This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, June 25, 2015

Sekolah "KNOWING" vs "BEING"

Para orang tua dan guru yang berbahagia...., satu hari saya kedatangan seorang tamu dari negeri Eropa, dan seperti biasa setelah tugas-tugas utama kami selesai, saya selalu menawarkan dan mengajak rekan saya untuk berjalan-jalan melihat-lihat keindahan objek-objek wisata kota Jakarta dan sekitarnya. Dan sepanjang jalan kami terus berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Dan pada saat kami ingin menyeberang jalan kawan saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross untuk tempat kita menyebrang.

Berbeda dengan saya sendiri dan kebanyakan orang Jakarta pada umumnya yang dengan mudahnya menyeberang jalan dimana saja ia suka, bahkan tidak hanya menyebrang jalan, banyak dari mereka yang dengan santainya melompati pagar pembatas jalan yang tingginya hampir satu meter. Dan sungguh aneh bahwa teman saya ini tetap saja tidak terpengaruh oleh situasi, dan masih saja terus mencari zabra cross setiap kali dia mau menyeberang. Meskipun saya tahu bahwa di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross. Dan yang lebih memalukan lagi adalah bahwa meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tidak mau memberikan kita jalan dan tetap menancap gasnya sehingga rekan saya ini sering menggeleng-gelengkan kepalanya tanda begitu kagumnya terhadap prilaku bangsa kita.

Sebuah fenomena yang cukup menggelitik yang tampak nyata di depan saya, perbedaan antara teman saya yang dari Eropa ini dengan saya dan bangsa saya.

Dan pada saat kami sedang beristirahat disalah satu tempat wisata, akhirnya tak tahan lagi bagi saya untuk menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyebrang jalan tadi, meskipun sebenarnya dalam hati kecil saya merasa agak malu juga. Saya bertanya mengapa orang-orang di negara kami menyebrang tidak pada tempatnya, meskipun sesungguhnya jika ditanya mereka tahu bahwa Zebra Cross itu adalah tempat untuk menyebrang jalan. Sementara saya perhatikan, anda selalu konsisten mencari zebra Cross untuk tempat menyebrang meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross, tanya saya padanya.

Setelah selesai menyantap makan siangnya lalu pelan-pelan dia mulai menjawab pertanyaan saya. Katanya.... Edy...Its all happen because of The Education System. Edy semua ini terjadi penyebabnya adalah karena sistem pendidikan, katanya. Wah.. bukan main kagetnya saya mendengar jawaban rekan saya ini, apa hubungannya antara menyebrang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan...? dalam hati saya berpikir.

Lalu teman saya ini melanjutkan penjelasannya, Di dunia ini ada dua jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk “Knowing” atau sekedar tahu saja, sedangkan yang lainnya sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi mahluk “Being”. Lalu saya katakan apa maksudnya...., Ya kebanyakan sekolah yang ada hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswanya...sementara sekolah tadi tidak mampu membangun kesadaran siswanya untuk mau melakukan apa yang dia ketahui itu sebagai bagian dari kehidupannya. Sehingga anak-anak tumbuh hanya menjadi “Mahluk Knowing” hanya sekedar mengetahui bahwa zebra cross adalah tempat menyeberang, tempat sampah adalah untuk menaruh sampah tapi mereka tetap menyebrang dan membuang sampah sembarangan. 

Ciri-ciri sekolah semacam ini biasanya memiliki banyak sekali mata pelajaran yang diajarkan pada siswanya...hingga tak jarang membuat para siswanya stress dan mogok sekolah, segala macam di ajarkan dan banyak hal yang di ujikan...tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian dilakukan ya... karena ujiannyapun hanya sekedar tahu saja “Knowing”.

