This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, June 20, 2015

Takdir Kauniyah dari Kisah Tempe Setengah Jadi

Di suatu desa hiduplah seorang ibu penjual tempe.
Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski demkian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya.
Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya...?",
Demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi dia berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe..,
dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang.
Tapiii...,
Deg! dadanya gemuruh.
Tempe yang akan di jual, ternyata belum jadi....

Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari proses peragian.

Tempe itu masih harus menunggu 1 hari lagi untuk jadi.
Tubuhnya lemas...
Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai lagi.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya.
Dia tau.., jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil.
Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa...,
"Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku.
Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.
Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku...".

Dalam hati.., dia yaqin.., Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe.
Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu.
Proses peragian memang masih berlangsung...

Dadanya bergemuruh...
Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe.
Dan...  Dia kecewa.

Tempe itu masih belum juga berubah,  belum  menyatu oleh kapas-kapas ragi putih.
Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri.

🔹 Dia yakin.., Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.

🔹 Dia yakin..., Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah.

Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi..
 "Ya Allah, aku tau tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu.
 Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe...
Karena itu ya Allah, jadikanlah...! Bantulah aku, kabulkan doaku...".

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.
Pasti telah jadi sekarang, batinnya.
Dengan berdebar, dia
intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tsb.

"Keajaiban Tuhan akan datang... pasti..!",
Yakin-nya.

Dia pun berjalan ke pasar...

Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin..., "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya.

Berkali-kalii  dia memanjatkan doa...
Berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjag itu...

"Pasti sekarang telah jadi tempe..", batinnya.
Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan.
Dan... dia terlonjak.
Tempe itu masih tak ada perubahan.

Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Air mata pun menitiki keriput pipinya.

Kenapa doaku tidak dikabulkan...?

Kenapa tempe ini tidak jadi...?
 Apakah Tuhan ingin aku menderita...?
Apa salahku...?
Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yg telah dia sediakan.
Tangannya lemas..., tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu.
Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian...

 "Tuhan telah meninggalkan aku..", batinnya.

Airmatanya kian menitik... Terbayang esok dia tak dapat berjualan...
Esok diapun tak akan dapat makan.
Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang,dan "teman-teman" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai
berkemas.

Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku.

Kesedihannya mulai memuncak.
Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini.

Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya.

Dia memalingkan wajah, seorang perempuan, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya...,
"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi...?
"Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya..?".

Penjual tempe itu bengong..
Terkesima...
Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.
"Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi.
Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi.
Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe.."

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi.
"jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe...??"

"Bagaimana Bu...? Apa ibu menjual tempe setengah jadi..?", tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi...
"Duh Gusti... bagaimana ini...?
Tolonglah ya Allah, jng jadikan tempe ya..?", ucapnya berkali-kali.

Dan dengan gemetar, dia
buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu.

Dan apa yang dia lihat, sahabat...??
Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama.
Belum jadi..!.

 "Alhamdulillah!", pekiknya,
tanpa sadar.
Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu  itu.
"Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi..?".

"Oohh..., bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah S2 di Seoul ingin sekali makan tempe, asli buatan sini.

Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi.
Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu...?".

🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹

Sahabat semua..., dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan"
Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita.
Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan...

Padahal Allah paling tau apa yang paling cocok untuk kita.

Bahwa semua rencananya adalah SEMPURNA..

Tempe setengah jadi tersebut tidak akan pernah dalam waktu singkat menjadi tempe, karena itu melawan takdir qauniyah yang telah Allah tetapkan.

Takdir qauniyah ini atau takdir kausalitas (sunnatullah) itu akan berjalan seperti biasanya... Itulah hukumnya.

Seperti air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah..

Namun kita berharap dengan takdir ghaibiyah yang Allah tetapkan, sepet pertolongan yang Allah berikan dari arah yang tdk pernah kita duga..

Contoh lain takdir ghaibiyah ini adalah kita tidak tau dimana dan kapan kita meninggal..., karena itu rahasia-Nya.

Namun, Dia telah menetapkan takdir syar'iat bagi manusia bahwa
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal kebaikan diberikan tempat kembali yang terbaik.

