This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, August 10, 2022

HUKUM RERKENA DARAH NYAMUK SAAT SHOLAT

 Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, Pak Ustadz. Pada saat sedang shalat, ada nyamuk di pipi saya, lalu nyamuk itu ditepuk sampai keluar darah atau mati di tubuh kita. Nyamuk yang ditepuk itu mengeluarkan darah di tubuh kita. Apakah tetap sah shalat saya tersebut? Apakah darah nyamuk itu termasuk najis atau tidak?


Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:


Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh.


Untuk darah, yaitu darah yang mengalir, mengucur, adalah najis. Baik dari hewan atau manusia. Tapi, darah yang merembes sedikit dimaafkan.


Dalilnya adalah:


قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا …


Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir… (Q.S. Al An’am [6]: 145)


Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:


سواء كان دما مسفوحا – أي مصبوبا – كالدم الذي يجري من المذبوح، أم دم حيض، إلا أنه يعفى عن اليسير منه


Sama saja, apakah darah mengalir –yaitu tertumpah– seperti darah yang mengalir dari hewan yang disembelih, atau darah haid, hanya saja itu dimaafkan jika mengalir sedikit. (Fiqhus Sunnah, 1/25)


Jadi, darah yang najis adalah yang mengalir (masfuuha) dan tumpah (mashbuuba), adapun kebanyakan darah yang kita kenal adalah dimaafkan. Seperti darah bisul, darah nyamuk, darah yang masih menyisa pada leher bekas sembelihan, urat, daging, tulang, periuk, bahkan kaum muslimin tetap shalat dengan keadaan masih luka-luka. (H.R. Bukhari).


Nanah tidak masalah, karena yang disebut oleh Allah Ta’ala adalah darah. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan tidak ada dalil tentang najisnya nanah, tetapi membersihkan kain yang terkena darah adalah wajib. Tetapi, yang lebih utama adalah agar kita menjaga diri dari darah dan nanah. (Lihat Fiqhus Sunnah, 1/25)


Demikian. Wallahu A’lam.

Tuesday, August 9, 2022

MENGAPA SETAN TIDAK TERUSIR WALAU KITA BERZIKIR??

Imam Al Ghazali ditanya oleh seseorang

"Bukankah setan dapat terusir oleh zikir ?*

Saya selalu berzikir, tapi mengapa setan tidak pernah terusir ?"

Imam Al Ghazali menjawab,

"Setan itu seperti anjing jika kita hardik, anjing itu akan lari menyingkir. Jika di sekitar kita masih ada makanan, mungkin saja itu akan datang kembali. Bahkan, anjing itu akan selalu mengintai diri kita dan ketika kita lalai, ia akan menghampiri dan memakan makanan itu."*

*Begitu pula halnya dengan zikir, zikir tidak akan bermanfaat bila di dalam hati kita masih kita menyediakan makanan-makanan setan.

Ketika sedang mencari makanan, setan tidak akan takut dihentak dengan zikir apapun.

Pada kenyataannya, bukan setan yang menggoda kita, tetapi kitalah yang menggoda setan dengan berbagai penyakit hati yang kita derita,"

Kita harus membersihkan "kotoran" dalam hati yang kita tanam melalui perilaku kita yang tercela, seperti hasad/dengki, dzhalim, benci, marah, ghibah, namimah, ujub, riya, takabur/sombong dsb

Jika tidak segera dibersihkan, kotoran itu suatu saat akan menjadi terlalu tebal untuk kita bersihkan, Astaghfirullahal 'adzhim, Na'udzu billahi mindzalik.

Semoga renungan ini bermanfaat dan kita selalu tetap istiqomah juga bersemangat untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akherat

HASAD

Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. 


Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-'Adawi hafizhahullah,


الحَسَدُ هُوَ تَمَنَّى زَوَالَ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا


“Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” 


Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah,


الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ


“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad."

 

LARANGAN HASAD


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


«لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ».


“Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.'" (HR. Muslim, no. 2564)


SIFAT MANUSIA SAAT HASAD


Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan.


Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu:


Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan. Inilah hasad yang tercela.


Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa.


Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama.


Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun.


يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ


“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun." (QS. Al-Qasas: 79)


Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.  Inilah yang disebut ghib-thah.


Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,


لا حَسَدَ إلَّا على اثنتَينِ: رجُلٌ آتاهُ اللهُ مالًا، فهو يُنْفِقُ مِنهُ آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ، ورجُلٌ آتاهُ اللهُ القُرآنَ، فهو يَقومُ به آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ.


“Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur'an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang." (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815)


Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya. Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad. Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia.


Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.


TINGKATAN HASAD

1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.


Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. Allah Ta'ala berfirman,


وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا


“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nisaa': 32)


2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.


Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama.


3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.


4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang.


5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghib-thah sebagaimana terdapat dalam hadits berikut.


Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا


“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur'an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya." (HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816)


Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan,


وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ


“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (QS. Al-Muthaffifin: 26)


WaLLAAHUa'lam

Monday, August 8, 2022

Genetika Sumbangan


Di dalam al-Quran, ada dua ayat yang beredaksi seperti; 


اهُ لَامٍ لِيم (ash-shaffat: 101)

لَامٍ لِيم (adz-dzariyat: 28) 


Yang dimaksud “ghulamin halim” (anak yang santun/baik) adalah Ismail, sedangkan “ghulamin 'alim” (anak yang cerdas) adalah Ishaq. Keduanya merupakan saudara satu bapak beda ibu. Ismail adalah putra Hajar, sedangkan Ishaq adalah putra Sarah.

Ibrahim, sebagai bapak dari keduanya juga disifati oleh al-Quran dengan “halim”... 


اهِيمَ لَحَلِيمٌ اهٌ (Hud: 75)


Itu artinya, ke”haliman” Ismail merupakan sumbangan genetik dari bapaknya. Persoalannya, Mengingat Ibrahim oleh al-Quran tidak disifati dengan 'alim, lalu darimana tetesan kecerdasan Ishaq? Diriwayatkan bahwa Sarah adalah wanita terbaik dizamannya, tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. al-Qur'an menceritakannya begini...


الَتْ ا لَتَى لِدُ ا ا لِي ا ا لَشَيْءٌ (Hud: 72)


Meski dalam keadaan sebelumnya, Sarah tetap berfikir logis-kausalistik. Merasa dirinya dan sang suami sudah tua “ajuz”, di ayat lain ditambah dengan “aqiim” / mandul, yang secara medis susah untuk bisa hamil.


Jika diperhatikan, al-Quran memaparkan kisah Ismail, Ibrahimlah yang lebih ditonjolkan, sedangkan Hajar tidak. Namun, ketika menceritakan Ishaq, Sarah ditampilkan dengan kuat penokohannya.


Bila dua ayat yang beredaksi mirip dengan yang digabungkan, jadi seolah-olah al-Quran ini ingin menyampaikan bahwa soal genetik, ibu itu kecerdasan, sedangkan ayah lebih untuk karakter. 


Maka pesannya, jadilah perempuan yang terus semangat belajar, karena anak-anakmu berhak memiliki ibu yang cerdas. Dan ayah, engkaulah teladan nyata bagi anak-anakmu.


Allahu 'alam

MUSLIM YANG KAAFAH

 Siapa sih yg gak mau jadi seorang muslim yg kaafah? yaitu muslim yang sempurna.


Mungkin beberapa sifat ini bisa kamu bentuk & latih dari sekarang,dalam berproses menjadi muslim kaafah. selain itu allah juga menjanjikan kebersamaan deganmu kalau punya sifat ini.


Apa sajakah? Check caption dibawah


1.Allah bersama orang-orang yang beriman.


"Jika kamu meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu; dan jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (memberi pertolongan); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun dia jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman. (QS. Al-Anfal: 18)


2.Allah bersama orang-orang yang sabar.