Sementara di negara kami... sistem pendidikan benar-benar di arahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya tahu apa yang benar akan tetapi mereka juga mau melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya. Di negara kami anak-anak hanya di ajarkan 3 mata pelajaran pokok yakni Basic Sains, Basic Art dan Social yang semuanya dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus terhadap kejadian nyata yang terjadi diseputar kehidupan mereka. sehingga mereka tidak hanya tahu, malainkan mereka juga mau menerapkan ilmu yang diketahuinya dalam keseharian kehidupan mereka. 

Anak-anak ini juga tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu. Cara ini mulai di ajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk “Being”. Yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar.

Wow...! sungguh penjelasan yang luar biasa dan telah membuat saya begitu tercengang...! betapa sekolah itu sesungguhnya begitu memegang peran yang sangat penting bagi pembentukan prilaku dan mental anak-anak bangsa. Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa. 

Ya...kini saya mulai menyadari bahwa sekolah-sekolah kita mestinya lebih di arahkan untuk mencetak generasi yang tidak hanya sekedar tahu tentang hal-hal yang benar tapi jauh lebih penting untuk mencetak anak-anak yang mau melakukan apa-apa yang mereka ketahui itu benar.... Ya...Mencetak manusia-manusia yang “Being”.

Para orang-orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada..., mari kita renungkan bersama....apakah sekolah-sekolah kita...? ya..! tempat anak-anak kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan dan kurikulum yang akan menjadikan anak-anak kita untuk menjadi mahluk “Being” atau hanya sekedar menjadi Mahluk “Knowing” saja..?

Mudah-mudahanan sekolah Mutiara dari TK sampai SMA sudah menerapkan yang namanya "Being" bukan lagi "knowing"

Copas : WA Bp. Irwan Joni

Wednesday, June 24, 2015

Law of Attraction (Hukum Tabur Tuai)

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Seorang buta sedang berjalan dengan tongkatnya di malam hari. Tangan kanannya memegang tongkat, sementara tangan kirinya membawa lampu.
Pemandangan ini mengherankan bagi seorang pria yang kebetulan melihatnya.
 ‎
Karena penasaran, pria itu bertanya,
"Mengapa anda berjalan membawa lampu?"
Orang buta itu menjawab, "Sebagai penerangan".
Dengan heran pria itu bertanya lagi, "Tetapi, bukankah anda buta & tetap tidak bisa melihat jalan meski ada lampu penerangan?"
‎Orang buta itu tersenyum sambil menjawab, "Meski saya tidak bisa melihat, orang lain melihatnya. Selain membuat jalanan menjadi terang, hal ini juga menghindarkan orang lain untuk tidak menabrak saya..."‎

Sahabat surga ku..
Disaat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya kita sed‎ang melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri.

Kita diingatkan untuk tidak jemu-jemu berbuat baik.

Inilah rahasia kehidupan untuk hidup yang penuh berkah, berkelimpahan & bahagia.

Meski demikian, rahasia kehidupan ini tersembunyi bagi orang-orang yang egois, kikir, pelit & melakukan sesuatu hanya berdasarkan apa yang menguntungkan bagi dirinya sendiri.

"Apa yang kita lakukan untuk orang lain, suatu saat pasti akan terjadi kepada kita".

Itulah hukum tabur tuai.
Hukum tarik menarik yang merupakan Sunnatullah di alam semesta.

Mari berbuat kebajikan dan berbagi.

Orang berbuat baik kepada sesama, peduli, perhatian, memberi, mengasihi. Bukan berarti menganggap orang lain itu lemah, miskin dan layak atau pantas. Bukan, tetapi semata menjalankan takdir Nya, menjalankan perintah-Nya. Untuk selalu melakukan perbuatan yang baik.

‎Sahabat Surgaku...

Sejatinya, saat kita memberi, kita pasti akan menerima sesuai yang kita berikan.‎
Saat kita menolong orang lain, pada saat yang sama kita sedang menolong diri sendiri.

Apa yang kita lakukan untuk orang lain, sebenarnya kita sedang melakukannya untuk diri kita sendiri.