Allah swt  mengingatkan di dalam Al Quran bahwa boleh jadi kita sangat menginginkan sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kita...

"Dan boleh jadi kita sangat tidak menyukai sesuatu, padahal itu banyak menyimpan kebaikan bagi
kita.. " (Al Baqarah 216).

Nah, disini Allah ingin menegaskan Allah-lah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik.

Ketahuilah..,
Tugas kita sebagai manusia sederhana saja yaitu....
berusaha semaksimal mungkin,
seikhlas mungkin...
dan hasil akhir adalah ketentuan اللّهُ تعالى
Sang Penguasa Alam Semesta ini....

Al Qur'an menyatakan bahwa :
"Sesungguhnya Allah tidak akan membebani manusia melebihi kemampuannya dan bagi orang yang bertaqwa.."

Allah berikan priviledge
yaitu pasti ...
Allah berikan rizki dari "arah yang tidak pernah dia duga...."
(AlBaqarah 286, Aththolaq 2-3)

Semoga bermanfaat..
Selamat beribadah di bulan penuh berkah...

Thursday, June 18, 2015

KISAH SEORANG IBU YANG SELALU MENJAGA WUDHU KETIKA MENGANDUNG DAN MENYUSUI ANAKNYA

Ibu yang mengandung kita selama sembilan bulan lamanya. Membawa ke sana ke mari. Walau lelah. Ia tidak pernah putus asa. Menaruhkan nyawanya untuk kita. Setelah kita lahir ke dunia. Masih saja, ibu yang merawat kita hingga sekarang ini.

Di sini ada kisah kehebatan seorang ibu, yang selalu menjaga wudhu ketika mengandung dan menyusui buah hatinya.

Seseorang berkata: Aku berkenalan dengan seorang pemuda yang sangat baik, berwajah simpatik, berotak cemerlang, memiliki semangat dan tekad yang sangat kuat. Kedua matanya yang menerawang mengisyaratkan kesehatan rohani serta ketinggian pemikirannya. Tubuhnya yang tinggi, kerendahan hatinya, kesopanan, keimanan dan akhlaknya mencerminkan seorang kekasih Allah.

Dua tahun lalu ia menyelesaikan SMU nya dan kini mulai kuliah. Semasa di SMU dulu, dia termasuk siswa yang pandai dan selalu mendapat perhatian para guru.

Di Universitas pun, sejak minggu pertama, sudah tampak kebersihan rohani, budi pekerti, kejujuran, persahabatan serta usahanya untuk selalu konsisten pada semua janjinya.
Pendek kata, dia seorang teman mengasyikkan yang kuperoleh. Aku sangat ingin berkenalan dengan keluarganya, khususnya ibunya.

Pada suatu kesempatan aku berjumpa dengan ibunya, dan aku meminta kepada Sang Ibu untuk bercerita sedikit seputar anaknya serta metodologi pendidikan yang diterapkannya untuk sang buah hati.

Ibunya berkata, “Ketika masih mengandung saya tidak pernah makan tanpa berwudhu terlebih dahulu. Dan pada saat lahir, saya menyusuinya selama dua tahun penuh dan selama itu pula saya tidak pernah memberinya asi dalam keadaan tanpa berwudhu. Ketika menyusui saya membaca ayat-ayat suci al-qur’an dengan suara pelan, saya selalu persembahkan jiwa saya untuknya.

Ayahnya, suami sang ibu menambahkan cerita tersebut, ”Saya masih ingat, pernah ketika suatu malam yang di musim yang sangat dingin sekitar jam 1 malam, ketika Muhammad anak kami masih berumur satu tahun dia bangun sambil menangis. Istri saya bangun dan merasa kalau anaknya kelaparan. Malam itu udara menusuk dan bersalju. Sebelum Istri saya menyusui dia bergegas keluar rumah untuk berwudhu dengan air yang sangat dingin, setelah berwudhu barulah istri saya memeluk Muhammad dan menyusuinya.

Ayahnya menambahkan, “Kalau sekarang Anda melihat sifat-sifat mulia dalam diri anak saya, itu tiada lain karena keikhlasan, kerja keras dan pengorbanan sang ibu.

