This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, December 6, 2022

JANGAN MEREMEHKAN ATAU MENGHINA

Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah.


Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Mereka menjawab, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Aku berkata, "'Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali)." Beliau lalu berkata, "Janganlah engkau mengucapkan 'alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu 'alaik (semoga keselamatan bagimu.”


Abu Jurayy bertanya, "Apakah engkau adalah utusan Allah?" Beliau menjawab, "Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.”


Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Berilah wasiat kepadaku.”


Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pun memberi wasiat,


لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا


“Janganlah engkau menghina seorang pun." Abu Jurayy berkata, "Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,


وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ


“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.


Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.


Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya." (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722).


Di antara wasiat Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.


Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta'ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik." (QS. Al Hujurat: 11)


Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam,


الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ


“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.”


WaLLAAHUa'lam

Monday, December 5, 2022

SUAMI DAN KERIDHAANNYA

(K.H. Maimoen Zubair) dhawuh ...


Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya....


Ibu.: Mbah Mun, saya sudah ga kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...

Kyai. : lho, kenapa bu?


Ibu. : Ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin untuk anak-anak. Nanti gimana anak-anak saya kalau ayahnya modelan kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek-capek, eeh dia santai aja di rumah.

Kyai.: Oooh gitu ya?, cuma itu aja? 


Ibu.: Sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.


Kyai.: Oooooh... iya... mau tahu pandangan saya ga bu?


Ibu.: Boleh Mbah Mun.


Kyai.: Gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya tidak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudah ga muat banyak, tidak ada gantungan pakaiannya, tidak ada lacinya, tidak bisa dikunci, malah boros listrik...

Nah... itulah kalau kita pakai produk yang tidak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya tidak akan puas.


Ibu.: Mmm... trus apa hubungannya sama suami saya?


Kyai.: Ya... ibu berharap banget suami ibu jalankan fungsi yang sekunder, bahkan tersier barangkali. Tapi fungsi primernya tidak dipakai.


Ibu.: Saya ga berharap lebih koq Mbah Mun. Saya cuma pengen dia nafkahi keluarga dengan baik. Saya cuma pengen dia jadi pemimpin yang baik.


Kyai.: Iya... itu kan cuma fungsi sampingan dari suami. Yo Sayang kalau suami cuma diharapkan jadi begitu aja to. Fungsi primernya yang paling utama malah tidak ibu harapkan dan kejar.


Ibu.: Mmmmm... emang apa fungsi primernya seorang suami?


Kyai.: Fungsi primer suami ibu itu adalah untuk jadi tameng bagi dosa-dosa ibu di neraka.

Saat ibu dapat ridho dari suami, maka... semua dosa-doaa ibu langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami ibu. 

Jadi, seorang suami duduk diem aja, itu sangat manfaat untuk ibu, tinggal ibu aja gunakan fungsinya dengan maksimal. Lakukan apapun yang terbaik yang ibu bisa lakukan untuk dapatkan ridho suami. 

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan “Ayyumam raatin maatat wa zaujuha ‘anha raadhin dakhalatil jannah”


Yang artinya “Seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga”


Selebihnya, itu cuma fungsi-fungsi sekunder dari suami. Kejar dulu yang utama ini.

Suami tidak kerja ya tidak apa-apa... yang penting sudah jadi suami ibu. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng neraka saja untuk ibu.

Kalau cerai, nanti ibu langsung berhadapan dengan api neraka. Dosa-dosa ibu tidak ada yang menghapusnya, kecuali amalan ibu sangat spesial dan sudah tidak ada dosa sama sekali.

Ibu tinggal cari ridhonya suami. Kalau memang ibu yang cari nafkah ya tidak apa-apa. Semua harta yang ibu berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah yang sangat mulia. Jauh lebih mulia daripada sedekah ke anak yatim.