Inilah rahasia kehidupan yang tersembunyi bagi banyak orang.
Semoga Allah ridho dan menerima puasa kita.

Saturday, June 20, 2015

GOBLOK KAMU YA !!! ... (renungan untukku)

“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk dikorsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “

“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gixi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gixi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.

“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.

Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.

Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.

“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah

[disadur dari Group WhatsApp]

Takdir Kauniyah dari Kisah Tempe Setengah Jadi

Di suatu desa hiduplah seorang ibu penjual tempe.
Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski demkian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya.
Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya...?",
Demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi dia berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe..,
dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang.
Tapiii...,
Deg! dadanya gemuruh.
Tempe yang akan di jual, ternyata belum jadi....

Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari proses peragian.

Tempe itu masih harus menunggu 1 hari lagi untuk jadi.
Tubuhnya lemas...
Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai lagi.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya.
Dia tau.., jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil.
Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa...,
"Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku.
Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.
Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku...".

Dalam hati.., dia yaqin.., Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe.
Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu.
Proses peragian memang masih berlangsung...

Dadanya bergemuruh...
Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe.
Dan...  Dia kecewa.

Tempe itu masih belum juga berubah,  belum  menyatu oleh kapas-kapas ragi putih.
Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri.

🔹 Dia yakin.., Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.

🔹 Dia yakin..., Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah.

Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi..
 "Ya Allah, aku tau tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu.
 Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe...
Karena itu ya Allah, jadikanlah...! Bantulah aku, kabulkan doaku...".

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.
Pasti telah jadi sekarang, batinnya.
Dengan berdebar, dia
intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tsb.

"Keajaiban Tuhan akan datang... pasti..!",
Yakin-nya.

Dia pun berjalan ke pasar...

Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin..., "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya.

Berkali-kalii  dia memanjatkan doa...
Berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjag itu...

"Pasti sekarang telah jadi tempe..", batinnya.
Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan.
Dan... dia terlonjak.
Tempe itu masih tak ada perubahan.

Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Air mata pun menitiki keriput pipinya.

Kenapa doaku tidak dikabulkan...?

Kenapa tempe ini tidak jadi...?
 Apakah Tuhan ingin aku menderita...?
Apa salahku...?
Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yg telah dia sediakan.
Tangannya lemas..., tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu.
Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian...

 "Tuhan telah meninggalkan aku..", batinnya.

Airmatanya kian menitik... Terbayang esok dia tak dapat berjualan...
Esok diapun tak akan dapat makan.
Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang,dan "teman-teman" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai
berkemas.

Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku.

Kesedihannya mulai memuncak.
Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini.

Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya.

Dia memalingkan wajah, seorang perempuan, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya...,
"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi...?
"Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya..?".

Penjual tempe itu bengong..
Terkesima...
Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.
"Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi.
Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi.
Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe.."

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi.
"jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe...??"

"Bagaimana Bu...? Apa ibu menjual tempe setengah jadi..?", tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi...
"Duh Gusti... bagaimana ini...?
Tolonglah ya Allah, jng jadikan tempe ya..?", ucapnya berkali-kali.

Dan dengan gemetar, dia
buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu.

Dan apa yang dia lihat, sahabat...??
Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama.
Belum jadi..!.

 "Alhamdulillah!", pekiknya,
tanpa sadar.
Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu  itu.
"Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi..?".

"Oohh..., bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah S2 di Seoul ingin sekali makan tempe, asli buatan sini.

Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi.
Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu...?".

🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹

Sahabat semua..., dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan"
Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita.
Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan...

Padahal Allah paling tau apa yang paling cocok untuk kita.

Bahwa semua rencananya adalah SEMPURNA..

Tempe setengah jadi tersebut tidak akan pernah dalam waktu singkat menjadi tempe, karena itu melawan takdir qauniyah yang telah Allah tetapkan.