Saya bertanya kepada sang ibu, “Bagaimana anda bisa berbuat demikian kepada anak anda?” Sang ibu menjawab,”Semua yang kita miliki bersumber dari ajaran pendidikan Islam yang mulia serta perjalanan Sayyidah Fathimah Az-Zahra (Salam Atasnya) putri Rasulullah, bukankan Sayyidah Fatimah sosok wanita agung itu, seringkali berkomunikasi dengan anak-anaknya pada masa mengandung dan sama sekali tidak makan serta menyusui anak-anaknya tanpa berwudhu?

Wednesday, June 17, 2015

nak ...

Bagi kami Orang tua, kalian ibarat harta yang paling berharga. Kami akan berusaha memberikan cinta, perhatian, dan kasih sayang yang tak kurang-kurang. Kamipun akan berusaha mendidik kalian agar tumbuh jadi pribadi yang baik budi. Namun, untuk menjadi orang tua adalah perkara yang tak mudah nak ...

Mungkin, saat ini kamu belum punya pasangan, tak sedang menjalani hubungan yang serius, atau bahkan belum menikah dan punya anak. Tapi, percayalah bahwa mempersiapkan diri sejak dini adalah keputusan yang tepat. Kelak saat anak-anakmu benar-benar ada dipangkuan atau tidur dalam pelukan, kalimat-kalimat inilah yang layak mereka dengar…

1. “Anakku, hidup adalah perkara pilihan. Jalan hidup mana yang akan dipilih, kamulah yang berhak menentukan.”

Jika saat masih kanak-kanak mereka hanya sibuk dengan mainan, kelak setelah dewasa mereka akan dihadapkan dengan berbagai pilihan. Mereka mungkin akan gundah saat memilih jurusan kuliah, merasakan dilema ketika berpikir mau bekerja dimana, atau galau saat menentukan pendamping hidup yang sekiranya paling setia.

Apapun itu, anak-anakmu kelak harus paham bahwa merekalah yang berhak menentukan pilihan. Orang tua selayaknya memberi saran, tapi bukan berarti boleh memaksakan. Bagaimanapun, anak-anak berhak menjalani hidup sesuai inginnya hati. Merasakan kehidupan yang memang layak dijalani karena membebasakan diri. Setiap harinya, mereka harus merasakan betapa bahagianya bangun dari tidur dengan semangat untuk menjelang hari.

2. “Percayalah Nak, tak ada yang mustahil di dunia ini. Kamu boleh punya ambisi dan memelihara banyak mimpi.”

Setiap anak berhak punya keinginan dan mimpi. Apakah ingin jadi dokter, guru, penulis, pemadam kebakaran, atau polisi? Ataukah bermimpi bisa keliling dunia, kuliah di luar negeri, atau membangun bisnis sendiri? Bisa jadi keinginan dan mimpi mereka sekadar sederhana saja. Berharap bisa jadi anak yang berguna, mampu membahagiakan dan jadi kebanggaan orang tuanya.

Anak-anak selayaknya diberi pemahaman bahwa tak ada hal yang mustahil di dunia ini. Seberapa besar pun seberapa sederhana, mimpi mereka layak untuk terus dipelihara. Karena mimpi-mimpi itulah yang akan mendidik mereka jadi pribadi yang luar biasa. Pribadi yang tak malas belajar, berusaha dan terus berjuang demi mencapai keinginannya.

3. “Jika kelak ada yang menghalangi cita-citamu atau meremehkan kemampuanmu, jangan gentar dan teruslah melangkah maju!”

Anak-anak terus bertumbuh melewati masa remaja hingga akhirnya dewasa. Di setiap masanya, mereka akan menemukan teman, sahabat, atau bahkan kekasih yang ambil bagian dalam cerita hidupnya. Kehadiran orang-orang terdekat itu pun yang sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir hingga gaya hidupnya.

Namun, meski sangat menyayangi dan mencintai orang-orang yang mampir dalam hidupnya, yakinkan anak-anakmu agar tak mudah hilang arah atau goyah dalam melangkah. Mereka tak boleh begitu saja melepaskan cita-cita demi datangnya orang baru yang sangat dicinta. Tak seharusnya pula memilih menyerah saja ketika ada yang tak percaya atau meragukan kemampuannya.