"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)


3.Allah bersama orang-orang yang bertakwa.


"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan,(sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa

Allah beserta orang-orang yang takwa. (QS. At-Taubah : 36)


4. Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.


"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al- Ankabut : 69)


PENYAKIT 'AIN

 Dijelaskan oleh Al Lajnah Ad Daimah:

“‘Ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).

“Ah, mana mungkin sekedar memandang akan menimbulkan penyakit?!”, “bagaimana bisa sekedar pandangan membuat seseorang mati?”. Atau bahkan sebagian orang mengingkari adanya ‘ain karena tidak masuk akal.

Ini Buktinya 

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

‎العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين

"Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).

Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

‎كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَسْتَرْقِيَ مِنَ العَيْنِ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memintaku agar aku diruqyah untuk menyembuhkan ‘ain” (HR. Muslim no.2195).

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

‎أكثرُ مَن يموت بعدَ قضاءِ اللهِ وقَدَرِهِ بالعينِ

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain” (HR. Al Bazzar dalam Kasyful Astar [3/ 404], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.1206).

Ain itu benar-benar ada dan pernah terjadi. Dan tentunya sangat mudah bagi Allah untuk membuat adanya penyakit yang semisal ‘ain ini. Dan nyata penyakit ini juga banyak disaksikan adanya oleh orang-orang, yaitu ketika didapati adanya orang-orang yang jatuh sakit secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.

Penyakit ain itu berbahaya, Hal ini nyata,penyakit ini juga banyak disaksikan adanya oleh orang-orang, yaitu ketika didapati adanya orang-orang yang jatuh sakit secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.

Sebab-sebabnya karena?

Rasa Hasad : Ain terjadi karena adanya hasad (iri; dengki) terhadap nikmat yang ada pada orang lain. Orang yang memiliki hasad terhadap orang lain, lalu memandang orang tersebut dengan pandangan penuh rasa hasad, ini bisa menyebabkan penyakit ‘ain

Maka setiap orang yang menyebabkan penyakit ain mereka adalah orang yang hasad, namun tidak semua orang yang hasad itu menimbulkan ‘ain” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).

Pandangan Kagum : (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ [2/938] dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah [6/149]).

“Orang yang memandang dengan pandangan kagum khawatir bisa menyebabkan ain pada benda yang ia lihat, maka cegahlah keburukan tersebut dengan mengucapkan: Allahumma baarik ‘alaih” (Ath Thibbun Nabawi, 118).

Begitulah beberapa penyebab dari penyakit ain,maka agar terhindar dari penyakit ‘ain adalah menghindari sikap suka pamer, dan berhias diri dengan sifat tawadhu'.


Wallahu a'lam

ADAKAH NERAKA YANG DINGIN?

Di antara yang menunjukkan akan dinginnya neraka adalah riwayat berikut. Dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al Khudri, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,


إذا كان يوم شديد البرد فإذا قال العبد : لا إله إلا الله ما أشد برد هذا اليوم : اللهم أجرني من زمهرير جهنم قال الله تعالى لجهنم : إن عبدا من عبادي استجار بي من زمهريرك و إني أشهدك أني قد أجرته قالوا ما زمهرير جهنم قال : بيت يلقى فيه الكفر فيتميز من شدة البرد


“Jika hari begitu amat dingin, lalu seorang hamba mengucapkan 'Laa ilaha illallah, maa asyaddu bardin hadzal yaum: Allahumma aajirni min zamharir jahannam' (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah begitu dingin hari ini. Ya Allah,  selamatkanlah aku dari dingin bekunya jahannam). Allah Ta'ala kemudian berfirman kepada jahannam, “Sesungguhnya di antara hamba-Ku, meminta perlindungan pada-Ku dari dingin bekumu, dan aku bersaksi padamu bahwa aku telah melindungi dari dingin tersebut.” Mereka berkata, "Apa itu zamharir jahannam?" Dia menjawab, "Itu adalah rumah yang orang kafir dilemparkan di dalamnya, lantas mereka terasing karena saking dinginnya.”