Takdir qauniyah ini atau takdir kausalitas (sunnatullah) itu akan berjalan seperti biasanya... Itulah hukumnya.

Seperti air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah..

Namun kita berharap dengan takdir ghaibiyah yang Allah tetapkan, sepet pertolongan yang Allah berikan dari arah yang tdk pernah kita duga..

Contoh lain takdir ghaibiyah ini adalah kita tidak tau dimana dan kapan kita meninggal..., karena itu rahasia-Nya.

Namun, Dia telah menetapkan takdir syar'iat bagi manusia bahwa
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal kebaikan diberikan tempat kembali yang terbaik.

Allah swt  mengingatkan di dalam Al Quran bahwa boleh jadi kita sangat menginginkan sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kita...

"Dan boleh jadi kita sangat tidak menyukai sesuatu, padahal itu banyak menyimpan kebaikan bagi
kita.. " (Al Baqarah 216).

Nah, disini Allah ingin menegaskan Allah-lah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik.

Ketahuilah..,
Tugas kita sebagai manusia sederhana saja yaitu....
berusaha semaksimal mungkin,
seikhlas mungkin...
dan hasil akhir adalah ketentuan اللّهُ تعالى
Sang Penguasa Alam Semesta ini....

Al Qur'an menyatakan bahwa :
"Sesungguhnya Allah tidak akan membebani manusia melebihi kemampuannya dan bagi orang yang bertaqwa.."

Allah berikan priviledge
yaitu pasti ...
Allah berikan rizki dari "arah yang tidak pernah dia duga...."
(AlBaqarah 286, Aththolaq 2-3)

Semoga bermanfaat..
Selamat beribadah di bulan penuh berkah...

Thursday, June 18, 2015

KISAH SEORANG IBU YANG SELALU MENJAGA WUDHU KETIKA MENGANDUNG DAN MENYUSUI ANAKNYA

Ibu yang mengandung kita selama sembilan bulan lamanya. Membawa ke sana ke mari. Walau lelah. Ia tidak pernah putus asa. Menaruhkan nyawanya untuk kita. Setelah kita lahir ke dunia. Masih saja, ibu yang merawat kita hingga sekarang ini.

Di sini ada kisah kehebatan seorang ibu, yang selalu menjaga wudhu ketika mengandung dan menyusui buah hatinya.

Seseorang berkata: Aku berkenalan dengan seorang pemuda yang sangat baik, berwajah simpatik, berotak cemerlang, memiliki semangat dan tekad yang sangat kuat. Kedua matanya yang menerawang mengisyaratkan kesehatan rohani serta ketinggian pemikirannya. Tubuhnya yang tinggi, kerendahan hatinya, kesopanan, keimanan dan akhlaknya mencerminkan seorang kekasih Allah.

Dua tahun lalu ia menyelesaikan SMU nya dan kini mulai kuliah. Semasa di SMU dulu, dia termasuk siswa yang pandai dan selalu mendapat perhatian para guru.

Di Universitas pun, sejak minggu pertama, sudah tampak kebersihan rohani, budi pekerti, kejujuran, persahabatan serta usahanya untuk selalu konsisten pada semua janjinya.
Pendek kata, dia seorang teman mengasyikkan yang kuperoleh. Aku sangat ingin berkenalan dengan keluarganya, khususnya ibunya.

Pada suatu kesempatan aku berjumpa dengan ibunya, dan aku meminta kepada Sang Ibu untuk bercerita sedikit seputar anaknya serta metodologi pendidikan yang diterapkannya untuk sang buah hati.

Ibunya berkata, “Ketika masih mengandung saya tidak pernah makan tanpa berwudhu terlebih dahulu. Dan pada saat lahir, saya menyusuinya selama dua tahun penuh dan selama itu pula saya tidak pernah memberinya asi dalam keadaan tanpa berwudhu. Ketika menyusui saya membaca ayat-ayat suci al-qur’an dengan suara pelan, saya selalu persembahkan jiwa saya untuknya.

