This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, February 4, 2026

Bertaubatlah, Bukan Menceritakan Dosa Yang Dibuat

Buraidah bin Hashib Radhiyallahu 'anhu pernah bercerita,


Suatu ketika Maiz bin Malik datang menghadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,


يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي


"Ya Rasulullah, sucikan aku..."


Jawab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,


وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ


"Jangan lancang..., pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya."


Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan,


يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي


"Ya Rasulullah, sucikan aku..."


Jawab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,


وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ


"Jangan lancang..., pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya."


Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan yang sama dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama sampai 3 kali. Hingga di kedatangan yang keempat, baru Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima pengaduan Maiz. (HR. Muslim 1695 dan Nasai dalam al-Kubro 7125).


Hadis ini dengan tegas menunjukkan bahwa BUKAN syarat taubat harus mengaku. Karena inti dari taubat adalah memohon ampun kepada Allah karena menyesali perbuatannya. Bahkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyarankan sebisa mungkin dirahasiakan.


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ


"Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan." (HR. Malik dalam Al-Muwatha', no. 1508)


Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,


ويؤخذ من قضيته – أي : ماعز عندما أقرَّ بالزنى – أنه يستحب لمن وقع في مثل قضيته أن يتوب إلى الله تعالى ويستر نفسه ولا يذكر ذلك لأحدٍ . . .


Berdasarkan kasus ini – Sahabat Maiz yang mengaku berzina – menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang yang terjerumus ke dalam kasus zina untuk bertaubat kepada Allah – Ta'ala – dan menutupi kesalahan dirinya, dan tidak menceritakannya kepada siapapun.


Lalu beliau mengatakan,


وبهذا جزم الشافعي رضي الله عنه فقال : أُحبُّ لمن أصاب ذنباً فستره الله عليه أن يستره على نفسه ويتوب..


Dan ini juga yang ditegaskan as-Syafii Radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan,


Saya menyukai bagi orang yang pernah melakukan perbuata dosa, lalu dosa itu dirahasiakan Allah, agar dia merahasiakan dosanya dan serius bertaubat kepada Allah.


WaLLAAHUa'lam

Keutamaan Membaca Al Qur'an

Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : آلم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ


مَن قرَأَ حَرْفًا مِن كتابِ اللهِ، كتَبَ اللهُ له به حَسنةً، لا أقولُ: (الم) حرْفٌ، ولكنِ الحروفُ مُقطَّعةٌ: الألِفُ حرْفٌ، واللَّامُ حرْفٌ، والميمُ حرْفٌ.


"Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh yang semisal. Aku tidak katakan alif laam miim itu satu huruf. Namun alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf." (HR. Tirmidzi, no. 2910. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih)

ISRA' MI'RAJ

Dari Sa'id bin Al Musayyib, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


« حِينَ أُسْرِىَ بِى لَقِيتُ مُوسَى – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – ». فَنَعَتَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا رَجُلٌ – حَسِبْتُهُ قَالَ – مُضْطَرِبٌ رَجِلُ الرَّأْسِ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ – قَالَ – وَلَقِيتُ عِيسَى ». فَنَعَتَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا رَبْعَةٌ أَحْمَرُ كَأَنَّمَا خَرَجَ مِنْ دِيمَاسٍ ».


– يَعْنِى حَمَّامًا – قَالَ « وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – وَأَنَا أَشْبَهُ وَلَدِهِ بِهِ – قَالَ – فَأُتِيتُ بِإِنَاءَيْنِ فِى أَحَدِهِمَا لَبَنٌ وَفِى الآخَرِ خَمْرٌ فَقِيلَ لِى خُذْ أَيَّهُمَا شِئْتَ. فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ فَشَرِبْتُهُ . فَقَالَ هُدِيتَ الْفِطْرَةَ أَوْ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ ».


"Ketika aku diisra'kan (diperjalankan), aku bertemu Musa 'alaihis salam." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mensifatinya dengan mengatakan bahwa ia adalah pria yang tidak gemuk yang berambut antara lurus dan keriting serta terlihat begitu gagah.


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku pun bertemu 'Isa." Lalu beliau mensifati 'Isa bahwa ia adalah pria yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek dan kulitnya kemerahan seakan baru keluar dari kamar mandi.


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku pun bertemu Ibrahim –shalawatullah 'alaih– dan aku adalah keturunan Ibrahim yang paling mirip dengannya. Aku pun datang dengan membawa dua wadah. Salah satunya berisi susu dan yang lainnya khomr (arak). Lantas ada yang mengatakan padaku, "Ambillah mana yang engkau suka." Aku pun memilih susu, lalu aku meminumnya." Ia pun berkata, "Engkau benar-benar berada dalam fithrah. Seandainya yang kau ambil adalah khomr, tentu umatmu pun akan ikut sesat." (HR. Muslim no. 168).


Beberapa faedah dari hadits di atas:


1- Hadits di atas menjelaskan pertemuan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Musa', 'Isa dan Ibrahim ketika peristiwa Isra'.


2- Ciri-ciri ketiga Nabi tersebut telah dijelaskan dalam hadits di atas. Dan menentukan ciri-ciri seperti ini mesti dengan dalil karena kita tidaklah melihat mereka secara langsung sehingga membuktikannya harus dengan berita dari Allah dan Rasul-Nya, yaitu dilihat dari dalil Al Qur'an dan As Sunnah.


3- Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam paling mirip dengan Nabi Ibrahim dibanding keturunan beliau lainnya.


4- Susu lebih nikmat dari khomr (arak).


5- Bahayanya meminum khomr, yaitu bisa membuat sesat.


6- Peristiwa Isra' Mi'raj adalah peristiwa besar di mana ketika itu Rasul kita –shallallahu 'alaihi wa sallam– bertemu para nabi lainnya.


WaLLAAHUa'lam

MINTA IZIN BERZINA

Sahabat Abu Umamah radhiyallahu 'anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina."


Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: "Apa-apaan ini!"


Adapun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, "Mendekatlah."


Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam besabda kepadanya, "Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?"


Pemuda itu menjawab, "Tidak, sungguh demi Allah."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kembali bertanya, "Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?"


Pemuda itu menjawab, "Tidak, sungguh demi Allah."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menimpali penjelasan, "Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka."


Selanjutnya dia bertanya, “Apakah kamu suka bila perbuatan zina menimpa kesejahteraanmu?”


Pemuda itu menjawab, "Tidak, sungguh demi Allah."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menimpalinya, "Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudara mereka."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah kamu suka bila perbuatan zina menimpa saudara ayahmu (bibikmu)?”


Pemuda itu menjawab, "Tidak, sungguh demi Allah."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menimpali jawabannyannya, "Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudara ayah mereka."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kembali bertanya, "Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudaramu (bibikmu)?"


Pemuda itu menjawab, "Tidak, sungguh demi Allah."


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menimpali penjelasannya, "Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudara ibu mereka."


Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdo'a:


اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ


Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.


Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5: 256.)


WaLLAAHUa'lam

TAKDIR

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ


“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR.Ahmad, 3:117)


Hadits Jibril yang membahas tentang rukun iman Menyebutkan,


Perlindungan Hutang


“Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR.Muslim, no.8)


Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata, "Takdir itu tidak ada yang buruk. Yang buruk hanya pada yang ditakdirkan (al–maqdur, artinya manusia atau makhluk yang merasakan jelek). Takdir jika dilihat dari perbuatan Allah, semua takdir itu baik. serupa disebutkan dalam hadits, 'Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.' Jadi, takdir Allah itu selamanya tidak ada yang jelek. Karena ketetapan takdir itu ada karena rahmat dan hikmah. Kejelekan murni itu hanya muncul dari pelaku kejelekan.


Dalam salah satu doa iftitah yang terdapat dalam hadits 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu disebutkan,


وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ


“Kebaikan itu seluruhnya pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR.Muslim, no.771)


Mengapa Allah menakdirkan kejelekan?

Karena ada hikmah di balik itu seperti:

1. agar kebaikan dapat diketahui;

2. supaya manusia menyandarkan diri kepada Allah;

3. supaya manusia bertaubat kepada-Nya setelah ia berbuat dosa;

4. banyak meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan dengan berdzikir dan berdoa;

5. ada maslahat besar di balik kesulitan atau musibah yang menimpa.


Bisa Jadi yang Jelek itu Baik untuk Kita

Allah Ta'ala berfirman,


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


"Diwajibkan atas kamu tertawa, padahal menggetarkan itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi membenci kamu sesuatu, padahal dia sangat baik bagimu, dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal dia sangat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)


Allah yang lebih mengetahui hasil terbaik setiap perkara. Allah yang Mahatahu yang paling maslahat untuk urusan dunia dan akhirat kita. Sedangkan kita sendiri tidak mengetahui yang terbaik dan yang jelek untuk kita.


WaLLAAHUa'lam

SYAFA'AT RASULULLAAH SAW PELEBUR DOSA

Sebagaimana telah terdapat hadits mutawatir (dengan jalur periwayatan yang banyak) yang membicarakan tentang syafa'at. Seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih,


شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي


"Syafa'atku untuk pelaku dosa besar dari umatku." (HR. Abu Daud no. 4739, Tirmidzi no. 2435 dan Ahmad 3: 213)


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,


خُيِّرْت بَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ ؛ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْت الشَّفَاعَةَ لِأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْثَرُ ؛ أَتَرَوْنَهَا لِلْمُتَّقِينَ ؟ لَا . وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ المتلوثين الْخَطَّائِينَ


"Separuh dari umatku akan dipilih untuk masuk surga atau akan diberi syafa'at. Maka aku pun memilih agar umatku diberi syafa'at kareana itu tentu lebih umum dan lebih banyak. Apakah syafa'at itu hanya untuk orang bertakwa? Tidak. Syafa:at itu untuk mereka yang terjerumus dalam dosa (besar)." (HR. Tirmidzi no. 2441, Ibnu Majah no. 4317 dan Ahmad 2: 75.)


Dalam riwayat Tirmidiz, dari 'Auf bin Malik Al Asyja'iy, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


أَتَانِى آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّى فَخَيَّرَنِى بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِى الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِىَ لِمَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا


"Ada yang mendatangiku dari sisi Rabbku, aku disuruhh memilih antara memasukkan separuh dari umatku ke dalam surga atau memilih syafa'at. Aku pun memilih syafa'at dan ini akan diperoleh oleh orang yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun" (HR. Tirmidzi no. 2441.)


Mari perbanyak melakukan shalawat pada RasuluLLAAH SAW agar di Akhirat kelak kita dapat syafa'at beliau.


WaLLAAHUa'lam