This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, August 2, 2023

ANCAMAN BAGI PENGEMIS

Dari 'Abdullah bin 'Umar, ia berkata bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berlibur,


مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِه ِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1040)


Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berlibur,


مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ

“Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya bukanlah fakir, maka ia seolah-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4/165)


Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berlibur,


الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَ انًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ


"Meminta-minta adalah seperti seseorang yang mencakar dirinya sendiri kecuali jika dia meminta-minta pada penguasa atau pada masalah yang benar-benar dia butuhkan." (HR. An Nasai no. 2600, At Tirmidzi no. 681, dan Ahmad 5/19)


Hanya tiga orang yang diperbolehkan boleh meminta-minta sebagaimana disebutkan dalam hadits Qobishoh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berlibur,


يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَ مَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَي ْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَ ةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِن ْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَة ُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا


“Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, (2) seseorang yang ditimpa kemalangan yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta- minta sampai dia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, 'Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan', maka dia bisa meminta-minta sampai mendapatkan sandaran kompensasi hidup.- minta selain hal ketiga itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram." (HR.Muslim no.1044)


WALLAAHUa'lam

JANGAN MANJAKAN PENGEMIS

Kami hanya nasehatkan jangan manjakan pengemis apalagi pengemis yang malas bekerja seperti yang berada di pinggiran jalan. Kebanyakan mereka malah tidak jelas agamanya, shalat juga tidak, begitu pula hanya sedikit yang puasa. Carilah orang yang sholeh yang lebih berhak untuk diberi, yaitu orang yang miskin yang sudah berusaha bekerja namun tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا


“Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak." (HR. Bukhari no. 1476)


WaLLAAHUa'lam

DO'A MINTA PERLINDUNGAN DARI PENYAKIT JELEK


وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُوْلُ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ )) . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.


Dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan, “ALLOOHUMMA INNII 'AUUDZU BIKA MINAL BAROSHI WAL JUNUUNI WAL JUDZAAMI WA SAYYI-IL ASQOOM (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit yang jelek lainnya)." (HR. Abu Daud, no. 1554; Ahmad, 3: 192).


Keterangan hadits

Al-barash adalah penyakit yang sudah makruf, yaitu ada warna putih pada jasad yang akhirnya merubah bentuk dan penampilan.


Al-junun adalah hilangnya akal.


Al-judzam adalah penyakit kusta atau lepra.


Sayyi-il asqom adalah penyakit jelek.


Faedah hadits


1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta perlindungan dari penyakit yang jelek untuk mengajarkan kita bersabar, supaya tidak banyak mengeluh, yang akhirnya membuat kita luput dari pahala.

2. Penyakit-penyakit yang disebutkan di sini punya dampak jelek pada penampilan dan fisik, sehingga bisa membuat orang lain menjauh.

3. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meminta perlindungan dari semua penyakit karena sakit sendiri dapat membersihkan dosa asalkan mau bersabar. Setiap orang bisa saja tertimpa sakit. Namun ujian yang paling berat adalah yang dihadapi oleh para nabi lalu orang di bawahnya lagi.


WaLLAAHUa'lam

DO'A MINTA PERLINDUNGAN DARI KEJELEKAN


وَعَنْ شَكَلِ بْنِ حُمَيدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، عَلِّمْنِي دُعَاءً ، قَالَ : قُلْ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي ، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي ، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ


رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ


Syakal bin Humaid radhiyallahu 'anhu, ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah ajarkan kepadaku suatu doa." Maka beliau mengatakan, “Bacalah: ALLOHUMMA INNI A'UDZU BIKA MIN SYARRI SAM'II, WA MIN SYARRI BASHORII, WA MIN SYARRI LISAANII, WA MIN SYARRI QOLBII, WA MIN SYARRI MANIYYI (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, dari kejelekan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelekan pada mani atau kemaluanku).”


(HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan).


[HR. Tirmidzi, no. 3492 dan Abu Daud, no. 1551, An-Nasai, no. 5446].


Keterangan Hadits

1. Yang dimaksud kejelekan pendengaran adalah mendengar kalam az-zuur (dusta), fitnah, dan perkataan maksiat lainnya.

2. Yang dimaksud kejelekan penglihatan adalah memandang yang diharamkan, memandang orang lain dengan kehinaan, dan lalai dari memandang ciptaan Allah sebagai iktibar.

3. Yang dimaksud kejelekan lisan adalah berbicara yang batil, berbicara sesuatu yang tidak bermanfaat, atau diam untuk menyuarakan kebenaran.