4. “Jika suatu saat nanti kamu jatuh cinta, jangan biarkan dia membuatmu buta. Kamu layak menemukan pasangan yang setia dan mencintaimu dengan sebenar-benarnya.”

Setiap orang akan mengalami momen jatuh cinta, termasuk anak-anakmu kelak. Ajarkan pada mereka bahwa jatuh cinta itu wajar dan lumrah adanya. Mereka berhak membebaskan hati dan perasaannya untuk jatuh cinta pada hal-hal yang membuat mereka bahagia. Apakah itu pekerjaan, hobi, atau tugas-tugas kuliah yang sedang mereka geluti.

Jika kelak mereka merasakan momen jatuh cinta pada lawan jenisnya, sampaikan pula bahwa cinta tak selayaknya membuat buta. Cinta itu seharusnya membuat kita lebih bahagia dan bersemangat menjalani hidup. Cinta justru tak sepantasnya membuat cahaya dalam diri kita redup. Jika cinta yang biasa bisa ditemui kapan saja, cinta yang sejati mungkin harus melewati proses yang lama untuk menemukannya.

5. “Tapi, jangan pernah membuka hati sebelum kamu bisa mencintai dirimu sendiri.”

Setiap anak terlahir sempurna ke dunia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang menyertainya. Namun, kelak saat menginjak usia remaja dia mungkin akan menganggap wajahnya kurang cantik atau dirinya tak seberapa pintar. Mungkin pula dia akan melihat teman-temannya dengan pandangan iri sambil mengutuki diri.

Anak-anak memang sepatutnya diajari tentang bagaimana mencintai dan menghargai diri sendiri. Mereka layak diberi pengertian bahwa setiap manusia diberi anugrah oleh Tuhan berupa keunikan. Ada yang wajahnya cantik tapi tak seberapa pintar atau ada yang sangat pintar tapi cenderung sulit bergaul. Apapun kondisi diri, segala kurang dan lebihnya selalu pantas untuk disyukuri.

6. “Nak, hidup memang tak selalu bisa dijalani dengan mudah, tapi kami berpesan agar kamu tak putus-putus berusaha dan pantang menyerah.”

Ceritakan pada anak-anakmu kelak bahwa hidup adalah tentang perjuangan. Hidup ibarat pendakian mencapai puncak-puncak tertinggi. Selama pendakian, akan banyak rintangan dan kesulitan yang harus dihadapi. Jika tak cukup bekerja keras dan gigih menjalani, kesuksesan pun mustahil bisa dicapai.

Sampaikan pada mereka bahwa ada kalanya hidup akan membawa mereka ke titik-titik terendah. Mendapat nilai jelek saat ulangan, tak lulus ujian, susah mencari pekerjaan, kesulitan hidup mapan; banyak hal yang mungkin akan membuat mereka kepayahan. Namun, sebaik-baik manusia adalah mereka yang mau memperjuangkan nasibnya dan tak mau begitu saja menyerah.

7. “Mengertilah Sayang, sukses dan keberhasilan itu tak selalu diukur dengan angka, materi atau uang.”

Banyak perubahan yang harus dirasakan anak-anak ketika mereka memasuki usia dewasa. Jika saat di taman kanak-kanak mereka hanya diajarkan menggambar dan melipat kertas, usia dewasa membuat mereka sibuk bergumul dengan angka. Bisakah dapat nilai 100 untuk pelajaran Matematika? Apakah bisa lulus kuliah dengan predikat cumlaude dan nilai 4 bulat? Berapa besar gaji yang bisa didapat, atau berapa banyak uang yang sudah kamu punya?

Ya, orang dewasa memang terbiasa mengukur kesuksesan dengan angka. Orang dewasa seringkali mengagungkan materi dan uang di atas segala-galanya. Tapi, jangan biarkan anak-anakmu nanti teracuni dengan pemikiran-pemikiran tersebut. Ingatkan mereka, sukses dan keberhasilan tak melulu dikaitkan dengan angka. Pencapaian adalah perkara seberapa hebat mereka mau belajar dan berusaha.