Ayahnya, suami sang ibu menambahkan cerita tersebut, ”Saya masih ingat, pernah ketika suatu malam yang di musim yang sangat dingin sekitar jam 1 malam, ketika Muhammad anak kami masih berumur satu tahun dia bangun sambil menangis. Istri saya bangun dan merasa kalau anaknya kelaparan. Malam itu udara menusuk dan bersalju. Sebelum Istri saya menyusui dia bergegas keluar rumah untuk berwudhu dengan air yang sangat dingin, setelah berwudhu barulah istri saya memeluk Muhammad dan menyusuinya.

Ayahnya menambahkan, “Kalau sekarang Anda melihat sifat-sifat mulia dalam diri anak saya, itu tiada lain karena keikhlasan, kerja keras dan pengorbanan sang ibu.

Saya bertanya kepada sang ibu, “Bagaimana anda bisa berbuat demikian kepada anak anda?” Sang ibu menjawab,”Semua yang kita miliki bersumber dari ajaran pendidikan Islam yang mulia serta perjalanan Sayyidah Fathimah Az-Zahra (Salam Atasnya) putri Rasulullah, bukankan Sayyidah Fatimah sosok wanita agung itu, seringkali berkomunikasi dengan anak-anaknya pada masa mengandung dan sama sekali tidak makan serta menyusui anak-anaknya tanpa berwudhu?

Wednesday, June 17, 2015

nak ...

Bagi kami Orang tua, kalian ibarat harta yang paling berharga. Kami akan berusaha memberikan cinta, perhatian, dan kasih sayang yang tak kurang-kurang. Kamipun akan berusaha mendidik kalian agar tumbuh jadi pribadi yang baik budi. Namun, untuk menjadi orang tua adalah perkara yang tak mudah nak ...

Mungkin, saat ini kamu belum punya pasangan, tak sedang menjalani hubungan yang serius, atau bahkan belum menikah dan punya anak. Tapi, percayalah bahwa mempersiapkan diri sejak dini adalah keputusan yang tepat. Kelak saat anak-anakmu benar-benar ada dipangkuan atau tidur dalam pelukan, kalimat-kalimat inilah yang layak mereka dengar…

1. “Anakku, hidup adalah perkara pilihan. Jalan hidup mana yang akan dipilih, kamulah yang berhak menentukan.”

Jika saat masih kanak-kanak mereka hanya sibuk dengan mainan, kelak setelah dewasa mereka akan dihadapkan dengan berbagai pilihan. Mereka mungkin akan gundah saat memilih jurusan kuliah, merasakan dilema ketika berpikir mau bekerja dimana, atau galau saat menentukan pendamping hidup yang sekiranya paling setia.

Apapun itu, anak-anakmu kelak harus paham bahwa merekalah yang berhak menentukan pilihan. Orang tua selayaknya memberi saran, tapi bukan berarti boleh memaksakan. Bagaimanapun, anak-anak berhak menjalani hidup sesuai inginnya hati. Merasakan kehidupan yang memang layak dijalani karena membebasakan diri. Setiap harinya, mereka harus merasakan betapa bahagianya bangun dari tidur dengan semangat untuk menjelang hari.

2. “Percayalah Nak, tak ada yang mustahil di dunia ini. Kamu boleh punya ambisi dan memelihara banyak mimpi.”

Setiap anak berhak punya keinginan dan mimpi. Apakah ingin jadi dokter, guru, penulis, pemadam kebakaran, atau polisi? Ataukah bermimpi bisa keliling dunia, kuliah di luar negeri, atau membangun bisnis sendiri? Bisa jadi keinginan dan mimpi mereka sekadar sederhana saja. Berharap bisa jadi anak yang berguna, mampu membahagiakan dan jadi kebanggaan orang tuanya.

