This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, March 9, 2020

DOA NABI IBRAHIM MEMOHON KETURUNAN YANG MENDIRIKAN SHALAT



رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Robbij’alnii muqiimash-Shalaati,
Wa min dzurriyatii,
Robbanaa wa taqqobal du’aa

Artinya:
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.
Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. [QS. Ibrahim : 40-41]

Doa memohon anak yg sholeh

. رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

"Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami yg sholeh sebagai penyejuk mata hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74) .

. . رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ .

"Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri sungguh Engkaulah ahli waris yang terbaik."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 89) .

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰۤى اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَاۤ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 24) .

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"Robbi hablii minash shoolihiin” .

Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang sholeh”. (QS. Ash Shaffaat: 100).

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ .

“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’"

"Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang sholeh. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa" (QS. Ali Imron: 38)

Shalat Taubat

Shalat taubat ini bisa cukup dengan dua raka’at (surat yg dibaca setelah alfatihah boleh surat apa saja)

niat dalam hati, tanpa perlu melafazhkan niat tertentu.

Boleh dilakukan siang atau malam hari. “Menghindari dosa. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” 1. Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.

2. Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali.

3. Apabila melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan.

Apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikan kewajiban itu.
Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera mengembalikan, menunaikan atau meminta maaf.

Perbanyak amal sholeh Menjauhi maksiat

4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat. Hal ini sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang menafsirkan taubat adalah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang sungguh-sungguh).” (QS. At Tahrim: 8)

Shalat taubat adalah shalat yang disunnahkan berdasarkan kesepakatan empat madzhab. Hal ini berdasarkan hadits Nabi dari Abu Bakr Ash Shiddiq. .
Syarat tobat diterima adalah tidak mengulangi dosa itu secara sadar dan Disengaja. .

Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan: “Wahai, anak manusia. Sholat adalah yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”

Orang yang celaka ialah
dia merasa santai berbuat maksiat.
-imam Ibnul Qoyyim-

Jangan meremehkan dosa.
Semua tercatat dan akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Terimakasih atas setiamu

Setia berarti ketulusan untuk menyimpan hati di dalam hati dan berjanji untuk tidak mengkhianati
Setia bukan berarti tak pernah tergoda,
Setia adalah selalu tahu jalan pulang ketika hati hampir terbelok dan pergi
Setia adalah hati yang selalu pulang, sejauh apapun angin membawanya terbang
Setia adalah hati yang tahu arah cinta berlabuh untuk kembali,
Setia adalah ketika ada iman di hati, sehingga bersama sampai ke syurga nanti
Setiaku adalah wujud syukurku pada Allah atas hadirnya dirimu di hidupku
Terimakasih telah setia padaku
Untuk yang tetap setia dan bertahan dengan sikapku, aku mencintaimu ...

KH. Zaini Mun'im: Ketika Harus Memilih Antara Ilmu dan Emas


Setelah mondok di pesantren Tebuireng, Jombang kepada Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari, beliau berangkat ke Mekkah bersama keluarganya. Beliau mendalami lagi ilmu fiqih, ushul fiqh, hadis, tafsir, lughah, balaghah dan tasawuf, mengaji kepada beberapa syekh, diantaranya Syekh Umar Hamdani al-Maghribi, Syekh Alwi Al Maliki, Syekh Said al-Yamani, Syekh Umar Bayunid, Syekh Syarif bin Ghulam Makkah dan masyayikh lainnya.

Suatu saat, ketika mondok dan mengaji kepada Syekh Syarif Ghulam, guru tasawuf beliau, beliau tidak hanya sekedar menyerap ilmunya saja, tapi beliau juga menjadi khadam (abdi dalem) nya. Sebagaimana biasanya, suatu saat ketika beliau sedang mengisi air di kamar mandi sang guru dengan menimba air dari sumur ternyata embernya tidak berisi air, namun berisi segumpal emas. Oleh beliau emas itu tidak lantas diambilnya namun justru dikembalikan lagi ke dalam sumur.

Jawab beliau, “karena yang saya inginkan adalah ilmunya, bukan emas itu”.

Subhanallah, mungkin ini termasuk ujian dari guru beliau dan KH. Zaini bisa melewatinya dengan ketajaman hati dan pikiran yang Allah berikan pada beliau.

Dalam kisah di atas, KH. Zaini tidak hanya mengaji kepada gurunya tapi juga berkhidmah dan shuhbah kepada guru beliau, sebagaimana dalam suatu maqalah:
العلم بالتعلم والبركة بالخدمة “Al-‘ilmu bitta’allum, wal barakah bil khidmah: Ilmu diperoleh dengan belajar, sedangkan keberkahan diperoleh dengan ber-khidmah (mengabdi).”

