This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, May 16, 2020

Gus Baha': Jika Ingin Duniamu Tak Habis, Sedekahkan .

Khutbah Jumat tersingkat sepanjang sejarah adalah khutbah Syaikh Sudani Abdul Baqi Al-Mukasyifi. Waliyullah dari negeri seribu Darwis. Di dalam khutbahnya beliau hanya bertausiyah :

“Satu suapan di perut seorang yang kelaparan itu lebih baik daripada membangun 1000 masjid jami”.

Khotbah ini berkaitan erat dengan pesan-pesan pengajian Gus Baha'.

Dalam pengajian Gus Baha', Ngaji Kitab Al-Hikam, karya Ibnu Atha'illah As-Sakandari (60-64), disebutkan:

"Tidak akan subur cabang-cabang kehinaan, kecuali karena adanya bibit ketamakan".

"Paham ya kaidah dunia? Apa itu?"

"Jika ingin duniamu tidak habis, sedekahkan."

Tapi sekarang orang agak tidak mengikuti Nabi Muhammad SAW, ketika sedekah takut hartanya habis. Itu terbalik.

Hartamu itu hanya tiga: yang kamu makan jadi tinja, yang kaubelikan baju jadi usang/rusak, dan yang kau sedekahkan jadi abadi.

BISAKAH HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN COVID-19 INI?



Sampai saat ini bulan Mei 2020 masih belum tahu ujung dari penganan covid-19 ini akan berakhir, hal ini dikarenakan belum diketemukannya vaksin untuk menangkal virus ini.

Para ilmuwan, peneliti dan kalangan cendekiawan pandai sedang berusaha berikhtiar mengerahkan keilmuan mereka untuk menemukan formula pencegahan virus ini.

Di masyarakat, waktu dua bulan #dirumahsaja seharusnya sudah terbiasa untuk preventif beraktivitas dengan melaksanakan protokol kesehatan untuk hidup berdampingan dengan covid-19 ini. 

Kalaupun tidak bisa membendung arus pergerakan masyarakat agar #dirumahsaja karena alasan kebutuhan yang harus dipenuhi dan alasan lain, di sini sangat penting menggunakan cara lain, diperlukan PENYADARAN kepada masyarakat akan pentingnya MITIGASI baik Mitigasi Struktural maupun Mitigasi Non Struktural serta dilaksanakan secara massive baik vertikal maupun horizontal. 

Bisa iadi kekurang tahuan masyarakat dikarenakan minimnya informasi yang sampai kepada masyarakat. Oleh karena itu di media sosial bayar buzzer untuk bombardir informasi mengenai mitigasi ini, kemudian sampaikan juga melalui media apa saja yang tersedia secara massive dan sesering mungkin sambil dievaluasi bertahap efek dan dampak kesadarannya serta libatkan peran serta masyarakat untuk menyadarkan kepada orang terdekat dalam keluarga, saudara atau teman. 

Data holistik juga sangat penting diperlukan dan berperan sangat besar, karena kalau sudah ada datanya insya Allah lebih memudahkan untuk menentukan angle atau positioning yang paling tepat guna pengambilan keputusan.

Monday, April 27, 2020

Hikmah Belajar Memgantri

MENGAPA GURU DI NEGARA MAJU LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA ?
INILAH JAWABANNYA :

Seorang guru   di Australia pernah berkata :
“Kami tidak terlalu khawatir anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika”. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Saya tanya "kenapa begitu?”

Jawabnya :

1. Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb.

3. Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran Etika Moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak.

”Apakah pelajaran penting di balik budaya MENGANTRI?”

”Oh banyak sekali.."

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya jika ia mendapat antrian di tengah atau di belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal.

4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Dan masih banyak pelajaran lainnya, silakan anda temukan sendiri..

FAKTANYA di Indonesia..

Banyak orang tua justru mengajari anaknya dlm masalah mengantri dan menunggu giliran, Sebagai berikut :

1. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!” 

2. Ada orangtua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orangtua yang memakai taktik atau alasan agar dia atau anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu, dsb.

4. Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu ngajak berkelahi si penegur.

5. Dan berbagai kasus lain yang mungkin pernah anda alami.

Yuk kita ajari anak-anak kita, kerabat dan saudara untuk belajar etika sosial, khususnya ANTRI.