Anak-anak selayaknya diberi pemahaman bahwa tak ada hal yang mustahil di dunia ini. Seberapa besar pun seberapa sederhana, mimpi mereka layak untuk terus dipelihara. Karena mimpi-mimpi itulah yang akan mendidik mereka jadi pribadi yang luar biasa. Pribadi yang tak malas belajar, berusaha dan terus berjuang demi mencapai keinginannya.

3. “Jika kelak ada yang menghalangi cita-citamu atau meremehkan kemampuanmu, jangan gentar dan teruslah melangkah maju!”

Anak-anak terus bertumbuh melewati masa remaja hingga akhirnya dewasa. Di setiap masanya, mereka akan menemukan teman, sahabat, atau bahkan kekasih yang ambil bagian dalam cerita hidupnya. Kehadiran orang-orang terdekat itu pun yang sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir hingga gaya hidupnya.

Namun, meski sangat menyayangi dan mencintai orang-orang yang mampir dalam hidupnya, yakinkan anak-anakmu agar tak mudah hilang arah atau goyah dalam melangkah. Mereka tak boleh begitu saja melepaskan cita-cita demi datangnya orang baru yang sangat dicinta. Tak seharusnya pula memilih menyerah saja ketika ada yang tak percaya atau meragukan kemampuannya.

4. “Jika suatu saat nanti kamu jatuh cinta, jangan biarkan dia membuatmu buta. Kamu layak menemukan pasangan yang setia dan mencintaimu dengan sebenar-benarnya.”

Setiap orang akan mengalami momen jatuh cinta, termasuk anak-anakmu kelak. Ajarkan pada mereka bahwa jatuh cinta itu wajar dan lumrah adanya. Mereka berhak membebaskan hati dan perasaannya untuk jatuh cinta pada hal-hal yang membuat mereka bahagia. Apakah itu pekerjaan, hobi, atau tugas-tugas kuliah yang sedang mereka geluti.

Jika kelak mereka merasakan momen jatuh cinta pada lawan jenisnya, sampaikan pula bahwa cinta tak selayaknya membuat buta. Cinta itu seharusnya membuat kita lebih bahagia dan bersemangat menjalani hidup. Cinta justru tak sepantasnya membuat cahaya dalam diri kita redup. Jika cinta yang biasa bisa ditemui kapan saja, cinta yang sejati mungkin harus melewati proses yang lama untuk menemukannya.

5. “Tapi, jangan pernah membuka hati sebelum kamu bisa mencintai dirimu sendiri.”

Setiap anak terlahir sempurna ke dunia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang menyertainya. Namun, kelak saat menginjak usia remaja dia mungkin akan menganggap wajahnya kurang cantik atau dirinya tak seberapa pintar. Mungkin pula dia akan melihat teman-temannya dengan pandangan iri sambil mengutuki diri.

Anak-anak memang sepatutnya diajari tentang bagaimana mencintai dan menghargai diri sendiri. Mereka layak diberi pengertian bahwa setiap manusia diberi anugrah oleh Tuhan berupa keunikan. Ada yang wajahnya cantik tapi tak seberapa pintar atau ada yang sangat pintar tapi cenderung sulit bergaul. Apapun kondisi diri, segala kurang dan lebihnya selalu pantas untuk disyukuri.

6. “Nak, hidup memang tak selalu bisa dijalani dengan mudah, tapi kami berpesan agar kamu tak putus-putus berusaha dan pantang menyerah.”

Ceritakan pada anak-anakmu kelak bahwa hidup adalah tentang perjuangan. Hidup ibarat pendakian mencapai puncak-puncak tertinggi. Selama pendakian, akan banyak rintangan dan kesulitan yang harus dihadapi. Jika tak cukup bekerja keras dan gigih menjalani, kesuksesan pun mustahil bisa dicapai.

