalah, catatan (tulisan Arab pegon) yang ditemukan di dalam kitab milik Kiai Ali yang berbunyi: “Naliko kulo gawe lagune Selawat Badar, yoiku sak ba’dane teko songko Makkah al-Mukarramah, kang tak anyari waktu lailatul qiro’ah kelawan ngundang almarhum Haji Ahmad Qusyairi sak muride. Yoiku ono malem Jumat tahun 1960, tonggoku podo ngimpi weruh ono bongso sayyid utowo habib podho melebu ono omahku. Wa karimati, Khotimah, ugo ngimpi ketho’ kanjeng Nabi Muhammad iku rangkul-rangkulan karo al-faqir. Kiro-kiro dino jumat ba’da shubuh, tonggo-tonggo podho ndodok lawang pawon, podho takon: ‘Wonten tamu sinten mawon kolo ndalu?’. Lajeng kulo tanglet Habib Hadi al-Haddar, dan dijawab: ‘Haa ulaai arwaahu ahlil badri rodhi-yalloohu ‘anhum’. Alhamdulillahi Robbil ‘aalamiin.”

Nukilan catatan itu sejajar dengan mimpi Kiai Ali yang secara nasab, muncul dari kalangan orang terpuji. Beliau lahir di Jember pada 4 Ramadan 1340 H/23 Maret 1921 M, dari pasangan Kiyai Mansyur bin KH. Muhammad Shiddiq dan Shofiyah binti KH. Basyar, dari Tuban.

KH Raden Muhammad Ali bin Mansyur termasuk dalam keluarga besar as-Shiddiqi. Kakeknya yang bernama KH Muhammad Shiddiq (Jember), adalah seorang ulama yang menurunkan ulama-ulama besar seperti KH Abdul Hamid (Mbah Hamid, Wali Pasuruan), KH Ahmad Qusyairi, KH Ahmad Shiddiq, KH Mahfuzh Shiddiq,  KH A. Hamid Wijaya, KH Yusuf Muhammad, dll. Beliau juga masih keturunan Mbah Sambu Lasem (Pangeran Sayyid Muhammad Syihabuddin Digdoningrat) bin  Sayyid Muhammad Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban (Sultan Mangkunegara III).


Kisah SAHIH "KECERDASAN SAYYIDINA HUSEIN" BIN ALI BIN ABI THOLIB

Pada masa kanak-kanak Sayyidin Husein seringkali ke masjid dan duduk dibawah mimbar Rasulullah SAW serta menghafalkan segala yang Rasulullah SAW Khutbahkan,

kemudian Sayyidina Husein pulang dan menceritakan kepada Ibundanya Sayyidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW. Suatu kali Ibundanya menyiapkan satu kursi dan mendudukkan Sayyidina Husein dikursi itu seraya berkata: "Baiklah anakku sayang, berceramahlah seperti kakekmu."

Sayyidina Husein menjelaskan apa yang dikatakan kakeknya Nabi Muhammad SAW di masjid dengan gaya bahasa yang sama. Lantas Sayyidah Fatimah Az-Zahra ibunda Sayyidina Husein pun bersyair tentangnya: "ENGKAU SERUPA DENGAN AYAHKU, ENGKAU TAK MIRIP DENGAN ALI (Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a)." Lalu Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mendengar syair istri tercintanya pun tersenyum.

Suatu ketika Sayyidah Fatimah Az-Zahra bercerita kepada Ayahandanya perihal keindahan tutur kata Sayyidina Husein hingga Nabi Muhammad SAW pun ingin menyaksikan dan mendengar langsung ceramah cucunya tersebut, namun beliau berkata kepada putrinya: "BARANGKALI DIA AKAN MALU JIKA MELIHATKU." Karena Nabi Muhammad SAW berencana bersembunyi dibalik tirai untuk menyaksikan dan mendengarkan ceramah cucunya. Nabi Muhammad SAW pun bersembunyi dibalik tirai dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra mempersiapkan Sayyidina Husein untuk berceramah. Namun sungguh tak seperti biasanya hingga Sayyidah Fatimah Az-Zahra pun heran ketika menyaksikan putra kecilnya Sayyidina Husein hanya berdiam diri tanpa sepatah kata yang keluar dari lisan mungilnya.

Lidah Sayyidina Husein seolah-olah kaku dan tak mampu berucap apapun hingga Sayyidah Fatimah Az-Zahra sangat heran dan menanyakan keadaan putra nya tersebut: "Apa yang terjadi wahai anakku sayang?"

Sayyidina Husein menjawab keheranan ibunya: "JANGANLAH HERAN WAHAI IBUKU. LIDAHKU TAK MAMPU BERGERAK KARENA ADA PRIBADI AGUNG YANG BERADA DIBALIK TIRAI. JIKA SELURUH AHLI DAN PEMBICARA DI SELURUH DUNIA BERKUMPULPUN NISCAYA MULUT-MULUT MEREKA AKAN TERKUNCI DIHADAPAN KAKEKKU RASULULLAH SAW."

BACAAN SHOLAWAT MENGELUARKAN BAU HARUM

Diceritakan oleh Guru Mulia, Al-'Allamah Al-Habib Umar bin Hafidz :

"Hampir di setiap waktu ba'da sholat maghrib ada seorang 'ulama besar di Hadramaut selalu berjalan di sebuah daerah. Terdengar dari tiap-tiap rumah, penghuninya membaca Al-Qur'an ada juga yang berdzikir, ada juga yang membaca ratib dan sholawat .