8. “Jangan pernah takut gagal atau melakukan kesalahan, karenanya kamu justru bisa belajar banyak kebaikan.”

Banyak anak-anak yang takut membuat kesalahan atau melakukan kegagalan. Akibatnya, mereka takut atau enggan menjajal pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dialami sebelumnya. Tak mau mencoba naik sepeda beroda dua lantaran takut jatuh. Enggan belajar berenang karena takut tenggelam. Padahal, tanpa kemauan untuk belajar dan mencoba, mereka tak akan punya kesempatan berkembang atau punya keahlian.

Jelaskan pada mereka bahwa jatuh saat belajar naik sepeda itu hal yang biasa. Hampir semua orang melakukan kesalahan sebelum akhirnya bisa berhasil atau berbuat salah hingga bisa melakukan sesuatu dengan benar. Pengalaman gagal dan berhasil itu sama-sama berguna. Orang-orang pintar adalah mereka yang bisa memanfaatkan keduanya.

9. “Anakku, berpetualanglah kemana pun kamu suka. Dunia ini terlalu indah jika kamu tak menjajal pergi kemana-mana.”

Anak-anakmu perlu tahu seberapa indahnya Indonesia, betapa meriahnya Asia Tenggara, atau begitu luasnya dunia. Kenalkan mereka pada berbagai tempat-tempat indah yang ada di dunia lewat peta atau bola dunia. Tantang mereka untuk berani dan punya mimpi menyambanginya. Bagaimana pun, anak-anakmu harus punya wawasan luas tentang dunia ini.

Ijinkan dia yang hendak merantau ke luar kota, berniat mendaftar beasiswa agar bisa kuliah di luar negeri, atau hendak traveling ala backpacker keliling negeri sendiri. Yakinlah bahwa petualangan akan memberikan banyak pelajaran berharga bagi mereka. Percayalah bahwa perjalanan akan mendidik mereka jadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

10. “Kelak, kamu harus pintar-pintar memilih teman. Mereka yang mau menerima segala kelebihan dan kekurangan memang layak dijadikan kawan.”

Memilih teman memang bukan perkara mudah. Ada teman yang hanya akan datang dikala senang, tak mau ikut membantu saat kita dilanda kesusahan. Ada pula teman-teman yang hanya menerima kelebihan kita, tanpa punya keikhlasan menerima segala kekurangan yang kita punya. Bukankah teman-teman yang semacam ini tak layak diakrabi?

Ingatkan anak-anakmu untuk baik-baik memilih kawan. Mereka pantas mencari teman-teman yang mau diajak senasib sepenanggungan. Teman yang mau tulus berbagi kegembiraan dan kesusahan. Teman yang tak punya sedikit pun niat untuk memanfaatkan atau semata-mata mencari keuntungan.

11. “Sayangku, hidup itu hanya sementara, nikmatilah setiap detiknya dengan bahagia.”

Setelah dewasa, banyak orang yang mengeluhkan hidupnya. Merasa tak puas dengan pekerjaan yang dilakoni, tak bahagia dengan pasangan sendiri, atau belum tercukupi secara materi. Banyak waktu yang akhirnya dihabiskan untuk meratapi dan mengeluhkan kehidupan. Tapi, bukankah setiap detik kesempatan hidup di dunia itu begitu berharga?

Jangan biarkan anak-anakmu kelak merasakan hal yang sama. Ajarkan mereka tentang bagaimana merayakan hidupnya meski dengan cara-cara yang sederhana. Kenalkan mereka pada musik, seni, atau sastra yang akan menjadikan hidup mereka lebih berwarna. Biarkan mereka menekuni hobi atau menemukan renjananya sehingga hidup yang dijalaninya akan terasa lebih bermakna.

12. “Tahukah kamu, tak ada yang membuat kami lebih bahagia selain melihatmu yang sedang tertawa?

