This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, February 10, 2019

Kimi sahabat Kami

Awal ketemu Kimi adalah saat membaca status WA teman SMA ku, tertulis "barangkali ada yang mau adopsi kucing silahkan ambil ke rumah". Diupload dua gambar kucing yang masih kecil, satu warnanya Kuning cowo (kami kasih nama Kimi) dan satu lagi warna abu gelap cewe (kami kasih nama Kimo). Saya coba WA ke temanku "kalau boleh saya mau mengadopsi mbak Ana".
Kimi 
Kimo

Diperbolehkan dan saya ambil ke rumahnya. Untungnya dua kucing itu sudah tidak menyusu sama induknya.

Akhirnya Kimi dan Kimo jadi extend family di rumah kami.

Sejalan dengan waktu kimi tumbuh makin besar. Kimi dan kimo sengaja tidak kami kandang, walaupun kami ada kandang second, dua tingkat pemberian tetangga.


Mereka berdua teratur dalam hal BAB dan BAK kami sediakan tempat tersendiri di sudut rumah. Disitu mereka BAB dan BAK tidak di sembarang tempat.

Mereka berdua akur kadang saling bersihkan bulu-bulu nya. Tapi yang anehnya Kimo tidak mau di kawin sama Kimi. Tidak tau ada faktor apa. Justru Kimo punya 3 anak malah sama kucing tetangga.

Bagi kami, Kimi dan kimo berjasa, karena sebagai teman istri di rumah. Kadang menemani istri di meja setrikaan, menemani ketika di dapur. Dan polah tingkah mereka berdua sering bikin kita senyum bahkan tertawa. Banyak lucunya daripada ngeselinnya.


Bebagai cara Allah bangunkan malam kami diantaranya melalui Kimi

Kesukaan Kimi adalah rutin setiap sekitar jam 3 dini hari, selalu lompat ke kasur kemudian naik ke dada saya atau istri, dengan wajahnya menghadap ke wajah kami, ditungguin sampai bangun. Setelah kami bangun giliran dia lanjutin tidur lagi, atau minta keluar rumah dengan mengeong di depan pintu utama. Kalau kami sudah bangun sebelum jam 3 (duluin Kimi), dia tidak ribut lompat ke kasur, paling minta keluar rumah. Kalau pintu kamar kami tutup, dia garuk-garuk itu pintu pakai Kuku nya (pintu kamar kami dari triplex jadi suaranya keras kalau digaruk kuku Kimi). Kalau kucing kami satunya yang kimo tidak pernah demikian.

Kesukaan Kimi dan Kimo lainnya adalah naik ke rumah tetangga yang kebetulan tidak ditempati, tapi dihuni burung sriti. Disitu Kimi dan Kimo sering bawa ke rumah hasil buruannya yaitu burung sriti. Sepertinya mereka berdua berada di posisi dimana jadi pintu keluar masuk burung sriti. Kami menduga mereka ulurkan kaki depannya di jalur keluar masuk burung jadi salah satu ada yg tertangkap. Tidak dimakan, hanya dipakai mainan, kadang sampai mati, atau kalau ketahun kami, itu burung kalau masih hidup kami pisahkan dari kimi kimo agar tidak mati.

Untuk makan mereka berdua tidak pilih-pilih, kadang kami belikan makanan pelet di toko, tidak jarang malah berbagi dengan kami. Kalau istri saya beli ikan (pindang/japuh) di pasar beli mentah kemudian di masak presto. Jadi kalau mengoreng ya sebagian untuk mereka dan sebagian untuk kami makan sekeluarga.

Untuk kimi kimo, oleh istri pindang disuwir kecil-kecil kemudian dicampur nasi untuk makan kimi kimo.

Untuk makan kami sekeluarga, ikan pindang biasa dimasak balado, atau dioseng dengan irisan cabe.
Bisa jadi karena itu, biarpun ada makanan di atas meja makan, kadang kita lupa menutup tudung saji, mereka tidak berani ambil.

Kami pernah baca dari sesama pecinta kucing. Sebetulnya kucing ketika kita kasih tulang dan dimakan, itu bukan karena kucing suka tulang. Dia makan tulang karena tidak ada pilihan lain. Disitulah kami berusaha berbagi dengan mereka. Karena kami percaya Allah menjamin rizki kepada semua ciptaanya.