Dari hadits ini, Syaikh Hammad Al Hammad hafizhohullah berkata bahwa disyariatkan membaca dzikir yang disebutkan dalam hadits tersebut ketika mendapati hawa atau cuaca yang amat dingin seperti ketika winter.


Dalam hadits muttafaqun 'alaih, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِى بَعْضًا. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِى الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِى الصَّيْفِ فَهُوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِ


"Neraka berkata; 'Ya Rabbi, kami memakan satu sama lainnya, (maka izinkanlah kami untuk bernapas!)' Maka Allah mengizinkan untuk bernapas dua kali, napas ketika musim dingin dan napas ketika musim panas. Hawa yang amat panas, itu adalah dari panasnya neraka. Hawa yang amat dingin, itu adalah dari dinginnya (dingin bekunya) neraka.”(HR. Bukhari no. 3260 dan Muslim no. 617, dari Abu Hurairah.)


yang Terjadi pada Penduduk Neraka!

Dari Ka'ab, ia berkata, “Sesungguhnya di neraka terdapat dingin yaitu zamharir (dingin yang amat beku), yang ini bisa membuat kulit-kulit terlepas hingga mereka (yang berada di neraka) meminta pertolongan pada panasnya neraka.”


'Abdul Malik bin 'Umair berkata, "Telah sampai padaku bahwa penduduk neraka meminta pada penjaga neraka untuk keluar pada sisi neraka. Mereka pun keluar ke sisi, namun mereka disantap oleh zamharir atau dinginnya neraka. Hingga mereka pun akhirnya kembali ke neraka. Dan mereka menemukan dingin yang tadi mereka dapatkan.”


Al Qur'an Membicarakan Tentang Dinginnya Neraka

Hal ini dapat kita lihat pada surat An Naba', Allah Ta'ala berfirman,


لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا (25) جَزَاءً وِفَاقًا (26)


“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan ghossaq, sebagai pambalasan yang setimpal." (QS. An Naba': 24-26).


Allah Ta'ala juga berfirman,


هَذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ


“Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin (ghossaq)." (QS. Shaad: 57)


Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, “Yang dimaksud ghossaq adalah dingin beku dari neraka, dan seseorang seperti terpanggang dengannya.”


Mujahid rahimahullah berkata, "Ghossaq adalah sesuatu yang tidak mampu seseorang sentuh karena begitu dinginnya." Ada ulama pula yang mengatakan, “Ghossaq adalah dingin yang baunya begitu busuk".


Faedah

1. Neraka bukan hanya panas, juga mengalami dingin (yang amat dingin).

2. Hawa yang amat panas, itu adalah dari panasnya neraka. Hawa yang amat dingin, itu adalah dari dinginnya neraka.

3. Cuaca yang amat panas dan dingin seharusnya mengingatkan kita akan neraka, sehingga kita pun seharusnya meminta perlindungan pada Allah dari siksanya yang begitu mengerikan.


Do'a yang Amat Bagus untuk Dihafal


Do'a ini amat baik untuk dihafal, berisi permintaan agar dimasukkan ke surga dan dilindungi dari neraka.


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِى خَيْرًا


“Allahumma inni as-alukal jannah, wa maa qorroba ilaihaa min qoulin aw 'amal, wa a'udzu bika minan naari wa maa qorroba ilaiha min qoulin aw 'amal, wa as-aluka an taj'ala kulla qodho-in qodhoitahu lii khoiroo” (Ya Allah, aku meminta surga pada-Mu serta perkataan atau amal yang mengantarkan padanya. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari neraka serta perkataan atau amal yang mengantarkan padanya. Ya Allah, jadikanlah setiap takdir yang Engkau peruntukkan untukku adalah baik) (HR. Ibnu Majah no. 3846 dan Ahmad (6/133), dari Ummu Kultsum binti Abi Bakr, dari 'Aisyah.)


WaLLAAHUa'lam