Memilih teman memang bukan perkara mudah. Ada teman yang hanya akan datang dikala senang, tak mau ikut membantu saat kita dilanda kesusahan. Ada pula teman-teman yang hanya menerima kelebihan kita, tanpa punya keikhlasan menerima segala kekurangan yang kita punya. Bukankah teman-teman yang semacam ini tak layak diakrabi?

Ingatkan anak-anakmu untuk baik-baik memilih kawan. Mereka pantas mencari teman-teman yang mau diajak senasib sepenanggungan. Teman yang mau tulus berbagi kegembiraan dan kesusahan. Teman yang tak punya sedikit pun niat untuk memanfaatkan atau semata-mata mencari keuntungan.

Sunday, June 14, 2015

Jika Anakmu .... (Pesan untuk Orang Tua)

Pesan Dr Tareq Al Habeeb pada para orang tua,

Lebih kurang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut, jika ada kesalahan kata atau kalimat kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

1. Jika anakmu sering berbohong , itu karena kamu terlalu banyak menghukumnya.

2. Jika anakmu tidak percaya diri, itu karena kamu tidak pernah mendukung/memuji dan lebih banyak menghinanya.

3. Jika anakmu jarang bicara padamu, , itu karena kamu jarang bicara padanya.

4. Jika anakmu mencuri , itu karena kamu tidak mengajarinya cara berbagi yang adil.

5. Jika anakmu menjadi penakut itu karena kamu terlalu banyak melindunginya dan menakut-nakutinya.

6. Jika anakmu tidak hormat pada orang lain itu karena kamu suka bicara keras dan kasar pada anakmu

7. Jika anakmu cepat marah, itu karena kamu tidak pernah mendengarkan dan menghargainya.

8. Jika anakmu kikir, itu karena kamu tidak suka berbagi dengannya

9. Jika anakmu suka membully itu karena kamu sering melakukan kekerasan padanya.

10. Jika anakmu tidak tegar dan lemah, itu karena kamu sering mengancam dan mencelanya

11. Jika anakmu suka iri hati, itu karena kamu berlaku tidak adil dan suka menolak eksistensinya.

12. Jika anakmu suka iseng dan menggangu, itu karena kamu jarang memeluk, mencium dan memujinya.

13. Jika anakmu tidak menuruti nasehatmu , itu karena kamu terlau banyak menuntut.

14. Jika anakmu tidak pandai bergaul, itu karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu.

Share from a friend.... and please share for a friend

Copas dari komunitas Ayah Edy

Keypoints for a Self Reminder

Got these keypoints for a self reminder.
1. Berfikir untuk menjadi lebih baik, think improvement.
2. Tekun. Berusaha dan doa dengan sungguh-sungguh. Jauhi mengeluh.
3. Menolong orang, dimanapun juga, tanpa pamrih.
4. Integritas. Standar etik yang tinggi, selalu jujur. "Do the right things even nobody is watching.".
5. Keep learning. Jangan pernah merasa cukup akan Ilmu Pengetahuan. Terus belajar.

Sumber : Pak Ucok.

Monday, June 8, 2015

anak-anakku

KUTIPAN Alm KH E.Z. MUTTAQIEN,
Rektor Unisba yang pertama.
(InsyaAllah baik untuk anak-anak kita maupun untuk kita sendiri )

"ANAK-ANAKKU " ...
Ada kehawatiran besar setiap orang tua !!! disaat tua,  disaat daya melemah,  disaat anak-anak semakin sibuk.?

KESENJANGAN.
Diawali dari merenggangnya komunikasi...,  terjadinya perbedaan alam pikir yg menjauh...,  Dan ... sulitnya saling memahami,  yang mungkin sekarag belum terbayang oleh kalian semua...??  tapi itu akan terjadi...!!!

KELAK ... pada saatnya kami hanya bisa berdoa dan berlinang air mata.
Mengiringi semua kekhawatiran yang menyelimuti hati kami.
Yang kami khawatirkan adalah keselamatan kalian, juga syakaratul maut kami.

"Akan adakah anak-anak tercinta menggumamkan Kalimat TALKIN mengiringi perjalanan kami pulang keharibaanNya saat syakaratul maut" ??

