Pernah heran kenapa posisi strategis justru kadang diisi oleh orang yang sering salah langkah, minim kemampuan, bahkan berulang kali melakukan blunder?
Jauh-jauh hari, akan adanya manusia ngawur dan berbahaya itu sudah diperingatkan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)
Dan fenomena seperti ini punya istilah yang sudah dikenal sejak 1636: kakistokrasi—sebuah sistem ketika kekuasaan justru berada di tangan orang-orang yang paling buruk atau tidak cakap.
Lalu, kenapa hal seperti ini bisa terjadi?
Salah satu penjelasan yang sering muncul adalah oligarki atau shadowy cabal—kelompok elite yang bekerja di balik layar dan memiliki pengaruh besar terhadap keputusan politik.
Orang yang cerdas, mandiri, dan terlalu idealis bisa menjadi sulit dikendalikan. Sementara itu, bagi sebagian elite, pemimpin yang mudah diarahkan justru dianggap lebih menguntungkan.
Ketika kekuasaan hanya menjadi alat untuk melindungi kepentingan segelintir orang, negara bisa bergerak ke arah kleptokrasi—pemerintahan yang korup dan menggunakan kekuasaan untuk mengeruk kekayaan publik.
Di depan, sang penguasa menjadi wajah dan tameng.
Di belakang, kepentingan segelintir elite terus bermain.
Karena itu, orang yang haus jabatan tetapi miskin ilmu dan prinsip bisa menjadi target yang sangat mudah dikendalikan: cukup diberi kekuasaan, selama ia bersedia mengikuti permainan.
Pada akhirnya, masalah terbesar bukan hanya siapa yang duduk di kursi kekuasaan.
Tetapi siapa yang mengendalikan kursi itu dari belakang.
Dan sebagai masyarakat, kita perlu belajar membedakan antara pemimpin yang benar-benar berkuasa dan mereka yang sekadar menjadi alat bagi kekuasaan orang lain.
Sebab dalam Islam, jabatan bukanlah mahkota untuk dibanggakan.
Ia adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”
(QS. An-Nisa: 58)
0 comments :
Post a Comment