Ibu.: koq bisa lebih mulia dari anak yatim?


kyai.: iya karena anak yatim ini bukan bagian dari hidup ibu. Memberikannya adalah sedekah yang hukumnya sunnah. Sementara suami, sudah terikat dengan akad nikah, sudah menjadi bagian dari ibu. 

Silahkan dibagi sedekah untuk orang lain dengan sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yang lebih utama.


Ibu.: Tapi... kalau suami zalim bagaimana? Bahkan sampai KDRT ke keluarga?


Kyai.: Ya tidak apa-apa juga... tetap pertahankan. Karena semua perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung akibat KDRT yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega menyakiti keluarganya.

Sementara... Ibu fokus aja terus cari ridhanya suami.

Pernah dengar? Istrinya Fir’aun masuk syurga? Apa kurangnya coba Fir’aun melakukan KDRT? Bukan hanya ke sang istri, Fir’aun bahkan tega membunuh bayi-bayi.

Ke istrinya Asiyah, Fir’aun menyiksanya dan bahkan membunuhnya. Doa terakhir Asiyah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.

Dia tidak meminta Fir’aun di adzab. Dia hanya meminta imbalan atas kesabarannya “ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim” (66:11)


Ibu.: Ya Allah... Mbah Mun ... terimakasih atas diskusinya. Lalu apa yang harus saya lakukan?


Kyai.: Ibu mau ikuti saran dari saya?


Ibu.: Apa itu Mbah Mun..?


Kyai.: Lakukan ini selama 7 hari saja... setiap malam, Tanyakan ke suami, “Abang atau mas, berapa persen ridhonya abang sama aku hari ini?”


Kalau dia jawab 95%... jangan tidur. Lakukan apapun untuk membuatnya menjawab sampai 100%. Mungkin dipijitin, mungkin dibuatkan makanan, teh, hidangkan buah, apapun... sampai dia mau jawab 100%. Baru setelah dia jawab “iya, aku ridho sama kamu 100%” nah silahkan tidur....


Lakukan selama 7 hari dan rasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang akan ibu dapatkan.


Ibu.: Baik Mbah Mun


Kyai.: Semoga Allah memuliakan ibu dan suami ibu.


Ibu.: Aaaamiin ya Rabb... terimakasih Mbah Mun...


*****


SELANG 5 HARI BERLALU, IBU ITU DATANG KEMBALI MENGHADAP KYAI


Ibu.: Mbah Mun.... ya Allah... terimakasih banyak... saya ga tahu mau ngomong apa sama Mbah Mun... terimakasih sudah merubah hidup saya... hanya Allah yang bisa memuliakan Mbah Mun dan keluarga...


Kyai.: Alhamdulillah... ada kabar apa? Bagaimana?, saran saya, apakah sudah dijalankan?


Iby.: Iya Mbah Mun... dan saya rasakan saya lebih bahagia sekarang. Ini suami juga sudah mulai inisiatif cari kerjaan... walaupun belum dapat, saya sudah cukup bahagia Mbah Mun, dia mau bantuin saya nganter ke mana2.... ya Allah... enak banget Mbah Mun...


Kyai.: Alhamdulillah...


Ibu.: Saya mau terus lakukan saran Mbah Mun, ga cuma 7 hari..., tapi mau saya lakukan selama-lamanya boleh Mbah Mun...?


Kyai.: ya monggo, boleh banget... lakukan sampai salah satu dari ibu atau suami, dijemput malaikat dengan Husnul Khotimah...


Ibu.: Huhuhu... makasiiiiih Mbah Mun...


Kyai.: Sama2


Catatan:

KH. Maimun Zubair

(yg sering dipanggil Mbah Mun)

Ulama besar dan Tokoh NU  dari Jawa Tengah.

JANGAN MUDAH MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI SEMATA

 Bismillah... 

Ada sepasang suami isteri ter-gesa² berlari menuju ke Helikopter dipuncak gedung Hotel utk menyelamatkan diri, pada saat terjadi kebakaran.


Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat utk satu orang yg tersisa.

Dgn segera sang suami melompat mendahului istrinya utk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum Helikopter menjauh .