SAAT INI kami sangat ingin
komunikasi kita berjalan mesra..., ramah.., penuh .. penuh rindu....
Kami berharap komunikasi kita membuat kita saling faham.
Kita akan saling tengok dan berkunjung tidak hanya saat Lebaran saja.

MEMANG kebersamaan kita hanya sebentar.  Hanya 20 tahunan,
Sisanya kalian akan bersama pasangan kalian sampai akhir hayat kalian.
Rasanya sangat sebentar, belum cukup kita berbagi rasa diwaktu 20 tahunan itu.

Tapi mudah-mudahan komunikasi yang kita bangun sekarang ini bisa memperpanjang kebersamaan rohani kita dan mengecilkan rasa khawatir yang selalu ada di hati kami.

ANAKKU...
Jaga Sholat kalian,
Jaga Shodaqoh kalian,
Selalu Berbuat Baik,
Jangan pernah letih untuk mendekatkan diri kepada ALLAH.
Berbuatlah yang bisa membuat Orang Tua kalian berbahagia di Alam Barzah dan Akhirat kelak...!!!
Kami TITIPKAN masa depan Akhirat kami kepada Akhlaq Mulia kalian".

Semoga bermanfaat..

Tuesday, June 2, 2015

GAME THEORY.... A Leadership Moment.

... in a crucial situation, when all parties involve are willing to share, cooperate n collaborate addressing common challenges, the resolution outcome by far be better than individual team objectives.

-  Game theory was introduced in 1960 by John NASH Princeton Unive rsity Math Professor who discovered unique complex math formula to predict the outcome of decision made in any circumstance from dating, shopping and working. In 1994, John NASH received Nobel prize in economic due lots of benefits gained by people and government who adopt n utilize game theory. Some of famous great conflict resolutions link with game theory were Cuba Crisis (Kennedy-Krushev) and Star War (Reagan- Andropov). These two events could potentially become major catastrophes to the world and humanity.

-   Game theory through a more complex math modeling enable us to proof in any crucial circumstance when all parties involve are willing to SHARE, COOPERATE n COLLABORATE. The outcome of decision would potentially by far be better than an individual or segmented objective.

-  Game theory has been successfully adopted n widely implemented in the complex areas such as money market, corp strategy, labor union negotiation till a two-nation and/or regional conflict.

-   Game theory supersedes earlier zero-sum theory which was introduced by Math Guru John VON NEUMANN. Base on zero-sum theory states in a ecosystem, when there is one loose there must be a winner... Always a Win-Loose.

-   Game theory contrast with Adam Smith's classical theory which was introduced back in 18th centuries... Poverty would be better when an individual chasing her or his own interest because natural equilibrium will be achieved from all egoistic individual.

Key messages... Always think to share, cooperate n collaborate mind set when resolving a complex multi dimension challenges... means willing to share n give more rather than conquer or defeat.

The outcome will by far be better than individual objective. always prevent loos-win outcome.

Summarized from Koran Tempo, Saturday May 30 2015.

Al Quran sudah menerangkan Game Theori secara RUHIYAH 14 abad yang lalu... bukan dengan formula matematika yang rumit.

Dalam Al Quran... Surat Al Anam ayat 47. Allah melarang Sengketa, akan berakhir dengan kegagalan dan akhirnya kejayaan diabaikan.

Jika ALLAH tak membendung... SUNNAHTULLAH... Serangkaian perilaku manusia yg melanggar Akan berbenturan semuanya serta berakhir dengan kerusakan dan kebinasaan.

QS 6 Ayat 47
Katakanlah (Muhammad), "Terangkanlah kepadaku jika siksaan Allah sampai kepadamu secara tiba tiba atau terang terangan, maka adakah yang dibunasakan (Allah) selain orang orang yang zalim?"

ISLAM mengajarkan berbagi, bekerjasama dan berkolaborasi dalam rambu rambu yang sudah ditetapkan dalam Al Quran dan hadist.

Bukan melalui tindakan menang sendiri, agresi dan mengendalikan atau menguasai.

Wallahualambisawab...

May 31 2015 Pak BAF


Copas WA : from Pak Agus