Budaya SUAP dan KORUPSI juga dimulai dari tidak mau belajar mengantri.....

Memetik Hikmah dari Wabah

Ada 15 Pesan yang akan ditinggalkan Covid-19 yang segera akan pergi :

1. Makanlah yang  menyehatkan lagi Halal. Jauhi makanan dan minuman Haram. Bukankah awalnya virus muncul setelah binatang binatang, liar, buas dan kelelawar dibantai dengan kasar atau dibakar hidup hidup lalu dimakan?.

2. Jangan lagi berpakaian  minim lagi ketat mengumbar aurat. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita berpakaian serba tertutup?, dan memang kan semua agama Samawi memuliakan pakaian yang rapih, bersih dan sopan.

3. Jaga ucapan, makanan, dan pendengaran. Bukankah masker Covid-19 telah mendidik kita  menutup mulut, lidah, telinga dan hidung?

4. Jangan lagi ada "pergaulan bebas" tanpa batas, selingkuh dan kumpul tanpa ikatan sah. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita untuk Sosial Distancing dan Physical Distancing, jaga jarak, bahkan bersalamanpun tidak bersentuhan?.

5. Jangan lagi malas ke rumah rumah Ibadah, Masjid dll. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita, bagaimana sedih dan stress nya kita tanpa ada tempat memohon, berdoa, tak bisa beribadah berjamah dan shalat di Masjid dalam suasan batin yang damai. Bagaimana sedihnya melepas saudara kita yang meninggal tanpa dishalatkan beramai ramai di Masjid?.

6. Jangan lagi pernah abaikan rumah, keluarga dengan terlalu sibuk di luar rumah. Bukankan Covid-19 telah mendidik kita untuk banyak tinggal di dalam rumah bersama keluarga ?

7. Jangan lagi ada rasa angkuh, sombong, dan merasa besar serba bisa.
Bukankah Virus Corona yang kecil dan tak tampak mata itu telah mendidik kita, bahwa tidak ada yang mampu mencegahnya jika Covid-19 ingin datang mampir?, dan Covid-19 tidak mengenal status sosial miskin atau kaya, tua atau muda pembesar atau rakyat biasa, semua dihinggapi jika abai.

8. Jangan lagi jauh dari Tuhan..Sang Maha Pencipta. Bukankan Covid-19 telah mendidik kita, dalam suasana Covid-19 aktif menyebar, semua orang ketakutan dan semua orang baru mendekat berdzikir dan berdoa, memohon perlindungan Tuhan Sang Kholiq?.

9. Jaga kebersihan dan ketertiban. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita agar selalu menjaga kebersihan badan, pakaian, barang dan lingkungan dengan rajin mandi, mencuci tangan, semprot antiseptik dan disinfektan, dan tidak sembarangan membuang sampah?

10. Jangan lagi abai dan masa bodoh pada anugerah Allah yang melimpah tak terbatas, seperti sinar matahari, tumbuhan yang menyehatkan dll. Perbanyaklah bersyukur atas  karunia gratis itu semua.

Bukankah Covid-19 telah mendidik kita agar rajin berjemur n OR di pagi hari, rajin minum jahe, sereh, kunyit, lemon dll agar daya tahan tubuh kita lebih kuat? . Tanam dan peliharalah tumbuhan yang memberi manfaat kesehatan.

11. Tingkatkan semangat kebersamaan, solidaritas, saling tolong. Jangan lagi semua dihitung berdasarkan kepentingan pribadi dan pamrih. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa kita tidak mampu mengurus diri sendiri seorang diri, kita butuh orang lain yang meski bukan saudara seperti dokter, dll. Kalau tidak ditolong orang,  bisa mati mendadak di jalanan saat  dihindari orang karena takut tertular.

12.  Berimanlah, beragamalah dengan baik. Percayalah yakinilah pada hal hal Ghaib yang tak tampak mata, seperti adanya Tuhan, ada Malaikat dan ada Jin. Jangan lagi menantang Tuhan dengan mengatakan, bagaimana percaya pada Tuhan sedang kita tidak bisa melihat Tuhan.

Bukankah Covid-19 mendidik kita bahwa meski Virus Corona tidak tampak. tapi ada, buktinya,  banyak yang terpapar oleh Covid-19 dan meninggal.

13. Selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan Akhirat dengan perbanyak  kebaikan, meningkatk kualitas n kuantitas ibadah dan amal sholeh. Hidup di Dunia ini hanya sementara saja, sewaktu waktu bisa mati.
Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa kematian bisa datang menjemput secara tiba tiba dan di mana saja.

14. Daya tahan tubuh akan kuat jika selalu berbaik sangka, sabar, syukur, ikhlas dan jujur.
Daya tahan tubuh akan melemah saat pikiran dikuasai dengki, fitnah, iri, hasut, ujaran kebencian dan cacian, seks bebas, seks sesama jenis, dan Narkoba.

Maka perkuatlah ketahanan tubuh dengan selalu berbaik sangka,  husnudzon, ikhlas dan tawalkal. Jangan lagi ada iri, caci, dengki, ujar kebencian, fitnah dan kekerasan, Narkoba dan penyimpangan seksual.

Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa Virus Corona mudah menyerang mereka yang daya tahan tubuhnya lemah?.

15. Perkuat Silaturrahim. Jaga harmoni sesama makhluk. Jangan lagi merusak alam. Jangan ekspoilitasi kekayaan bumi secara berlebihan. Bukankah Covid-19 telah mendidik kita bahwa, adanya  keseimbangan dan pengurangan polusi industri, asap mesin, keseimbangan semburan kimia beberapa minggu ini, telah membuat udara, awan dan alam ini lebih cerah dan bersih?

Sungguh pelajaran yang luar biasa dari Virus Corona.

Semoga  kita semua selalu dalam  lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari semua musibah dan penyakit. Dan wabah Covid-19 cepat berlalu. Aamiin YRA

Membantah perintah dan larangan orang tua

Mungkin karena kita merasa terganggu dengan larangan beliau, kita jadi merasa terkungkung. Tidak hanya terganggu, terkadang tanpa sadar kita pun membantah beliau.

Mungkin kita merasa sudah gede, sudah bisa menentukan jalan hidup sendiri, sudah merasa tidak perlu diatur-atur lagi, merasa berhak untuk bebas, jadi kita pandang sebelah mata nasihat beliau? Cuek begitu saja.

Padahal, kita tidak pernah tahu apa risiko terburuk dari perilaku kita. Beliau pernah muda, beliau sudah banyak makan asam garam kehidupan. Sedangkan kita sedang semangat-semangatnya membuat kesalahan.

Tidak masalah bila kita pengin bebas sebebas-bebasnya, pengin mengejar keinginan ini dan itu, pengin tampak lebih hebat dan keren, tapi ada hati yang harus kita jaga. Hati kedua orangtua, hatinya abi dan ummi.

Tidak lantas kita menjadi kuper dengan mematuhi nasihat beliau. Tidak lantas kita menjadi culun kalau kita mengikuti larangan beliau. Karena, dari lubuk hati terdalam, pasti beliau mengharapkan kehidupan yang terbaik untuk masa depan kita.

Sungguh beruntungnya kita yang sering mendapat wejangan dari bapak. Karena tidak semua anak mendapatkan keberuntungan seperti itu.

Mengajari Memahami

Jangan hanya mengajari siswa anda membaca, ajari untuk mempertanyakan apa yang mereka baca, apa yang mereka pelajari.

Ajari mereka untuk ragu. Ajari mereka untuk berpikir. Ajari mereka untuk membuat kesalahan dan belajar dari itu. Ajari mereka cara memahami sesuatu. Ajari mereka cara mengajar orang lain.

Chatting : Dosa Khalwat dengan lawan jenis

Banyak dari kita menganggap chatting dengan lawan jenis adalah hal yang biasa. Namun, ternyata dengan chatting bersama lawan jenis, tanpa disengaja kita sudah berkhalwat dan mendekati zina.⁣

Khalwat sendiri adalah keadaan dimana pasangan lawan jenis berdua-duaan padahal bukan mahram, dan tanpa ditemani oleh mahram lainnya.⁣

Ditambah lagi keadaan tersebut tidak berdasarkan keperluan syari atau penting baik di dunia maupun akhirat. Namun yang membedakan dengan pada saat kita bertatap muka, khalwat ini terjadi di media daring berupa aplikasi online.⁣

Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, mengenai khalwat, Rasulullah SAW bersabda:⁣
“Janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)⁣

Allah SWT pun berfirman dalam Quran Surah Al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS Al-Isra:32)⁣