Akhir-akhir ini ada yang aneh dengan Kimi, karena biasanya jam 3 sudah lompat ke kasur, ini sudah 3 malam tidak ada yang lompat ke kasur atau garuk pintu kamar pake kuku.
Awalnya ga ngeh, setelah 2 hari ga lompat ke kasur, saya tanya ke istri, kenapa Kimi ga bangunin, dari pengamatan istri, Kimi kesulitan pipis karena biasa disudut rumah tempat dia BAB BAK, diperhatikan mengejan lama tidak beranjak. Setelah dia geser dan dilihat hanya sedikit pipisnya. Kemudian tampak tidak semangat seperti hari biasanya.

Pada hari ketiga sakitnya, sore hari sekitar jam 16.00 an, kami putuskan membawa ke dokter hewan tidak jauh dari rumah.
Dokter menyimpulkan Kimi menderita Feline lower urinary tract disease (FLUTD) yaitu infeksi saluran kencing bagian bawah, jadi sulit kencing akhirnya kencingnya terserap ke darah dan meracuni darah.
Oleh dokter diberikan obat untuk diminumkan. Sampai rumah istri coba minumkan pakai spet / alat suntik tanpa jarum di teteskan ke mulutnya.

Malam itu Sabtu malam, saya sedang kebagian Jaga Kamling di pos Ronda RT. Sekitar jam 23.25 istri WA saya "Abi, ini Kimi nya mati, ini dipeluk umi, tadinya Kimi merintih mengeog, terus umi peluk, eh malah mati Kimi nya". aku istri saya nge WA saya sambil nangis pastinya, demikian juga dengan kedua putri kami mereka menangis sejadinya, karena bagi kami kimi bukan hanya peliharaan tapi mereka adalah keluarga yang saling mengisi kekurangan dan saling membagi kebahagian. Yah begitulah cinta kami terjalin dengan indahnya antar makhluk ciptaan Allah yang berbeda spesies.
Akhirnya minggu paginya kami kubur disamping rumah.

Kisah nyata ini bisa jadi terkesan lebay, cara kami perlakukan kucing, tapi ya begitulah kami.
Selamat jalan Kimi ...terimakasih telah hadir di tengah keluarga kami. Memberi kebahagian dan ke ceriaan. Maafkan kami bila ada kekurangan dalam memberi perlindungan dan makanan. Selamat jalan. Kami akan selau mencintai mu Kimi.



Kadang gelut sama sepatu ... hehe ..

Tidur di mesin jahit
Kimi dan Kimo






Monday, January 14, 2019

SECANGKIR ILMU PAHAM

Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah "paham".
Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya.

Tingkat ke dua terbawah adalah "kurang paham".
Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham ..., dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar ...!

Naik setingkat lagi adalah mereka yang "salah paham". Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.

Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah "gagal paham". Gagal paham ini biasanya lebih karena kesombongan.

Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain.
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja ..., bukan ilmu yg disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan ...?

Tertutup hatinya.
Tertutup akal pikirannya.
Tertutup pendengarannya.
Tertutup logikanya.

Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri.

Parahnya lagi ...,

Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham.

Dia tetap dengan dirinya,
dan dia bangga dengan
ke-gagal paham-annya ...

"Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?"

"Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah."

Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa se-akan2 dia tidak tahu apa-apa ...

Dia terus mau menerima ilmu, darimana-pun ilmu itu datangnya.

Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat ..., apa yang disampaikan ...!

Dia paham ...,

ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya.

Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi.

dia seperti balon gas yang berada di atas awan.

Dia terbang tinggi dengan kesombongannya ...,
Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya,

Dan merasa akulah kebenaran ... !!!

Masalahnya ..., dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak.
Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.

Akhirnya dia terbawa ke-mana2 sampai terlupa jalan pulang ..., dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya ...

Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya ..., dengan penyesalan yang amat sangat dalam.

"Jadi yang perlu diingat ...,
akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah ...
Ketika hatimu meninggi.., maka ilmu juga-lah yang akan membutakan si pemilik akal ..."

Ternyata di situlah kuncinya.

"Lidah orang bijaksana, berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya ..., tetapi hati orang dungu, berada di belakang lidahnya, selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar ... !!!"

"Ilmu itu open ending" Makin digali makin terasa dangkal.
Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa...!!

Tulisan BAGUS ini kiriman seseorang yang tak ada nama penulisnya ( semoga Allah memuliakan beliau )

Jangan-jangan panutanmu itu ...?

Jika harta kekayaan dan tingginya status sosial adalah tolok ukur kesuksesanmu.