Sampaikan pada mereka bahwa ada kalanya hidup akan membawa mereka ke titik-titik terendah. Mendapat nilai jelek saat ulangan, tak lulus ujian, susah mencari pekerjaan, kesulitan hidup mapan; banyak hal yang mungkin akan membuat mereka kepayahan. Namun, sebaik-baik manusia adalah mereka yang mau memperjuangkan nasibnya dan tak mau begitu saja menyerah.

7. “Mengertilah Sayang, sukses dan keberhasilan itu tak selalu diukur dengan angka, materi atau uang.”

Banyak perubahan yang harus dirasakan anak-anak ketika mereka memasuki usia dewasa. Jika saat di taman kanak-kanak mereka hanya diajarkan menggambar dan melipat kertas, usia dewasa membuat mereka sibuk bergumul dengan angka. Bisakah dapat nilai 100 untuk pelajaran Matematika? Apakah bisa lulus kuliah dengan predikat cumlaude dan nilai 4 bulat? Berapa besar gaji yang bisa didapat, atau berapa banyak uang yang sudah kamu punya?

Ya, orang dewasa memang terbiasa mengukur kesuksesan dengan angka. Orang dewasa seringkali mengagungkan materi dan uang di atas segala-galanya. Tapi, jangan biarkan anak-anakmu nanti teracuni dengan pemikiran-pemikiran tersebut. Ingatkan mereka, sukses dan keberhasilan tak melulu dikaitkan dengan angka. Pencapaian adalah perkara seberapa hebat mereka mau belajar dan berusaha.

8. “Jangan pernah takut gagal atau melakukan kesalahan, karenanya kamu justru bisa belajar banyak kebaikan.”

Banyak anak-anak yang takut membuat kesalahan atau melakukan kegagalan. Akibatnya, mereka takut atau enggan menjajal pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dialami sebelumnya. Tak mau mencoba naik sepeda beroda dua lantaran takut jatuh. Enggan belajar berenang karena takut tenggelam. Padahal, tanpa kemauan untuk belajar dan mencoba, mereka tak akan punya kesempatan berkembang atau punya keahlian.

Jelaskan pada mereka bahwa jatuh saat belajar naik sepeda itu hal yang biasa. Hampir semua orang melakukan kesalahan sebelum akhirnya bisa berhasil atau berbuat salah hingga bisa melakukan sesuatu dengan benar. Pengalaman gagal dan berhasil itu sama-sama berguna. Orang-orang pintar adalah mereka yang bisa memanfaatkan keduanya.

9. “Anakku, berpetualanglah kemana pun kamu suka. Dunia ini terlalu indah jika kamu tak menjajal pergi kemana-mana.”

Anak-anakmu perlu tahu seberapa indahnya Indonesia, betapa meriahnya Asia Tenggara, atau begitu luasnya dunia. Kenalkan mereka pada berbagai tempat-tempat indah yang ada di dunia lewat peta atau bola dunia. Tantang mereka untuk berani dan punya mimpi menyambanginya. Bagaimana pun, anak-anakmu harus punya wawasan luas tentang dunia ini.

Ijinkan dia yang hendak merantau ke luar kota, berniat mendaftar beasiswa agar bisa kuliah di luar negeri, atau hendak traveling ala backpacker keliling negeri sendiri. Yakinlah bahwa petualangan akan memberikan banyak pelajaran berharga bagi mereka. Percayalah bahwa perjalanan akan mendidik mereka jadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

10. “Kelak, kamu harus pintar-pintar memilih teman. Mereka yang mau menerima segala kelebihan dan kekurangan memang layak dijadikan kawan.”

Memilih teman memang bukan perkara mudah. Ada teman yang hanya akan datang dikala senang, tak mau ikut membantu saat kita dilanda kesusahan. Ada pula teman-teman yang hanya menerima kelebihan kita, tanpa punya keikhlasan menerima segala kekurangan yang kita punya. Bukankah teman-teman yang semacam ini tak layak diakrabi?