4. Yang dimaksud kejelekan hati yaitu hati yang selalu tersibukkan sehingga menggantungkan hati kepada selain Allah.

5. Yang dimaksud kejelekan mani adalah kejelekan pada kemaluan.


Faedah Hadits

1. Anggota tubuh manusia hendaklah dimanfaatkan untuk bersyukur dengan memanfaatkannya pada ketaatan kepada Allah.

2. Ibadah itu bisa dilakukan dengan hati, lisan, dan anggota badan.

3. Ibadah dengan hati misalnya ikhlas, tawakkal, cinta, sabar, taubat, takut, berharap, yakin, niat dalam ibadah.

4. Keharaman yang dilakukan oleh hati ada dua macam yaitu kekufuran dan maksiat. Contoh kekufuran dengan hati: syakk (ragu-ragu), nifak (kemunafikan), syirik, dan cabang-cabangnya. Contoh maksiat dengan hati ada yang dosa besar seperti riya', ujub, sombong, putus asa dari rahmat Allah, merasa aman dari siksa Allah, senang jika kaum muslimin sengsara. Ada juga contoh maksiat dengan hati yang masuk dosa kecil seperti syahwat dan keinginan pada yang haram.

5. Ibadah dengan lisan ada yang wajib seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, bacaan Al-Qur'an yang wajib, bacaan dzikir yang wajib dalam shalat, amar makruf nahi mungkar, dan mengajarkan orang yang tidak tahu. Adapun ibadah lisan yang sunnah adalah membaca Al-Qur'an, merutinkan dzikir kepada Allah, berdiskusi dalam masalah ilmu yang bermanfaat.

6. Keharaman yang dilakukan lisan adalah berbicara segala yang Allah dan Rasul-Nya benci, ucapan yang bid'ah, mengajak pada kebidahan, menuduh zina, dusta, menyakiti orang lain dengan perkataan.

7. Ibadah yang wajib dengan pendengaran adalah diam ketika imam membaca Al-Qur'an, diam ketika mendengar khutbah Jumat. Ibadah yang sunnah dengan pendengaran adalah mendengar ilmu, mendengar bacaan Al-Qur'an, mendengar dzikir.

8. Keharaman yang dilakukan pendengaran adalah mendengar kekufuran, kebidahan, mendengar suara wanita yang mengundang syahwat, mendengarkan musik. Namun tidak wajib menutup telinga ketika mendengar suara musik dan kita tidak ingin mendengarkannya, kecuali jika khawatir dapat konsen mendengarkannya karena lama diam.

9. Yang wajib dengan penglihatan adalah melihat mushaf dan membaca kitab ilmu yang wajib. Yang sunnah dengan penglihatan adalah melihat kitab ilmu untuk menambah keimanan, memandang mushaf, memandang wajah orang saleh, dan memandang wajah orang tua.

10. Keharaman yang dilakukan dengan penglihatan adalah melihat wanita bukan mahram dengan syahwat. Yang makruh dengan penglihatan adalah banyak memandang yang tidak ada maslahat.

 

WaLLAAHUa'lam

Kiat untuk Bisa Sabar, Ridha, Hingga Bersyukur

Pertama: Melihat kepada pilihan Allah, pasti Allah memilih yang terbaik untuk kita.


Dari Shuhaib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ


“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya." (HR. Muslim, no. 2999)


Kedua: Mengingat bahwa dengan adanya musibah itu akan menghapuskan dosa.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ


“Ujian akan selalu bersama dengan orang beriman lelaki maupun perempuan, baik pada dalam diri, anak, dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai satu kesalahan pun." (HR.Tirmidzi, no. 2399; Shahih Ibnu Hibban, 2924. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)


Ketiga: Kalau kita memandang musibah yang menimpa kita masih lebih ringan dan Allah masih menyayangi kita, sedangkan musibah yang menimpa lainnya lebih berat.


Keempat: Hendaklah melihat pada akibat dari musibah, karena musibah tersebut membuat kita rajin berdzikir, berdoa, dan semakin kepada Allah.


Kelima: Mengingat pada balasan sabar dan ridha begitu besar.


Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


إنَّ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً


“Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jallaberkata kepada penghuni surga, "Wahai penghuni surga." Mereka berkata, 'Kami memenuhi panggilan-Mu, kami mentaati-Mu.' Allah berfirman, "Apakah kalian ridha (puas)?" Mereka menjawab, 'Kenapa kami tidak ridha (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari ciptaan-Mu." Maka Allah berfirman, "Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?' Mereka berkata, "Adakah yang lebih baik dari ini?" Allah berfirman, "Aku telah menurunkan kepada kalian keridhaan-Ku, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya." (HR. Bukhari, no. 6549, 7518 dan Muslim, no. 2829)


WaLLAAHUa'lam

Wednesday, July 26, 2023

Kena 'Ain Duduk Selama 15 Tahun

Di sebuah desa, ada seseorang yg hny bs duduk saja selama 15 tahun. Setelah 15 tahun itu, ada orang di desanya yang meninggal dunia. Pagi harinya setelah shalat subuh, orang yg hny bisa duduk itu tiba2 ingin bergerak. Dan benar saja, orang yg semula hny bs duduk saja itu bisa berdiri di atas kedua kakinya. Saat itulah baru diketahui bahwa orang yg hny bs duduk saja selama 15 tahun itu telah terkena 'ain.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin al-Jibrin (hafidzahullah) ditanya:

"APAKAH PENGARUH BURUK 'AIN AKAN BERAKHIR SEIRING MATINYA PELEMPAR 'AIN?