Coba periksa kembali, mungkin panutanmu bukanlah Rasulullah shallallahu alaihi wa salam ...

Tapi Fir'aun & Qarun.

Love Is

Love is not requested, but the love that comes naturally to every heart, without asking for a reply.

Kita Adalah Sengkun ??i!!!

Sengkuni ?? ... Siapa tidak kenal dengan tokoh satu ini??? Dalam epos Mahabaratha, Sengkuni digambarkan sebagai tokoh yang penuh kelicikan dan kejahatan... Dia adalah seorang antagonis sejati... Meskipun begitu, Sengkuni adalah sosok yang pintar, pandai bicara, dan akalnya banyak... Tapi, semua kelebihan yang dimilikinya, dia gunakan untuk berjalan di jalan yang salah... Dia adalah raja nya hasut, fitnah, memutar balikkan fakta, dan pandai men-siasati aturan... "Karya besar" dari Sengkuni adalah, perang Barathayuda...

Apakah kita mau jika kita disamakan dengan Sengkuni??? Apakah kita mau mempunya sifat seperti Sengkuni??? Tentu jawaban yang masuk akal, adalah tidak...
Tapi benarkah kita sudah bebas dari watak ala Sengkuni??? Mari kita jawab beberapa pertanyaan berikut...

1. Apakah kita, baik secara diam-diam atau bahkan terang-terangnya, sering merasa dengki, tidak senang, apabila ada rekan kita yang memperoleh kebahagiaan, atau kesuksesan???

2. Apakah kita, sering berusaha tampil baik, meski aslinya tidak baik di hadapan manusia lain??? Terlebih di depan atasan atau orang yang kita hormati???

3. Apakah kita sering menghalalkan segala cara, demi ambisi pribadi kita, tujuan kita, bahkan jika perlu menyakiti orang lain pun tidak apa-apa???

4. Apakah kita senang mencari keburukan orang lain dengan berbagai motif dan tujuan yang menguntungkan kita sendiri???

Semoga jawaban nya tidak... Jika jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah "ya", mungkin anda-anda dekat dengan sifat dan sikap seorang Sengkuni...

Dahsyatnya berdo'a

Suatu kali seorang Ayah ditanya oleh anaknya:

"Mengapa Ayah selalu rajin berdo'a padahal keadaan ekonomi kita tetap biasa saja? Apa yang Ayah dapatkan dgn seringnya Ayah berdo'a secara teratur kepada Allah ?".

Sang Ayah menjawab:

"Tidak ada yang Ayah dapat, malah Ayah banyak kehilangan; tetapi ....... Ayah akan beritahu kepadamu Nak, apa-apa saja yang hilang itu ...".

Ternyata yang hilang adalah:
- Kekuatiran.
- Kemarahan.
- Depresi.
- Kekecewaan.
- Sakit Hati.
- Kerakusan.
- Ketamakan.
- Kebencian.
- Kesombongan.

"Setiap kali setelah berdo'a Ayah selalu kembali menjadi tenang.".

Kadangkala, jawaban atas do'a kita tidak selalu tentang "apa yang kita dapat" tetapi justru "apa yang hilang" dari kehidupan kita.

Janganlah selalu mengukur kebaikan Allah dari "apa yang kita dapat" karena terkadang Allah bekerja lewat "apa yang hilang" dari kehidupan kita...

Belajar jadi Manusia

Belajarlah jadi manusia
Sebelum belajar agama

Biar kelak setelah mengerti agama
tidak menjadikan diri sebagai tuhan

Jangan memaksakan orang lain untuk selalu mengikuti isi kepalamu
Hanya karena kau merasa dirimu benar, bukan berarti yang lain salah.

Cobalah untuk menghargai lebih
Sebelum ingin dihargai lebih

Kalau aku SALAH ... !
apakah KAMU benar?

Falaa tuzakkuu anfusakum…

Demikianlah bunyi salah satu potongan ayat al-Qur’an. Sebagaimana di dalam surat an-Najm ayat 32. Maknanya kurang lebih ialah: “oleh karena itu, janganlah kalian menilai sucinya diri-diri kalian”. Yaitu janganlah kalian merasa terbebas dari kelemahan, kekurangan, kesalahan dan dosa. Sikap menilai baiknya diri seperti ini disebut tazkiyah dan Alloh azza wajalla melarang setiap kita dari mentazkiyah diri-diri masing-masing.

sejatinya yang salah itu di benarkan, bukan disalahkan.