Kejadian Berikutnya...

Api itu semakin membesar dan menghanguskan seluruhnya (termasuk sang istri). 


Dosen yg menceritakan kisah ini bertanya pd mahasiswa²nya, menurut kalian, apa yg sang istri itu teriakkan?...

Sebagian besar mahasiswa - mahasiswi itu menjawab : 

- Kamu jahat

- Aku benci kamu

- Kurang ajar

- Kamu egois

- Gak tanggung jawab

- Gak tau malu kamu dsb...


Tapi ada seorang mahasiswi yg hanya diam saja, dan Dosen itu meminta mahasiswi yg diam itu menjawab.

Kata si mahasiswi : " Saya yakin si istri pasti berteriak...Tolong jaga anak kita baik²".


Dosen itu terkejut dan bertanya, " Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?".

Mahasiswi itu menjawab, " Belum, tapi itu yg dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis".


Dosen itu menatap seluruh kelas dan berkata :

" Jawaban ini benar ".


Hotel itu kemudian benar² terbakar habis,  dan...

sang suami harus kembali ke kota kecil nya dgn air mata yg terus menetes harus menjemput anak2 mereka yg masih TK dan Balita dan mengasuh anak2 mereka sendirian, dan kisah tragedi tersebut di simpan rapat2...tanpa pernah dibahas lagi.


Ber-tahun² kemudian, anak anak itu sdh menjadi dewasa... Ada yg menjadi pengusaha... Ada yg menjadi Dokter...dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah.


Pada suatu hari ketika anak bungsu nya bersih bersih kamar sang Ayah...anak itu menemukan buku harian Ayahnya.


Dia menemukan kenyataan bahwa saat orang tuanya ke Hotel itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.


Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu²nya kesempatan utk bertahan hidup.

Dan dia menulis di buku harian itu,

Betapa aku berharap utk sang istri yg naik ke Helicopter itu...

Isteriku sayang, tapi demi anak2 kita, terpaksa dgn hati menangis membiarkan kamu terbakar sendirian.


Si anak bungsu kemudian menceritakan  kpd kedua kakak nya...dan mereka... Bertiga segera menyusul sang Ayah di kampus...mereka sujud mencium kaki sang Ayah bergantian...(mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua...sekalipun dgn beban mental yg demikian berat).


Cerita itu selesai,...

dan seluruh kelas pun terdiam. 


Dosen itu kemudian berkata :


Siapakah sang Ayah ?...


Sang Ayah Itu saat ini lah yg ada di hadapan kalian.


Mahasiswa dan mahasiswi nya segera berlarian memeluk sang Dosen

              

Mereka sekarang mengerti hikmah dari cerita nyata tsb, 


Bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tdk sesederhana yg kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yg kadang sulit dimengerti.


Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa².


Mereka yg sering membayar utk orang lain bukan berarti kaya.

*Tapi karena lebih menghargai hubungan dr pd uang.


Mereka yg bekerja tanpa ada yg menyuruh bukan karena bodoh.

*Tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.


Mereka yg minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah.

Tapi karena lebih menghargai orang lain.


Mereka yg mengulurkan tangan utk menolongmu bukan karena merasa berhutang. *Tapi karena menganggap kita adalah sahabat.


Mereka yg sering mengontakmu, dan mengajakmu reuni atau silahturahmi bukan karena tdk punya kesibukan.

*Tapi karena kamu ada di dalam hatinya.


JANGAN MUDAH MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI SEMATA.

Sunday, December 4, 2022

JANGAN HASAD

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


«لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ».


“Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.'" (HR. Muslim, no. 2564)


SIFAT MANUSIA SAAT HASAD

Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan.


Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu:


Pertama: Ada yang berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan. Inilah hasad yang tercela.


Kedua: Ada yang hasad pada orang lain. Namun, ia tidak menjalankan konsekuensi dari hasad tersebut di mana ia tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa.