Ingatkan anak-anakmu untuk baik-baik memilih kawan. Mereka pantas mencari teman-teman yang mau diajak senasib sepenanggungan. Teman yang mau tulus berbagi kegembiraan dan kesusahan. Teman yang tak punya sedikit pun niat untuk memanfaatkan atau semata-mata mencari keuntungan.

11. “Sayangku, hidup itu hanya sementara, nikmatilah setiap detiknya dengan bahagia.”

Setelah dewasa, banyak orang yang mengeluhkan hidupnya. Merasa tak puas dengan pekerjaan yang dilakoni, tak bahagia dengan pasangan sendiri, atau belum tercukupi secara materi. Banyak waktu yang akhirnya dihabiskan untuk meratapi dan mengeluhkan kehidupan. Tapi, bukankah setiap detik kesempatan hidup di dunia itu begitu berharga?

Jangan biarkan anak-anakmu kelak merasakan hal yang sama. Ajarkan mereka tentang bagaimana merayakan hidupnya meski dengan cara-cara yang sederhana. Kenalkan mereka pada musik, seni, atau sastra yang akan menjadikan hidup mereka lebih berwarna. Biarkan mereka menekuni hobi atau menemukan renjananya sehingga hidup yang dijalaninya akan terasa lebih bermakna.

12. “Tahukah kamu, tak ada yang membuat kami lebih bahagia selain melihatmu yang sedang tertawa?

Memilih teman memang bukan perkara mudah. Ada teman yang hanya akan datang dikala senang, tak mau ikut membantu saat kita dilanda kesusahan. Ada pula teman-teman yang hanya menerima kelebihan kita, tanpa punya keikhlasan menerima segala kekurangan yang kita punya. Bukankah teman-teman yang semacam ini tak layak diakrabi?

Ingatkan anak-anakmu untuk baik-baik memilih kawan. Mereka pantas mencari teman-teman yang mau diajak senasib sepenanggungan. Teman yang mau tulus berbagi kegembiraan dan kesusahan. Teman yang tak punya sedikit pun niat untuk memanfaatkan atau semata-mata mencari keuntungan.

Sunday, June 14, 2015

Jika Anakmu .... (Pesan untuk Orang Tua)

Pesan Dr Tareq Al Habeeb pada para orang tua,

Lebih kurang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut, jika ada kesalahan kata atau kalimat kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

1. Jika anakmu sering berbohong , itu karena kamu terlalu banyak menghukumnya.

2. Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena kamu tidak pernah mendukung/memuji dan lebih banyak menghinanya.

3. Jika anakmu jarang bicara padamu, , itu karena kamu jarang bicara padanya.

4. Jika anakmu mencuri , itu karena kamu tidak mengajarinya cara berbagi yang adil.

5. Jika anakmu menjadi penakut itu karena kamu terlalu banyak melindunginya dan menakut-nakutinya.

6. Jika anakmu tidak hormat pada orang lain itu karena kamu suka bicara keras dan kasar pada anakmu

7. Jika anakmu cepat marah, itu karena kamu tidak pernah mendengarkan dan menghargainya.

8. Jika anakmu kikir, itu karena kamu tidak suka berbagi dengannya

9. Jika anakmu suka membully itu karena kamu sering melakukan kekerasan padanya.

10. Jika anakmu tidak tegar dan lemah, itu karena kamu sering mengancam dan mencelanya

11. Jika anakmu suka iri hati, itu karena kamu berlaku tidak adil dan suka menolak eksistensinya.

12. Jika anakmu suka iseng dan menggangu, itu karena kamu jarang memeluk, mencium dan memujinya.

13. Jika anakmu tidak menuruti nasehatmu , itu karena kamu terlau banyak menuntut.

14. Jika anakmu tidak pandai bergaul, itu karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu.

Share from a friend.... and please share for a friend

Copas dari komunitas Ayah Edy