Kemudian musibah itu lenyap seiring lenyapnya jiwa dan berpisahnya nyawa si pemilik 'ain dr raganya. Pengaruhnya buruk 'ainnya pun melemah, bahkan hilang total." (Fatawa Maktubah, pada 24 sya'ban 1418H).

Beliau mengatakan:

"Demikianlah yg telah kami dengar. Dan dikatakan itu berdasarkan pengalaman dan dikuatkan oleh fakta yg disaksikan byk org. Barangkali pelajaran yg bs diambil dr kejadian itu adalah jiwa si pemilik 'ain beserta ruhnya, selama menyatu dgn jasadnya bs mengarahkan ke arah korban dan menimbulkan pengaruh buruk pada yg terkena 'ain. Sehingga ketika pelempar 'ain itu meninggal, dan ruhnya telah meninggal dgn raganya, maka pengaruh 'ainnya menjadi lenyap. Dengan izin Allah Tabaroka wa Ta'ala orang yg terkena' ain pun menjadi sembuh.

Wallahu a'lam

JIMAT DAN RAJAH

Allah Ta'ala berfirman,


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ


"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri." (QS. Az Zumar: 38)


Syaikh 'Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah –penulis Fathul Majid- berkata, “Ayat ini dan semisalnya adalah dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menggantungkan hati kepada selain Allah ketika ingin meraih manfaat atau menolak bahaya. Ketergantungan hati kepada selain Allah dalam hal itu termasuk kesyirikan“.


Jimat dan rajah termasuk yang dimaksudkan dalam ayat yang mulia ini. Karena orang yang memakai jimat dan memasang rajah di dinding dan tempat lainnya, bermaksud untuk mendatangkan manfaat –seperti dagangannya laris atau agar penyakitnya sembuh- atau ingin menolak mudhorot (bahaya) –seperti menolak 'ain (mata dengki) atau menolak wabah penyakit-.


Dari 'Imron bin Hushain radhiyallahu 'anhu, ia berkata,


أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ « وَيْحَكَ مَا هَذِهِ ». قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ « أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْناً انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِىَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَداً


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihat di lengan seorang pria gelang yang dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu beliau berkata, "Untuk apa engkau memakainya?" Pria tadi menjawab, "(Ini dipasang untuk mencegah dari) wahinah (penyakit yang ada di lengan atas). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda, "Gelang tadi malah membuatmu semakin lemah. Buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya." (HR. Ahmad 4: 445 dan Ibnu Majah no. 3531).


Al Hakim mengatakan, "Kebanyakan guru kami berpendapat bahwa Hasan Al Bashri mendengar hadits ini langsung dari 'Imron. Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz termasuk  ulama yang menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, artinya tidak bermasalah.


Dari 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ


“Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari 'ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan" (HR. Ahmad 4: 154).


Dalam riwayat lain disebutkan,


مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ


“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik" (HR. Ahmad 4: 156).


Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim (43: 179), dari Hudzaifah, di mana ia pernah melihat seseorang memakai benang untuk mencegah demam, kemudian ia memotongnya. Lantas Hudzaifah membacakan firman Allah Ta'ala,


وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ


“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." (QS. Yusuf: 106)


Begitu pula Waki'  pernah meriwayatkan dari Hudzaifah. Beliau pernah mengunjungi orang sakit. Lantas beliau melihat-lihat di lengan atas orang sakit tersebut dan mendapati benang. Hudzaifah pun bertanya, "Apa ini?" "Ini adalah sesuatu yang bisa menjagaku dari rasa sakit tersebut", jawab orang sakit tadi. Lantas Hudzaifah pun memotong benang tadi. Lantas Hudzaifah berkata, "Seandainya engkau mati dalam keadaan engkau masih mengenakan benang ini, aku tidak akan menyolatkanmu"


Lihatlah bagaimana sikap keras para sahabat bagi orang yang mengenakan jimat untuk melindungi dirinya dari sakit, dalam rangka meraih maslahat. Jimat tersebut sampai dipotong, walau tidak diizinikan. Dalam penjelesan di atas menunjukkan bahwa seseorang bisa berdalil dengan ayat yang menjelaskan tentang syirik akbar (besar) untuk maksud menjelaskan syirik ashgor (kecil) karena kedua-duanya sama-sama syirik.


WaLLAAHUa'lam