Berkhidmah atau shuhbah dapat memperkuat hubungan murid dengan sang guru, ikhwan dengan Mursyidnya, dan mendapat keridhaan sang guru. Nah ketika sang murid mendapat keridhaan sang guru, maka itulah salah satu alamat dari tanda kesuksesan sang murid di masa depan.

Bahkan dalam dunia sufi posisi “khidmah” dan “shuhbah” ini sangat penting, karena di sinilah para murid akan mendapatkan asrar (rahasia), ilmu dan hikmah dengan cepat jika sang murid memang bersungguh-sungguh dan senantiasa membersihkan hatinya.
Dikutip dari buku KH. Zaini Mun’im; Pengabdian dan Karya tulisnya
Oleh: Maghfur Ramdhani (Ketua PK MATAN Universitas Nurul Jadid) dalam jatman.or.id

Larangan Bicara Agama Tanpa Dasar Ilmu


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا (الإسراء: 36)

Maknanya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. al Isra’: 36)

Ayat tersebut dijadikan salah satu dalil oleh para ulama atas diharamkannya berbicara tentang agama tanpa dasar ilmu. Bahkan para ulama mengategorikannya sebagai salah satu dosa besar. Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَفْتَى بِغَيْرِ عِلْمٍ لَعَنَـتْهُ مَلَائِكَةُ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ (رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ)

Maknanya: “Barangsiapa berfatwa (bicara agama) tanpa ilmu, maka ia dilaknat oleh para malaikat di langit dan di bumi.” (H.R. Ibnu ‘Asakir).

Orang yang berfatwa adakalanya adalah seorang mujtahid, bertaqlid (mengikuti) seorang mujtahid, dan adakalanya adalah orang yang memaksakan diri untuk berfatwa tanpa ilmu.

Mujtahid ialah orang yang memiliki keahlian untuk menggali hukum-hukum yang tidak terdapat teks Al-Qur’an dan sunnah yang jelas tentangnya. Ia adalah seorang yang hafal ayat-ayat yang berkaitan dgn hukum, hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum serta mengetahui sanad-sanad dan keadaan para perawinya, mengetahui nasikh dan mansukh, ‘am dan khash, muthlaq dan muqayyad serta menguasai seluk-beluk bahasa Arab dengan sekira hafal pemaknaan-pemaknaan setiap nash sesuai dengan bahasa Al-Qur’an, mengetahui apa yang telah disepakati oleh para ahli ijtihad dan apa yang diperselisihkan oleh mereka, karena jika tidak mengetahui hal ini, maka dimungkinkan ia akan menyalahi ijma’ (konsensus) para ulama sebelumnya.

Lebih dari syarat-syarat di atas, masih ada sebuah syarat penting lagi yang harus terpenuhi dalam berijtihad, yaitu kekuatan pemahaman dan nalar. Kemudian juga disyaratkan memiliki sifat ‘adalah, yaitu tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak membiasakan berbuat dosa-dosa kecil yang bila diperkirakan secara hitungan, jumlah dosa kecilnya tersebut melebihi jumlah seluruh perbuatan baiknya

Sudahkah menasehati diri sendiri

Berkali-kali aku menasihati orang lain...⁠
Tapi, sudahkah aku menasihati diriku sendiri?⁠

Berkali-kali aku memerintah agar melakukan amalan ini dan itu kepada orang lain...⁠
Tapi, sudahkah aku mengamalkan amalan tersebut sebelum dia?⁠

Berkali-kali aku melarang seseorang dari melanggar perintah Allah...⁠
Tapi, sudahkah aku menjauh dari larangan-larangan-Nya?⁠

Duhai,⁠
Aku takut diri ini dibenci Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena tidak mengamalkan apa yang diri ini sendiri katakan.⁠

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)⁠

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3).⁠

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan hidayah kepada kita.⁠

Futuh

Kunci Terbukanya Hati

الامام الحبر القطب الحبيب عبد القادر بن احمد بلفقيه "الفتوح لازم من حسن الظن و الفناء بمحبۃ الشيخ . وبهذا سوف يحصل الفتوح"

"Futuh (terbukanya pemahaman ilmu) harus disertai dengan baik sangka dan tenggelam dalam kecintaan kepada guru, maka dengan cara inilah futuh didapat" (Mi'ah Faaidah juz 3 hal 5 nomor 21).