Lantas, dilihatnya dari rumah-rumah tersebut mengeluarkan Cahaya, namun Cahaya yang lebih terang hingga ke langit adalah Cahaya rumah yang sedang bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW."

Ù…َا Ø´َاءَ اللّٰÙ‡ُ .

Dan telah berkata Al-Marhum Al-Habib Ahmad Alwy Baraqbah, "Sholawat yang kita bacakan itu sesungguhnnya mengeluarkan bau yang harum dan harumnya sholawat dapat tercium oleh semua makhluk-Nya Allah Ta'ala kecuali manusia dan jin .

Jika Allah Ta'ala membuka hijab penciuman kita niscaya kita akan sibuk mencari di mana harum itu berasal sehingga kita lupa terhadap penghidupan kita."

سُبْØ­َانَ اللّٰÙ‡ِ

بِسْــــــــمِ ٱللّٰÙ‡ِ ٱلرَّØ­ْÙ…َـنِ ٱلرَّØ­ِـــــــيْÙ…ِ

اَللّٰÙ‡ُÙ…َّ صَÙ„ِّ ÙˆَسَÙ„ِّÙ…ْ ÙˆَبَارِÙƒْ عَÙ„َÙ‰ سَÙŠِّدِÙ†َا Ù…ُØ­َÙ…َّدٍ.


Lahumul Faatihah

Allahummq Sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammad ※ Wa 'alaa Aali Sayyidinaa Muhammad.

“Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.”

Dawuhipun Mbah Nyai Azizah Lasem

Dadi menungso iku kudu pinter nyelehke awak.

Kapan dadi rofa',
kapan dadi nashab,
kapan dadi jer,
kapan dadi jazem.

Artinya:

Dawuh Mbah Nyai Zah Al-Hidayat Lasem -- Putri dari simbah Ma'soem Lasem (Allahu yarham) --

Menjadi manusia haruslah pintar menempatkan diri.
Rofa': kapan saatnya kita diatas sebagai pemimpin yang memberi teladan
Nashab: kapan saatnya kita di tengah-tengah masyarakat duduk bersama
Jer: kapan saatnya kita di bawah tunduk dan patuh pada guru
Jazem: kapan kita bermuhasabah berserah pada Gusti Allah..

NASIHAT SYEIKH ABU HASAN ASY-SYADZILI

Jika engkau menginginkan bahagian dari anugerah para wali,

Berpalinglah dari manusia kecuali dia menunjukkanmu kepada Allah swt, dengan cara yang benar dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunah.

Ketuklah pintu dzikir dengan hasrat dan sikap sangat memerlukan kepada Allah swt,
Melalui tafakur (renungan pada hakikat Ketuhanan), menjauhkan diri dari segala hal selain Allah swt.

Lakukanlah dengan menjaga rahsia batin,
agar jauh dari bisikan nafsu dalam seluruh nafas dan jiwa, 
Sehingga kalian memilki kekayaan ruhani.

Lazimkan lisanmu dengan berdzikir,
Hatimu untuk tafakur dan tubuhmu untuk menuruti perintah-Nya.
Dengan demikian kalian bisa tergolong orang-orang saleh.

Manakala dzikir terasa berat di lisanmu, sementara pintu tafakur (Renungan pada hakikat) tertutup,
Ketahuilah bahawa hal itu semata-mata
kerana dosa-dosamu atau kemunafikan dalam hatimu.

Tak ada jalan bagimu kecuali bertaubat, memperbaiki diri, hanya menggantungkan diri kepada Allah swt dan ikhlas dalam beragama."

Friday, August 21, 2020

Bacakan Sholawat disetiap Bulir Beras Sebelum Dimasak

Butir-Butir Beras Shalawat Ibu Nyai Sholichah untuk Abdurrahman Addakhil.


Tirakat Nyai Sholichah setiap malam memilih dan memilah biji-biji beras terbaik dari karung, sembari terus melantunkan shalawat, satu shalawat untuk sebiji beras, tahap demi tahap hingga periuk nasi pun terisi dan siap untuk dimasak di pagi hari.

Tidak ada yang boleh menyentuh nasi yang mengandung shalawat itu selain ayah mertuanya Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari, suaminya KH Wahid Hasyim, dan anak sulungnya Abdurrahman Ad Dakhil. Hanya untuk ketiga laki-laki istimewa itu. Dan, nasi itu pelan namun pasti menumbuhkan Durrahman hingga cukup usia. Ya, Abdurrahman Addakhil itulah Gus Dur.

"Saya benar-benar tidak tahu hingga usia berapa Gus Dur kecil mendapat perilaku istimewa seperti itu dari ibundanya. Saya hanya penasaran, selain Gus Dur memang sosok jenius secara personal, sosial, dan spiritual, faktor apakah yang menjadikan Presiden Republik Indonesia ke-4 ini bisa sehebat itu semasa hidupnya. Dan, saya memperoleh jawaban dari Dr Ngatawi al-Zastrouw, asisten Gus Dur. "Bu Nyai Solichah betul-betul men-shalawati beras itu sebiji demi sebiji," ucapnya.” [Candra Malik, detik.com]