Saturday, October 24, 2026

DZALLŪMAN JAHŪLAN

Mereka mengambil rotimu, lalu mengembalikan remah-remahnya. Setelah itu, mereka berharap kamu berterima kasih seolah-olah mereka sedang bermurah hati.


Sejak kapan kebaikan dijadikan alat untuk membuat seseorang merasa berutang?


Ada yang menikmati hasil dari kerja kerasmu, kemudian menyerahkan sedikit bagian kepadamu dan menyebutnya penghargaan.


Ada yang berkali-kali memakai waktu, tenaga, perhatian, bahkan ketulusanmu. Namun ketika sekali saja mereka membantumu, seolah-olah kamu wajib mengenangnya sebagai sebuah jasa besar.


Ada pula yang membuatmu merasa beruntung hanya karena masih diberi sedikit, padahal sebelumnya mereka telah mengambil jauh lebih banyak.


Yang menyedihkan, kadang kita ikut percaya bahwa remah-remah itu adalah sebuah anugerah.


Padahal, setelah semuanya dihitung dengan jujur, belum tentu yang kita terima benar-benar sebuah kebaikan. Bisa jadi itu hanya sebagian kecil dari sesuatu yang sejak awal memang merupakan hak kita.


Karena itu, jangan mudah silau oleh pemberian yang datang setelah hakmu diambil.


Tidak semua yang disebut *kemurahan hati* benar-benar lahir dari hati yang murah.


Ada kalanya kita hanya perlu melihat cerita secara utuh, bukan sekadar menikmati remah yang disodorkan.


Sebab keadilan tidak berubah menjadi kebaikan hanya karena dikemas sebagai pemberian.


Dan jangan lupa, Allah Maha Mengetahui siapa yang mengambil hak orang lain, siapa yang memberi dengan tulus, dan siapa yang sedang menyamarkan kezalimannya dengan nama “kebaikan”.

Dibuat miskin agar mudah diatur.

Diberi bantuan agar lupa kalau sedang ditindas.

Bansos tanpa lapangan kerja adalah rantai yang di balut dengan bungkusan bantuan.

Kekuqsaan yang sehat itu memberdayakan.

Kekuasaan yang munafik itu memelihara ketergantungan.

Salam waras.



0 comments :

Post a Comment