Ketiga: Ada yang hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang. Bahkan ia berusaha agar memperoleh kemuliaan semisal. Ia berharap bisa sama dengan yang punya nikmat tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama.


Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun.


يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ


“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun." (QS. Al-Qasas: 79)


Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik.  Inilah yang disebut ghib-thah.


Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,


لا حَسَدَ إلَّا على اثنتَينِ: رجُلٌ آتاهُ اللهُ مالًا، فهو يُنْفِقُ مِنهُ آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ، ورجُلٌ آتاهُ اللهُ القُرآنَ، فهو يَقومُ به آناءَ اللَّيلِ وآناءَ النَّهارِ.


“Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga ada orang yang dianugerahi Al-Qur'an, lantas ia berdiri dengan membacanya malam dan siang." (HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815)


Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya. Bahkan ia ingin berbuat baik pada orang yang ia hasad. Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia.


Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.


WaLLAAHUa'lam

DO'A PERLINDUNGAN DARI FITNAH

Salah satu doa yang diajarkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِى إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ


Allahumma inni as-aluka fi'lal khoirat wa tarkal munkarat wa hubbal masakin. Wa idza arad-ta bi 'ibaadika fitnatan, faq-bidh-nii ilaika ghaira maf-tuun..


Ya Allah, aku memohon kepada-Mu taufiq untuk bisa mengamalkan semua kebaikan, meninggalkan semua kemungkaran, dan bisa mencintai orang miskin. Jika Engkau menghendaki untuk menimpakan ujian (fitnah) bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku, tanpa terkena fitnah itu.


Keutamaan Doa:


Doa ini diajarkan oleh Allah kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, agar dibaca ketika shalat. Ini menunjukkan nilai keistimewaan doa ini. Hingga Allah perintahkan Nabi-Nya untuk membacanya dalam shalat.


Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan mimpi beliau. Dalam mimpi itu, beliau bertemu Allah. Salah satu yang diajarkan,


يَا مُحَمَّدُ إِذَا صَلَّيْتَ فَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ…


Wahai Muhammad, jika kamu shalat, bacalah doa: Allahumma inni as-aluka fi'lal khoirat… dst.  (HR. Ahmad 22109, Turmudzi 3541).


Disamping itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus memerintahkan untuk mempelajari dan memahami kandungan makna doa ini. Dalam riwayat Turmudzi terdapat tambahan, pernyataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,


إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا


Kalimat ini benar, karena itu hafalkan dan pelajari kandungannya. (HR. Turmudzi 3543).


WaLLAAHUa'lam

KEKAYAAN SESUNGGUHNYA

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ


“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051). Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup).”


Ya Allah, Berikanlah Kepada Kami Kecukupan

Oleh karena itu, banyak berdo'alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do'a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah do'a:


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى


“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal 'afaf wal ghina" (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat 'afaf dan ghina) (HR. Muslim no. 2721)


An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, ""Afaf dan 'iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” 


Berarti dalam do'a ini kita meminta pada Allah [1] petunjuk (hidayah), [2] ketakwaan, [3] sifat menjauhkan diri dari yang haram, dan [4] kecukupan.


WaLLAAHUa'lam

HARAMNYA KATAK

Adapun dalil haramnya memakan katak adalah hadits,


أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ قَتْلِهَا.


“Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak." (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453.)


Al Khottobi rahimahullah mengatakan, "Dalil ini menunjukkan bahwa katak itu diharamkan untuk dimakan. Katak termasuk hewan yang tidak masuk dalam hewan air yang dihalalkan."


Bolehkah berobat dengan katak?


Penulis 'Aunul Ma'bud mengatakan, "Jika seseorang ingin berobat dengan katak tentu saja ia perlu membunuhnya. Jika diharamkan untuk membunuh, maka tentu saja dilarang pula untuk berobat dengannya. Katak itu terlarang, boleh jadi karena ia najis atau boleh jadi karena ia adalah hewan yang kotor."


WaLLAAHUa'lam